Sabtu 08 Januari 2022, 00:10 WIB

Romo Benny: Penguatan Toleransi dan Moderasi Beragama Prioritas 2022

mediaindonesia.com | Humaniora
Romo Benny: Penguatan Toleransi dan Moderasi Beragama Prioritas 2022

ANTARA
Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo

 

STAF Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo (Romo Benny) mengatakan pada 2022 penguatan toleransi dan moderasi beragama harus menjadi prioritas yang terus digalakkan agar tidak lagi terjadi praktik intoleransi.

Penguatan itu dapat dilakukan dengan cara membuka musyawarah mufakat, mencari titik temu, dan memberikan pemahaman agama secara utuh kepada masyarakat demi mewujudkan perdamaian antarsesama umat di negeri ini.

"Ini membantu seseorang untuk mencintai, menghargai, dan menerima perbedaan sebagai rahmat, termasuk memberikan pemahaman bahwa perbedaan keyakinan tidak membuat jarak, namun justru mempersatukan untuk saling menghargai meskipun berbeda," katanya yang juga tokoh rohaniawan agama Katolik di Jakarta, seperti dikutip Antara, Jumat (7/1).

Ia mengakui persoalan intoleransi kerap terjadi dalam lingkungan masyarakat majemuk karena dipengaruhi kurangnya pemahaman beragama seseorang yang tidak memaknai agama secara utuh.

"Intoleransi persoalan agama dari masing-masing individu yang memahami agama tidak secara utuh, tetapi harus dilihat bahwa ini adalah fakta yang terjadi di berbagai tempat di seluruh belahan dunia," jelasnya.

Ia mengungkapkan keprihatinannya adanya praktik-praktik intoleransi yang salah satunya perenggutan hak untuk beribadah. Ia berharap pada 2022 bisa menjadi awal baru sehingga nilai toleransi sebagai nilai kemanusiaan yang universal dapat tergugah.

"Saya berharap pada 2022 toleransi dapat menjadi hal yang memengaruhi cara berpikir, bertindak, dan bernalar sehingga kita dapat beragama sesuai jaminan konstitusi di mana semua orang berhak menjalankan agama, dan saya berharap pelarangan (beribadah) itu tidak terjadi lagi," ujarnya.

Romo Benny mengungkapkan pentingnya melakukan pencegahan tindak intoleransi dalam rangka mengembalikan karakter luhur bangsa yang hidup rukun berdampingan dalam bingkai toleransi.

"Saya rasa yang pertama, yaitu perlu ditegakkan regulasi di mana hukum menjadi supremasi. Jadi kalau ada kasus intoleransi yang tidak sesuai dengan UUD 45 dan Pancasila itu harus diproses dan ditindak," ujarnya.


Baca juga: Sowan Ketum PBNU, Menag: Rawat Kerukunan, Bangun Kemitraan Ormas Keagamaan


Kedua, lanjutnya, penyelesaian melalui musyawarah mufakat, melalui dialog, saling pengertian, saling memahami, yang mendorong kesadaran untuk kembali menjadi saudara sebangsa dan setanah air.

"Dengan kesadaran tersebut, akan terbangun kehidupan yang guyub, rukun serta masyarakat dapat meluapkan aksi bela rasa yang lemah dan tersisih, termasuk menyadari nilai kemanusiaannya," ungkap pria yang aktif di berbagai dialog antarumat beragama dan kajian-kajian lainnya di Indonesia ini.

Alumnus Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana Malang, Jawa Timur, ini memandang penting moderasi beragama sebagai jembatan nilai-nilai toleransi. Ia menyebut moderasi beragama sudah bukan hal baru bagi bangsa ini.

"Moderasi itu sudah tidak asing bagi bangsa Indonesia, dari moderasi akan menghasilkan umat yang toleran terhadap perbedaan. Moderasi menjadi bagian ekspresi dari cara berbicara bangsa Indonesia untuk hidup berdampingan," jelas salah satu pendiri Pergerakan Manusia Merdeka bersama (almarhum) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Romo Benny menyampaikan perlunya program dan upaya yang simultan untuk memaksimalkan program pemerintah terkait moderasi beragama guna membangun budaya toleransi di tengah masyarakat. Menurutnya, strategi percepatan moderasi beragama dapat dimulai dari lingkup pendidikan.

"Melalui pendidikan. Ini dimulai dari pendidikan keluarga yang mana kita mengenalkan bahwa perbedaan itu indah, dan dikenalkan bahwa Indonesia itu terdiri atas berbagai suku, ras, dan agama. Lalu juga melalui pendidikan di sekolah," ujarnya.

Kedua, memaksimalkan potensi dunia digital, yang menurutnya, dapat dilakukan dengan cara memperbanyak konten moderasi dan praktik kehidupan beragama serta konten dalam konteks budaya dan Pancasila.

"Sehingga (melalui konten digital), banyak memperkenalkan indahnya keragaman, kerja sama, dan kolaborasi meskipun berbeda bisa hidup rukun. Banyak praktik positif di berbagai daerah Indonesia yang bisa diangkat," katanya.

Dia menyampaikan pentingnya dukungan dan peran para tokoh agama maupun tokoh masyarakat untuk ikut bergerak mendorong percepatan moderasi beragama di Indonesia untuk mewujudkan 2022 sebagai tahun toleransi dan moderasi beragama.

"Peran tokoh sangat penting, mereka harus bisa mengaktualisasikan nilai-nilai kemajemukan dan keragaman menjadi hartitus bangsa, artinya dalam khotbahnya harus memberikan kesejukan, komitmen kepada keutuhan hidup berbangsa dan bernegara. Maka tokoh agama menjadi kekuatan besar untuk mempromosikan moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari," kata Romo Benny. (Ant/S-2)

 

Baca Juga

Twitter @andienaisyah

MK Didesak Segera Putus Uji Materi Aturan Ganja Medis

👤Anggi Tondi Martaon 🕔Selasa 28 Juni 2022, 18:45 WIB
Ia menambahakan, uji materi sudah berlangsung lama. Pengajuan disampaikan pada November...
Ist

BPET MUI: Khilafah tidak Perlu Diwacanakan Lagi di Indonesia

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 28 Juni 2022, 18:40 WIB
Kekhilafahan itu sudah berhenti di era khulafaur rasyidin, setelahnya muncul berbagai dinasti hingga era Usmani (Turki) yang selesai pada...
MGN

Ma'ruf Amin: MUI akan Bahas Persoalan Nikah Beda Agama

👤Kautsar Widya Prabowo 🕔Selasa 28 Juni 2022, 18:35 WIB
Sebelumnya, PN Surabaya mengesahkan pasutri beda agama. Bahkan, pasutri berinisial BA dan EDS itu diberikan izin untuk mencatatkan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya