Senin 20 September 2021, 13:35 WIB

Mengukur Naiknya Permukaan Air Laut DKI Jakarta

M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora
Mengukur Naiknya Permukaan Air Laut DKI Jakarta

ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
Dua orang penghuni berbincang di jendela rumahnya di perkampungan nelayan Muara Angke, Jakarta Utara, Sabtu (31/7/2021).

 

Prediksi tenggelamnya DKI Jakarta tentunya menjadi hal yang mengerikan. Namun bagaimana narasi itu tercipta dan bagaimana mengukur permukaan air laut yang terus naik sebagai salah satu faktor penyebab tenggelamnya Ibu Kota.

Pakar Paleoclimate di Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sri Yudawati Cahyarini menjelaskan pengetahuan perubahan muka laut tentu perlu memperhatikan ruang dan waktu seperti masa lampau, masa kini, dan masa depan (prediksi).

Selain itu, untuk menghitung naiknya permukaan air laut diperlukan juga pemahaman perubahan muka laut dalam skala ruang lokal, regional atau global yang tentunya akan berbeda-beda faktor penyebab maupun mekanisme perubahan muka laut tersebut.

Baca juga: Motivasi Anak Terdampak Covid-19, Mensos: Kalian Tidak Boleh Putus Asa

Penyebab naiknya permukaan air laut dalam skala global seperti mencairnya es di Kutub Selatan dan mencairnya es di darat yakni Gunung Himalaya yang juga berpengaruh pada naiknya permukaan laut.

Selain itu faktor regional dengan memanfaatkan air dalam tanah secara terus menerus, terjadi land subsidence atau penurunan muka tanah. DKI Jakarta mengalami penurunan muka tanah 0,25 cm/ tahun. Kawasan Tanjung Priok menjadi paling terdampak dari penurunan ini.

"Perubahan muka laut bisa disebabkan oleh pengaruh pemanasan global, aktivitas tektonik dalam skala waktu geologi," kata Sri saat dihubungi, Senin (20/9).

Sedangkan untuk skala waktu lebih detil bisa dikarenakan oleh pengaruh pasang surut yang juga bisa mengubah permukaan laut lokal suatu wilayah, land subsidence karena adanya ekspoitasi air tanah juga dapat mengubah permukaan laut.

Sri menjelaskan untuk mengetahui atau mengukur perubahan muka laut bisa dengan melakukan monitoring pengukuran pasang surut, dengan menggunakan data satelit alimetri, dan berdasarkan data model.

"Untuk mengukur perubahan muka laut masa lampau bisa dengan analisis karang microatol, analisis sedimen mangrove dan sedimen laut dalam, pendekatan geomorfologi, analisis mikropaleontologi, dan dengan pendekatan geokimia," jelasnya. (H-3)

Baca Juga

Antara

Waspada Varian Baru, Pemerintah Diminta Perketat Pintu Masuk Wisatawan Asing

👤Ant 🕔Sabtu 27 November 2021, 23:57 WIB
Berkaca pada varian Delta, Indonesia terlambat mencegah dan mengantisipasi sehingga terjadi lonjakan kasus...
DOK YAKULT

30 Tahun Yakult Berkontribusi untuk Indonesia

👤Ihfa Firdaus 🕔Sabtu 27 November 2021, 21:48 WIB
Saat ini, penjualan Yakult mencapai 7 juta botol per hari. Jumlah ini masih akan bertambah karena baru 3,5% masyarakat Indonesia yang...
Dok. KLHK

Kaum Muda Bergerak Pulihkan Lingkungan Hidup

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Sabtu 27 November 2021, 21:00 WIB
Diharapkan KLHK melibatkan kaum muda di dalam proses-proses pembuatan kebijakan yang berkaitan langsung dengan kaum...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya