Kamis 09 Desember 2021, 14:41 WIB

1.665 Kasus DBD Ditemukan di Kota Bekasi

Rudi Kurniawansyah | Humaniora
1.665 Kasus DBD Ditemukan di Kota Bekasi

Ilustrasi
DBD

 

SEDIKITNYA 1.665 total kasus demam berdarah dengue (DBD) ditemukan di Kota Bekasi hingga per Oktober 2021. Karena itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi terus melakukan berbagai upaya guna menanggulangi kasus DBD tersebut.

Kabag Humas Pemkot Bekasi Sajekti Rubiyah mengatakan berdasarkan data yang dimiliki oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi, tercatat per Oktober 2021, total kasus DBD di Kota Bekasi adalah sebesar 1.665 kasus. Puncak naiknya penderita DBD terjadi di bulan Juni 2021 sebanyak 471 kasus. Setelah itu kasus terus menurun, tercatat ada 56 kasus di bulan Oktober.

Baca juga: Jaringan Internasional Narkoba Bermodus Pemesanan Barang Impor

"Dalam menanggulangi DBD, Pemerintah Kota Bekasi melalui Dinas Kesehatan Kota Bekasi sudah melakukan berbagai upaya pencegahan DBD dan upaya pengendalian vektor DBD," kata Sajekti, Kamis (9/12).

Ia menjelaskan, untuk mencegah DBD, upaya yang dilakukan antara lain diseminasi informasi terkait DBD yang melibatkan puskesmas-puskesmas di Kota Bekasi. Puskesmas diingatkan agar bersinergi dengan pemangku wilayah dalam mengaktifkan kembali PSN 3M Plus, melalui pembentukan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik dan pembentukan Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) DBD tingkat kelurahan. Dinkes juga melakukan sinkronisasi data DBD Puskesmas bagi petugas DBD puskesmas se-Kota Bekasi. 

Selain itu, Dinkes mengalokasikan larvasida 500 liter dan insektisida 9.000 botol ke puskesmas se-Kota Bekasi untuk mengendalikan vektor nyamuk. 

"Upaya pengendalian vektor DBD, di masa pandemi Covid-19 ini, dilakukan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan 5M. Pengendalian dilakukan dengan memperkuat pelibatan keluarga dalam pengendalian fisik dan biologi," jelasnya.

Ia mengungkapkan, pengendalian secara fisik adalah pengendalian untuk mengurangi atau menghindari gigitan nyamuk atau gangguan nyamuk dilakukan dengan pemasangan kawat kasa (kawat nyamuk) pada semua lubang yang ada di rumah, seperi lubang angin, jendela, pintu, dan lainnya.

Ia menambahkan, pengendalian secara biologi menggunakan organisme bersifat predator, parasitik atau patogenik. Contohnya ikan nila, ikan mujair, ikan cupang, yang mangsanya adalah larva nyamuk. Selain itu, tanaman yang menimbulkan bau yang tidak disukai oleh nyamuk Aedes aegypti seperti akar wangi. 

"Masyarakat diharapkan dapat menanam tanaman pengusir nyamuk di halaman rumah untuk menghindari berkembangbiaknya vektor di sekitar rumah," ungkapnya. 

Sementara pengendalian metode kimia, menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dapat ditempuh dengan dua teknik yaitu pengasapan (fogging) yang berguna untuk mengurangi penularan sampai batas waktu tertentu, dan pemberantasan larva nyamuk dengan zat kimia (abate).

"Di Kota Bekasi, apabila ditemukan kasus dan ada penularan di wilayah tertentu maka pengasapan akan dilakukan namun harus oleh petugas kesehatan," pungkasnya. (OL-6)

Baca Juga

ANTARA/NOVA WAHYUDI

Pensiun Dini PLTU Batu Bara akan Mencegah Kematian Dini 14,5 Juta Jiwa

👤Fetry Wuryasti 🕔Rabu 25 Mei 2022, 13:04 WIB
Untuk Indonesia sendiri diperkirakan sebanyak 110 ribu kematian dini dapat dihindari dengan penghentian operasi PLTU batu...
MI/HO

IDI Siap Berkolaborasi dengan Berbagai Lini untuk Mendukung Pemulihan Kesehatan Dunia

👤Basuki Eka Purnama 🕔Rabu 25 Mei 2022, 12:32 WIB
IDI selalu siap menjadi mitra strategis pemerintah RI dan dunia dalam kemajuan layanan kesehatan di Indonesia serta membantu kerja sama...
MI/Atalya Puspa

Indonesia Siap Tawarkan Solusi Resiliensi Berkelanjutan di GPDRR 2022

👤Atalya Puspa 🕔Rabu 25 Mei 2022, 11:53 WIB
Indonesia memang merupakan negara rawan bencana. Sepanjang 2022 saja, telah terjadi sebanyak 1.613 bencana di...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya