Kamis 05 Mei 2022, 13:15 WIB

Hepatitis Akut, IDAI Minta Suspek Disolasi dalam Pengawasan Ketat

M Iqbal Al Machmudi | Humaniora
Hepatitis Akut, IDAI Minta Suspek Disolasi dalam Pengawasan Ketat

IDAI
Alur penapisan suspek hepatitis akut.

 

IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan rekomendasi terkait tata laksana penanganan pasien hepatitis akut yang hingga kini belum diketahui etiologinya.

Dalam rekomendasi yang ditandatangani Ketua IDAI Dr Piprim Basarah Yanuarsi tersebut disebutkan bahwa setiap rumah sakit melakukan perawatan pasien dalam ruang isolasi serta melakukan monitoring perjalanan klinis terutama kesadaran pasien.

Selanjutnya pengenalan gejala dan tanda hepatitis fulminan atau gagal hati akut, sehingga PT/INR dipantau secara berkala. Bila ada kecenderungan peningkatan nilai PT/INR, pasien perlu mendapatkan perawatan di ruang rawat intensif, karena dikhawatirkan akan berlanjut menjadi hepatitis fulminan.

"Pasien mengalami hepatitis fulminan bila didapatkan tanda koagulopati dengan INR > 2 yang tidak dapat dikoreksi dengan vitamin K (gangguan fase akut fungsi hepatoselular), atau terdapat penurunan kesadaran (ensefalopati) yang disertai koagulopati dengan INR > 1,5," dalam rekomendasi tersebut.

Selanjutnya Kortikosteroid hanya diberikan pada kecurigaan hepatitis autoimun. Jika dicurigai terkait MISC maka tata laksana mengikuti panduan IDAI sebelumnya.

Untuk tata laksana pasien hepatitis fulminan pasien dirawat di ruang rawat intensif untuk pemantauan secara ketat terus-menerus dan dirawat di ruang yang tenang untuk mengurangi peningkatan tekanan intrakranial mendadak.

"Kebutuhan total cairan direstriksi menjadi 85-90% rumatan, untuk mengurangi risiko edema serebri. Keadaan hipovolemia/dehidrasi harus segera dikoreksi. Kebutuhan kalori dapat dipenuhi dengan pemberian nutrisi melalui NGT," katanya.

Pemantauan pasien hepatitis fulminan mencangkup Saturasi oksigen, urine output tiap 6 jam, tanda vital tiap 6 jam, termasuk tekanan darah, observasi neurologis, pemeriksaan gula

darah, elektrolit dan PT/INR tiap 12 jam, pemeriksaan darah perifer lengkap tiap hari, dan kultur darah dan urin saat awal perawatan dan diulang sesuai perkembangan klinis.

Bila pasien mengalami hepoglikemia diatasi dengan pemberian dekstrosa intravena. Untuk obat pasien hepatitis fulmunian ada antibiotik sistemik dan antijamur oral profilaksis untuk menurunkan risiko infeksi bakteri dan infeksi jamur.

Pada neonatus dapat diberikan asiklovir intravena sampai infeksi HSV dapat disingkirkan. Kemudian N-asetilsistein (NAC) intravena dapat diberikan melalui infus berkala 100 mg/kg/24 jam sampai INR normal. (H-2)

Baca Juga

Antara/Jessica Helena Wuysang.

Kapan Cap Go Meh 2023, Ini Kumpulan Ucapan Selamatnya

👤Joan Imanuella Hanna Pangemanan 🕔Senin 30 Januari 2023, 21:27 WIB
 Berikut kumpulan ucapan yang dapat Anda...
123RF/jolopes.

Manfaat Retinol dan Skincare yang Cocok Dikombinasikan

👤Joan Imanuella Hanna Pangemanan 🕔Senin 30 Januari 2023, 21:22 WIB
Retinol terbuat dari vitamin A yang masih dalam bentuk...
Antara

KLHK Targetkan Penataan Batas Hutan Selesai 100% pada 2023

👤Atalya Puspa 🕔Senin 30 Januari 2023, 21:17 WIB
Kawasan hutan Indonesia memiliki luas 125 juta hektare, dengan panjang batas 373 ribu kilometer (km). Terdiri dari 284 ribu km batas luar...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya