Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
DI usia dewasa lumrah semakin sulit mendapatkan tidur yang berkualitas, namun proses biologis yang mendasar hal itu masih kurang dipahami.
Penelitian menunjukkan kurang tidur dapat berisiko meningkatkan penyakit seperti hipertensi, serangan jantung, diabetes, depresi, dan penumpukan plak otak yang terkait dengan Alzheimer.
"Lebih dari separuh orang berusia 65 dan lebih tua mengeluh tentang kualitas tidur," kata profesor Universitas Stanford Luis de Lecea kepada AFP, dikutip Selasa (8/3).
Baca juga: Kurang Tidur Dapat Menurunkan Kemampuan Kognitif
Tim ilmuwan asal Amerika Serikat (AS), termasuk De Lecea, kini, telah mengidentifikasi bagaimana sirkuit otak yang terlibat dalam mengatur tidur-terjaga menurun dari waktu ke waktu pada sejumlah tikus. Studi itu diterbitkan di jurnal Science.
Untuk studi baru tersebut, De Lecea bersama rekannya memutuskan menyelidiki hipokretin.
Hipokretin adalah zat kimia utama yang dihasilkan sekelompok kecil neuron di hipotalamus, bagian otak yang terletak di antara mata dan telinga. Dari miliaran neuron di otak, hanya sekitar 50.000 yang menghasilkan hipokretin.
Pada 1998, De Lecea dan ilmuwan lain menemukan bahwa hipokretin mengirimkan sinyal yang memainkan peran penting agar seseorang tetap terjaga.
Oleh karena banyak spesies mengalami proses tidur yang terpotong-potong seiring bertambah usia, maka dihipotesiskan mekanisme yang sama juga berlaku di seluruh mamalia.
Penelitian sebelumnya menunjukkan rendahnya hipokretin menyebabkan narkolepsi pada manusia, anjing, dan tikus.
Tim peneliti De Lecea memilih tikus muda (usia tiga hingga lima bulan) dan tua (usia 18 hingga 22 bulan). Mereka menggunakan cahaya yang dibawa oleh serat untuk merangsang neuron tertentu dan merekam hasilnya menggunakan teknik pencitraan.
Tim menemukan tikus yang lebih tua telah kehilangan sekitar 38% hipokretin dibandingkan dengan tikus yang lebih muda.
Mereka juga menemukan hipokretin yang tersisa pada tikus tua lebih aktif dan mudah dipicu sehingga membuat hewan tersebut lebih rentan untuk bangun. Hal ini mungkin karena kerusakan saluran kalium yang terjadi dari waktu ke waktu.
"Neuron cenderung lebih aktif dan menyala lebih banyak. Jika neuron menyala lebih banyak, Anda lebih sering bangun," kata De Lecea.
Laura Jacobson dan Daniel Hoyer dari Institut Ilmu Saraf dan Kesehatan Mental Florey Australia dalam komentar di artikel terkait mengatakan mengidentifikasi jalur spesifik yang bertanggung jawab atas penurunan kualitas tidur dapat menghasilkan obat yang lebih baik.
Obat-obatan yang menargetkan saluran tertentu masih memerlukan uji klinis. Namun, De Lecea mengatakan obat retigabin, yang saat ini digunakan untuk mengobati epilepsi dan menargetkan jalur serupa, bisa menjanjikan. (Ant/OL-1)
Pola gangguan kesehatan ini bahkan konsisten muncul pada hari ketiga Ramadan selama dua tahun terakhir.
Kepala BSKDN Kemendagri Yusharto Huntoyungo menegaskan capaian dan penghargaan inovasi daerah tidak boleh menjadi titik akhir dalam berinovasi.
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Buku berjudul Mika & Maka: Berani ke Dokter karya kolaborasi Karen Nijsen dan Maria Ardelia menghadirkan kisah yang disampaikan secara hangat dan mudah dipahami agar anak takut ke dokter
Siapa sangka, golongan darah ternyata ikut berkaitan dengan risiko serangan jantung. Ini bukan mitos kesehatan.
Dengan teknologi bedah robotik, standar perawatan bedah tidak lagi dibatasi oleh jarak geografis, melainkan ditentukan oleh kualitas keahlian dan presisi teknologi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved