Selasa 29 Maret 2022, 14:21 WIB

Kokeshi Doll Sebagai Simbol Konvensi Minamata, Apa Maknanya?

Atalya Puspa | Humaniora
Kokeshi Doll Sebagai Simbol Konvensi Minamata, Apa Maknanya?

Ist/KLHK
Penyerahan jabatan Presiden COP dari Rosa Vivien Ratnawati kepada Claudia Dumitru dari Rumania dengan menyerahkan boneka Kokeshi.

 

CONFERENCE of The Parties (COP) Konvensi Minamata tentang merkuri telah berlangsung sejak 2013 silam.

Adapun, boneka Kokeshi menjadi lambang dari konvensi tersebut. Lantas, apa sebenarnya makna dari boneka Kokeshi pada Konvensi Minamata?

Boneka Kokeshi dalam Konvensi Minamata memiliki dua ukuran. Yang satu berukuran besar dan satu lagi berukuran kecil.

Berbeda dengan boneka kokeshi yang banyak ditemui, yang memiliki mata, rambut dan tampilan yang lengkap, boneka kokeshi yang menjadi simbol Konvensi Minamata justru sengaja dibuat tidak sempurna.

Dikatakan Sekretaris Eksekutif Sekretariat Minamata Monika Monika Stankeiwicz, Boneka Minamata, terbuat dari kayu reklamasi dari Teluk Minamata, mewakili orang dewasa dan anak-anak yang menderita penyakit Minamata.

Baca juga: Rumania Bakal Pimpin COP-5

"Boneka-boneka itu tidak memiliki wajah, tidak memiliki telinga, mata atau hidung, yang dimaksudkan untuk melambangkan bahwa pekerjaan itu belum selesai, dan masih banyak yang harus dilakukan di bawah Konvensi Minamata," kata Monika saat ditemui di Bali Nusa Dua Convention Center beberapa waktu lalu.

Boneka tersebut merupakan simbol dari salah satu kasus keracunan merkuri yang sangat fenomenal yang bernama Minamata Diseases yang terjadi pada tahun 1950-an di Jepang.

Kasus ini terjadi akibat pembuangan limbah yang mengandung methylmercury dari industri pupuk Chisso Chemical Corporation di prefektur Minamata. Akibatnya banyak anak dan perempuan yang terkena dampak dari kecerobohan manusia tersebut.

Tanda-tanda keracunan mulai terlihat pada tahun 1949 ketika tangkapan ikan mulai menurun drastis, yang ditandai dengan punahnya jenis karang yang menjadi habitat ikan andalan nelayan.

Minamata Disease adalah penyakit sistem syaraf dengan gejala utama meliputi gangguan sensorik, ataksia, penyempitan konsentris bidang visual, dan gangguan pendengaran.

Jika seorang ibu terpapar methylmercury selama masa kehamilan, terdapat kemungkinan janinnya akan ikut terpapar.

Lantas, pada 2001, United Nations Environmental Programme (UNEP) melakukan kajian global tentang merkuri dan senyawa merkuri terkait dengan aspek dampak kesehatan, sumber, transportasi dan peredaran serta perdagangan merkuri, juga teknologi pencegahan dan pengendalian merkuri.

Berdasarkan hasil kajian tersebut UNEP menyimpulkan bahwa diperlukan tindakan/upaya internasional guna menurunkan resiko dampak merkuri terhadap kesehatan manusia dan keselamatan lingkungan hidup dari lepasan merkuri dan senyawa merkuri. (Ata/OL-09)

Baca Juga

 MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE

Tim USK dan Unsam Temukan Dampak Buruk Sedimen Tsunami Bagi Pertanian Aceh

👤Amiruddin Abdullah R 🕔Selasa 09 Agustus 2022, 09:05 WIB
 PERISTIWA tsunami Aceh 18  tahun lalu, masih menyisakan banyak fenomen alam yang belum terungkap dalam ranah...
DOK Pribadi.

Manfaatkan Ribuan Tanaman Obat Indonesia dengan Optimal

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 09 Agustus 2022, 08:36 WIB
Hingga kini produk jamu lebih dari 11.000, OHT 81 produk, dan fitofarmaka 26...
dok.Ant

Damri Operasikan Bus Kuning di kawasan UI untuk Mahasiswa Gratis

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 09 Agustus 2022, 08:30 WIB
DAMRI dan Universitas Indonesia (UI) berkolaborasi menghadirkan sarana transportasi Bus Kuning di kawasan kampus UI yang beroperasi mulai 1...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya