Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Belum Ada Bukti Ampuh Kurikulum Merdeka Atasi Learning Loss

M. Iqbal Al Machmudi
04/4/2022 17:09
Belum Ada Bukti Ampuh Kurikulum Merdeka Atasi Learning Loss
Siswa belajar di kelas.(MI/Adi Kristiadi )

MAJELIS Nasional Pendidikan Katolik Doni Koesoema Albertus, M.Ed menilai kurikulum merdeka kurang tepat diterapkan di dalam situasi pandemi saat ini. Karena dari hasil evaluasi Kementerian isi materi muatan kurikulum ini terlalu luas. Selain itu belum ada bukti ampuh bahwa kurikulum ini mampu mengatasi learning loss.

"Pada uji coba kurikulum merdeka, awalnya adalah kurikulum prototipe yang diujicobakan secara terbatas di sekolah-sekolah penggerak sampai sekarang belum ada evaluasi menyeluruh tentang keampuhan kurikulum merdeka untuk mengatasi learning loss," kata Doni dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi X DPR RI di Senayan, Jakarta Pusat, Senin (5/4).

Baca jugaSeluruh Kepala Daerah Diinstruksikan Proteksi Produk Dalam Negeri

Doni menilai bahwa naskah kajian tahapan uji coba secara terbatas ini belum menyeluruh, bahkan kurikulum yang pembelajaran berbasis proyek dokumennya baru muncul setelah semester awal sehingga di sekolah-sekolah penggerak itu mereka belum memiliki panduan yang utuh dan lengkap untuk melaksanakan kurikulum merdeka.

"Bahkan hasil dari kurikulum merdeka ini tidak ada. Jadi terkait hasil implementasi kurikulum merdeka itu kita belum melihat sebenarnya kekurangan dan kelebihannya di mana," ujar Doni.

Doni menjelaskan jika kurikulum ini sudah ada hasil dari uji coba dan ada catatan perbaikan terhadap implementasi yang sebelumnya maka harus diperbaiki dan diujicobakan lagi secara terbatas selama 1 tahun.

Selain itu, Doni mengatakan tidak ada bukti ilmiah untuk membuktikan kurikulum merdeka itu efektif. "Klaim bahwa kurikulum merdeka efektif tidak meyakinkan dan tidak ada bukti-bukti ilmiah argumentatif yang diperoleh melalui metode penelitian yang meyakinkan," ungkapnya.

Terdapat 3 alasan bahwa kurikulum ini belum terbukti efektif. Pertama metode untuk membuktikan bahwa kurikulum merdeka itu efektif masih dipertanyakan karena dilakukan melalui survei persepsi dan studi etnografi. Efektivitas dari hasil belajar maka asesmen tentang hasil belajar yang berkelanjutan dari proses kurikulum merdeka ini belum dilakukan.

Kedua, bahwa sasaran-sasaran sebagian besar sekolah penggerak adalah sekolah-sekolah yang sudah bagus yang berakreditasi A dan B. Meski ada 1 sekolah berakreditasi C di Papua yang juga menjadi sekolah penggerak tetapi itu sekolah baru dengan kualifikasi sarana prasarananya bagus.

Beberapa sekolah yang dikutip dalam kajian akademik di Nusa tenggara Timur, Lampung, Kalimantan itu adalah sekolah-sekolah yang bagus bahkan muridnya itu di atas 1.000 artinya ini memang sekolah-sekolah unggulan.

Dan ketiga adalah bahwa pada proses pendampingan kurikulum merdeka ini cukup bagus karena Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi memiliki struktur dan instruktur ini dipilih dari orang-orang yang non kementerian kemudian diberi materi dan pendampingan intensif selama 9 bulan.

"Maka pertanyaannya adalah apakah yang membuat kurikulum merdeka itu bagus adalah dalam struktur kurikulum itu sendiri atau proses pelatihannya, dana apabila kurikulum ini bagus bukan dari konsep maka memaksakan semua sekolah tanpa pendampingan dan pelatihan yang sama maka akan jadi bencana bagi semua sekolah," pungkasnya. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya