Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
MEDIA sosial bagi orang-orang, khususnya remaja, memiliki sisi positif dan negatif. Dari sisi positif, media sosial bisa memungkinkan remaja berinteraksi sosial. Hal itu diungkapkan psikolog klinis, yang tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Nanda Rossalia.
"Dia dapat intimacy, bukan hanya di hubungan romantis tetapi di semua aspek hubungan siapapun misalnya dengan kolega, orangtua, keluarga besar," ujar Nanda dalam webinar Remaja dan Gawai, yang diselenggarakan Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB), dikutip Selasa (17/5).
Bila mengambil contoh Instagram, media sosial ini dikatakan bisa menjadi sarana mengekspresikan diri dan emosi para penggunanya. Hanya saja, Nanda mempertanyakan apakah sudah benar emosi yang disalurkan itu.
Baca juga: Soal LGBT, KPI Tegaskan Tidak Berwenang Awasi Konten Medsos
Mengutip pernyataan peneliti bidang psikologi Samantha Henderson, Michael Gilding menuturkan, pemanfaatan media sosial secara bijak yakni mampu mengendalikan diri dengan produktif dan positif, maka dia dapat menumbuhkan trust atau kepercayaan yang sangat berperan dalam kualitas hubungan sosial individu.
"Tetapi ini juga bisa berlaku sebaliknya. Trust itu terkikis karena media sosial. Ini menjadi isunya remaja," kata Nanda.
Di sisi lain, media sosial juga dapat memunculkan dampak negatif, salah satunya karena mengganggu keberfungsian manusia sebagai makhluk hidup dan sosial.
Menurut Nanda, salah satu kondisi yang dianggap memprihatinkan dalam hal ini yakni membuat renggangnya hubungan.
"Susah dibuat batasan. Sering cek status. Susah lepas dari media sosial sehingga kewajiban lain terabaikan," tutur Nanda.
Nanda mengungkapkan, sekitar 90% remaja menggunakan internet secara reguler dan 70% di antaranya pengguna aktif media sosial dan memiliki setidaknya satu profil di media sosial.
Sementara khusus untuk Instagram, survei yang dilakukan NapoleonCat pada 2020 menunjukkan, pengguna aktif di Indonesia mencapai 62.470.000, dengan 50% adalah perempuan berusia 18-24 tahun.
"Mungkin remaja banyak menggunakan itu untuk berinteraksi. Mau disalahin enggak bisa juga karena kondisi kita dua tahun terakhir seperti ini. Tetapi kita tetap harus mengajak mereka mengeksplorasi hubungan sosialnya," kata dia. (Ant/OL-1)
Agar aturan gawai dapat berjalan efektif, orangtua perlu menerapkan pola asuh yang masuk akal dan kolaboratif.
Orangtua perlu membedakan penggunaan gawai untuk kebutuhan produktif dan hiburan.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Remaja lebih mudah tergoda melakukan hal-hal yang menyenangkan atau sedang tren karena sistem limbik mereka lebih dominan
Rangkaian acara Silatnas dirancang komprehensif, mencakup simposium, peluncuran program strategis, hingga kegiatan sosial.
Komunikasi yang aman dan terbuka diyakini mampu membentengi remaja dari risiko negatif fenomena yang tengah viral.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved