Rabu 08 September 2021, 08:42 WIB

Pakar UGM: Varian Mu Tidak Lebih Ganas Dibanding Delta

Agus Utantoro | Humaniora
Pakar UGM: Varian Mu Tidak Lebih Ganas Dibanding Delta

AFP
Ilustrasi virus corona atau Covid-19

 

KETUA Pokja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada dr. Gunadi, Sp.BA., Ph.D., mengatakan varian Mu atau B1621 sebagai penyebab covid-19 tidak lebih ganas dari varian Delta.

Karena itu, ungkap dia dalam keterangan tertulisnya, Rabu (8/9) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menyebutkan varian Mu sebagai kategori variant of Interest (VoI) atau yang perlu mendapat perhatian. Berbeda dengan penyikapan WHO terhadap varian Delta.

"Varian Delta oleh WHO masuk kategori Variant of Concern atau VoC atau yang perlu diwaspadai," ujarnya.

Meskipun varian baru ini belum terdeteksi di Indonesia, menurutnya perlu diantisipsi. Sebab varian Mu diketahui menyebabkan penurunan kadar antibodi baik karena infeksi ataupun vaksinasi. "Hasil riset awal menunjukkan varian Mu menyebabkan penurunan kadar antibodi netralisasi baik karena infeksi alamiah maupun vaksinasi, serupa dengan varian Beta. Namun diperlukan penelitian lebih lanjut, kata Gunadi Ph.d.

Hingga saat ini, jelas Gunadi Phd, varian Mu ini belum terdeteksi di Indonesia. Tapi perlu pengetataan pintu masuk ke Indonesia agar tidak
sampai menyebar luas seperti varian Delta sebelumnya.

Untuk tingkat keganasannya, Gunadi berkeyakinan varian ini tidak seganas varian Delta. "Karena Delta kategori VoC levelnya tentunya di atas Mu yang kategori VoI," paparnya.

Ia menjelaskan, virus covid-19 terus bermutasi dengan memunculkan varian-varian baru yang memiliki tingkat keganasan dan keparahan yang berbeda. Namun, bagi mereka yang sudah pernah terpapar covid-19 atau yang sudah mendapat vaksin sudah memiliki kekebalan alami.

"Kekebalan alami yg ditimbulkan oleh infeksi alamiah pasti ada, tapi seberapa besar bisa melindungi dari risiko terinfeksi varian lain diperlukan riset lebih lanjut," tegasnya.

Kekebalan alami yang sudah terinfeksi walau belum vaksin menurutnya, sama halnya mengukur mengukur efektivitas vaksin terhadap suatu varian dengan melakukan riset terlebih dahulu. Namun antisipasi tetap diperlukan dengan melaksankan protokol kesehatan secara ketat dan percepatan program vaksinasi.

Meski demikian, bagi mereka yang sudah vaksin menurtnya mampu meminimalkan tingkat keparahan apabila terpapar virus covid-19 dnegan berbagai varian yang ada. "Vaksin mencegah keparahan," katanya. (OL-13)

Baca Juga: Antisipasi Varian Baru Covid-19 Mu, Kemenhub Siapkan Kebijakan ...

 

Baca Juga

MI/ Susanto

Eijkman: Varian Baru Dikhawatirkan Pengaruhi Efektivitas Vaksin

👤Faustinus Nua 🕔Selasa 30 November 2021, 15:50 WIB
vaksin Merah-Putih yang dikembangkan Eijkman memasuki tahap uji pra-klinis di...
Dok.TNE

TNE Jembatani Pendidikan Indonesia dan Inggris

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 30 November 2021, 15:50 WIB
Indonesia adalah salah satu negara prioritas yang mendapat dukungan dari Pemerintah Inggris untuk mengembangkan kerja sama...
AFP

Strategi Badan POM Percepat Kemandirian Vaksin Merah Putih

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Selasa 30 November 2021, 15:45 WIB
Kemandirian dalam produksi vaksinasi dan obat yang harus dibangun salah satunya melalui penelitian dan menjadikannya sebagai satu sentral...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya