Rabu 30 Maret 2022, 20:00 WIB

Obesitas Bukan Hanya Soal Kurang Nyaman Dipandang

Eni Kartinah | Humaniora
Obesitas Bukan Hanya Soal Kurang Nyaman Dipandang

Ist
Seminar kesehatan dengan tema Obesitas, Bukan Soal Tak Pantas.

 

MENURUT Kementerian Kesehatan (Kemenkes), satu dari tiga orang dewasa Indonesia mengalami obesitas, dan satu dari lima anak berusia 5 tahun hingga 12 tahun mengalami kelebihan berat badan dan obesitas.

Meskipun menimbulkan masalah kesehatan dan dampak ekonomi yang serius dalam sistem perawatan kesehatan, obesitas belum mendapat perhatian serius seperti gangguan kesehatan lainnya.

Obesitas diprediksi akan menelan biaya perawatan kesehatan lebih dari 1 triliun dollar pada tahun 2025, dengan jumlah penderita sebesar 800 juta orang di seluruh dunia.

Baca juga: Kemajuan Teknologi Bisa Bantu Penanganan Pasien Tuberkulosis

“Obesitas di Indonesia meningkat  dengan angka kenaikan yang mengkhawatirkan. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi obesitas di kalangan orang dewasa Indonesia meningkat hampir dua kali lipat dari 19,1% pada 2007 menjadi 35,4% pada 2018," kata Ketua Bidang Organisasi Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) dr. Dicky Levenus Tahapary, Sp.PD-KEMD, PhD, dalam keterangan pers, Rabu (30/3).  

"Kita benar-benar harus memperhatikan kecenderungan peningkatan obesitas ini,” ucap dr. Dicky.

Obesitas telah menjadi epidemi global. Stigma obesitas juga memberikan tantangan tersediri dalam penanganan obesitas.

Stigma terhadap berat badan mencakup perilaku dan sikap negatif yang ditujukan terhadap seseorang terkait dengan bobot tubuhnya.

"Stigma ini berbahaya dan kita harus memahami bahwa obesitas merupakan suatu penyakit dan tidak dapat ditangani hanya dengan mengurangi asupan makanan dan lebih banyak beraktivitas fisik," kata dr.Dicky.

World Health Organization (WHO) mendefinisikan kelebihan berat badan dan obesitas sebagai akumulasi lemak abnormal atau berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan.  

Praktisi kesehatan menggunakan BMI (body mass index) atau indeks masa tubuh (IMT)) sebagai metode skrining, dan diagnosis klinis obesitas didasarkan pada kelebihan lemak tubuh abnormal yang mengganggu kesehatan.

“Untuk orang Indonesia, BMI pada tingkatan 25 termasuk kategori berat badan berlebih, dan BMI lebih dari 27 dinyatakan sebagai obesitas.  Kita juga dapat memanfaatkan lingkar pinggang untuk menilai risiko seseorang terkena penyakit yang disebabkan oleh obesitas," paparnya.

"Ukuran pinggang lebih dari 80 sentimeter untuk wanita dan lebih dari 90 sentimeter untuk pria meningkatkan risiko penyakit yang disebabkan oleh obesitas,” lanjut dr. Dicky.

Untuk mencegah dan mengatasi obesitas, diet memegang peranan penting. Diet yang biasa dilakukan sebagai bagian usaha untuk menurunkan berat badan, biasanya berfokus pada pembatasan energi untuk mengurangi berat badan.

Namun, menurut dr. Cindiawaty J. Pudjiadi, MARS, MS. Sp.GK, “Mengendalikan berat badan tidak cukup dengan usaha mengurangi asupan makanan dan menambah aktivitas olahraga."

"Kita juga harus memperhatikan apa yang kita makan, bukan hanya seberapa banyak yang kita makan. Mengurangi kalori yang efektif bukan hanya dengan sedikit makan dengan tujuan menekan asupan kalori serendah mungkin,” jelasnya 

Dokter Anita Suryani, Sp.KO menambahkan, “Aktif secara fisik dipastikan dapat mencegah kelebihan berat badan dan obesitas. Namun, bentuk latihan tertentu mungkin memiliki dampak yang lebih besar pada komposisi tubuh. Yang dianjurkan adalah intensitas sedang dan sekitar 40 menit.”

“Obesitas tidak hanya masalah estetika, tetapi juga berkenaan dengan masalah kesehatan yang serius. Orang yang hidup dengan obesitas memiliki risiko lebih besar terhadap penyakit kronis lainnya,” dr. Dicky menegaskan.

Untuk mengelola obesitas dan mencegah risiko komplikasi yang yang disebabkannya, pengobatan obesitas harus ditujukan untuk mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai dengan anjuran kesehatan.

Ini akan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan dan menurunkan risiko komplikasi yang berhubungan dengan obesitas.

Namun, ‘makan lebih sedikit, bergerak lebih banyak’ mengandung pemahaman bahwa penurunan berat badan hanya tentang diet dan olahraga, sementara faktor pemicu obesitas lainnya diabaikan.

Meskipun latihan fisik memainkan peran penting dalam pola hidup sehat secara keseluruhan, itu bukan satu-satunya faktor dalam menangani obesitas.

Anda mungkin perlu melakukan konsultasi dengan tim profesional kesehatan — termasuk ahli diet, psikolog atau psikiater, atau tim profesional perawatan kesehatan lain— untuk membantu memahami dan membuat perubahan dalam pola makan dan aktivitas sehari-hari.
 
Obesitas secara global menunjukkan prevelansi yang tinggi dan tren meningkat. Pendekatan baru yang terkoordinasi dan berbasis data dilakukan sebagai bagian usaha pencegahan dan manajemen untuk mengurangi dampak pada individu, masyarakat, sistem kesehatan dan ekonomi.

Novo Nordisk memikiki komitmen jangka panjang terhadap obesitas untuk meningkatkan standar kehidupan orang-orang pengidap obesitas dengan mempertimbangkan bagaimana dunia melihat, mencegah, dan menangani obesitas - dan dengan menjadikan obesitas sebagai prioritas penanganan kesehatan.

Salah satu fokus Novo Nordisk adalah mendorong perubahan dalam permasalahan obesitas (driving change in obesity) di Indonesia dan dunia, melalui  pendekatan holistik yang kami miliki untuk mengobati obesitas.
 
Sebagai bagian dari program kampanye anti-obesitas, Novo Nordisk Indonesia memperbarui TanyaGendis, chatbot WhatsApp yang memberikan informasi tentang diabetes dan obesitas.

Setiap orang harus memiliki kesadaran untuk bertindak segera, mulai dengan langkah pertama dan sederhana seperti melakukan cek BMI.

Chatbot TanyaGendis kini telah diperbarui dengan menambah kalkulator BMI sehingga semua orang dapat dengan mudah melakukan cek BMI melalui WhatsApp dan mengetahui apakah mereka memiliki kondisi kelebihan berat badan atau obesitas.

Dengan melakukan cek BMI, mereka diharapkan dapat segera berkonsultasi dengan tenaga profesional untuk mencegah risiko yang mungkin terjadi di masa depan.

Gendis adalah singkatan dari 'ceGah & kENDali DIabetes dan obesitaS’. TanyaGendis dapat diakses melalui WhatsApp di 0812 8000 5858 dan memungkinkan masyarakat untuk dapat medeteksi risiko diabetes dan status BMI individu secara dini.

TanyaGendis ini merupakan salah satu implementasi dari nota kesepahaman antar pemerintah (G2G MoU) antara Indonesia dan Denmark dalam kerja sama kesehatan.

“Obesitas adalah kondisi yang kompleks, yang memiliki dampak sosial dan psikologis yang serius. Obesitas ditemui di semua usia dan kelompok sosial-ekonomi dan dipandang sebagai ancaman baik di negara maju maupun berkembang," kata dr.Dicky.

Usaha harus ditingkatkan, baik nasional maupun global, untuk mencegah kelebihan berat badan dan obesitas pada anak-anak dan keluarga mereka untuk mengurangi kesenjangan kesehatan dan ekonomi, memperhatikan siklus generasi dan meningkatkan kualitas kehidupan.

"Kita perlu menjadikan obesitas sebagai prioritas kesehatan nasional. Ini memerlukan keterlibatan semua pihak,” tutur dr. Dicky. (Nik/OL-09) 

Baca Juga

Dok. MI

Bantu Akademisi Masuk ke Jurnal Ilmiah Internasional, Ini Keunggulan Intenational Journal Labs

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 27 November 2022, 12:02 WIB
Lembaga yang berdiri di Cirebon, Jawa Barat, sejak 2016 itu melibatkan SDM berupa reviewer dan editor yang kompeten di...
Dok. Kemenang

Jadi Bagian SMIIC, Indonesia Ikut Susun Standar Halal Global 

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 27 November 2022, 11:41 WIB
“Keberadaan Indonesia di SMIIC ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih dalam penetapan standar bagi masyarakat global, salah...
Ist

Lomba Debat Remaja Bisa Ciptakan Pemimpin Berintegritas

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 27 November 2022, 09:19 WIB
Kaum muda ini akan menjadi penentu arah pembangunan Indonesia. Kekuatan demografis ini menjadi sangat krusial bila tidak di lakukan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya