Kamis 30 September 2021, 16:55 WIB

Kebun Raya Bogor di Mata Para Ilmuwan

Zubaedah Hanum | Humaniora
Kebun Raya Bogor di Mata Para Ilmuwan

Antara
Ilustrasi

 

RENCANA wisata malam dengan lampu sorot warna-warni di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, menuai polemik. Selama ini, Kebun Raya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Kota Bogor. Sejak dibangun pada 1817 silam, kebun raya ini menjadi aset bersama, bahkan dunia yang harus dijaga.

Ketua Departemen Arsitektur Lanskap, IPB University, Akhmad Arifin Hadi mengatakan, bagi para ilmuwan tempat ini menjadi surganya riset di masa lampau, saat ini dan masa mendatang, dari sisi keilmuan.

“Kebun Raya Bogor sangat penting keberadaannya. Karena di sanalah dilakukan banyak penelitian, baik oleh dosen maupun mahasiswa. Selain itu, Kebun Raya Bogor juga dijadikan tempat praktikum dan fieldtrip untuk mata kuliah Dasar-Dasar Arsitektur Lanskap,” ujarnya dilansir dari laman IPB University.

Kebun Raya Bogor dikenal sebagai kebun raya terbesar dan tertua di Asia Tenggara yang letaknya unik, yaitu berada di tengah kota. Karena keunikan lokasinya ini, bagi akademisi dari Fakultas Ekologi Manusia IPB University Melani Abdulkadir-Sunito, Kebun Raya Bogor seperti oase di tengah perkotaan yang menjadi ruang bernapas.

“Di dalam situasi perubahan global hingga lokal yang kian cepat, Kebun Botani memberi ruang untuk bernapas. Menjadi tempat untuk belajar mengubah mindset, juga pendidikan mengenai pelestarian lingkungan (from visitors to supporters),” katanya.

Dari perspektif keilmuan Arsitektur Lanskap, Siti Nurisyah mengatakan, KRB adalah bagian dari Kota Bogor, sebagai ikon, kawasan kebanggaan warga kota, daya tarik wisata serta menjadi bagian dari ruang terbuka hijau (RTH) kota yang penting dalam mengendalikan kualitas lingkungan kota.

"KRB juga sebagai suatu kawasan konservasi yang sudah berumur lebih dari 200 tahun,” katanya.

Prof Hadi Sukadi Alikodra dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) menegaskan, kebun raya ini merupakan pusat pembangunan Kota Bogor yang harus dijaga dengan menggunakan  pendekatan triple helix, yakni akademisi, bisnis, dan pemerintah. "Untuk membangun ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy)," tegasnya.

Prof Eko Baroto Walujo dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, Kebun Raya Bogor juga telah menjadi sumber inspirasi dari banyak kebijakan.

“Dari sebelum kemerdekaan, sesudah kemerdekaan, hingga saat ini, Kebun Raya Bogor lah yang melahirkan semua itu. Coba lihat di sekitar KRB, lahir Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian, termasuk IPB University dan Universitas Indonesia. Fungsi pendidikan ada, fungsi riset dan inovasinya juga ada. Hampir semua sumber-sumber daya yang kita kenali saat ini, sumber pangan, sumber obat, dulunya berasal dari Kebun Raya Bogor,” katanya. (H-2)

Baca Juga

MI/BARY

Jus Jambu Biji Ampuh Naikkan Trombosit Saat DBD, Fakta Atau Mitos?

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 30 Juni 2022, 19:25 WIB
Setidaknya, saat pasien meminum jus jambu, dia telah berusaha memenuhi kebutuhan cairan yang kurang di dalam...
Ist

PR Unggul Memperkuat Perusahaan Baik Internal Maupun Eksternal

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 30 Juni 2022, 18:45 WIB
Di tengah perubahan besar yang terjadi tersebut, peran public relations (PR) menjadi sangat penting untuk mendukung komunikasi yang...
AFP/Denis Charlet

Berinteraksi di Ruang Digital Perlu Etika

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 30 Juni 2022, 17:13 WIB
Dengan keragaman karakter, budaya, negara, serta unsur lain tentu bermedia digital memerlukan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya