Selasa 07 September 2021, 18:15 WIB

Proyek Bahan Bakar Fosil Raih Dana Lebih Besar daripada Udara Bersih

Mediaindonesia.com | Humaniora
Proyek Bahan Bakar Fosil Raih Dana Lebih Besar daripada Udara Bersih

Antara/Aditya Pradana Putra.
Ilustrasi.

 

POLUSI udara memangkas harapan hidup manusia hingga bertahun-tahun. Namun proyek bahan bakar fosil mendapatkan lebih banyak dana daripada inisiatif udara bersih.

Survei tahunan oleh Clean Air Fund, Selasa (7/9), yang melihat besaran uang yang diberikan untuk memerangi polusi udara oleh pemerintah donor dan organisasi filantropi, menemukan bahwa daftar prioritas pendanaan kualitas udara termasuk rendah. Kurang dari 1% pengeluaran pembangunan dan di bawah 0,1% hibah filantropi di seluruh dunia digunakan untuk udara yang lebih bersih.

"Itu tidak sesuai dengan skala masalah," kata direktur eksekutif dana Jane Burston kepada AFP mengutip data terbaru itu. Baik Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut polusi udara sebagai salah satu masalah lingkungan paling mematikan di dunia yang bertanggung jawab atas jutaan kematian.

Pembakaran bahan bakar fosil secara langsung bertanggung jawab atas dua pertiga polusi udara. Penduduk negara berpenghasilan rendah dan menengah paling terpapar.

Namun survei menemukan pengeluaran resmi untuk memperpanjang proyek bahan bakar fosil pada 2019 dan 2020 melebihi bantuan untuk udara bersih lebih dari seperlima. Juga ditemukan bahwa negara-negara di Asia menerima lebih dari 80% bantuan pembangunan untuk memerangi polusi udara antara 2015 dan 2020.

Tiongkok ialah penerima terbesar, menerima 45% dari dana tersebut ketika pemerintah menyatakan perang melawan polusi setelah kualitas udara mencapai titik terendah yang berbahaya pada 2013. Upaya itu telah mengurangi polusi partikulat hampir sepertiga, menurut Indeks Kualitas Hidup Udara (AQLI) tahunan yang diterbitkan oleh Institut Kebijakan Energi Universitas Chicago pekan lalu, yang mengutipnya sebagai model kemajuan.

Baca juga: Polusi Udara Perberat Gangguan Mental

Namun Burston mengatakan lebih banyak bantuan difokuskan pada tempat-tempat tertentu mungkin krisis masih dapat dihindari. Laporan tersebut memohon pengeluaran hibah untuk bidang-bidang seperti pengumpulan data di negara-negara yang memiliki kekurangan dana penelitian serta kampanye kesadaran.

"Distribusi yang lebih adil sepertinya pendanaan akan lebih banyak ke negara-negara yang mengalami urbanisasi dengan cepat," katanya, "Terutama di Afrika yang punya polusi udara meningkat secara besar-besaran." Saat ini, catatan laporan itu, hanya lima persen bantuan yang dikerahkan di seluruh benua itu. Kematian akibat polusi udara di Afrika sementara itu telah meningkat 31% dalam 10 tahun.

PBB menyalahkan polusi udara atas setidaknya tujuh juta kematian setiap tahun dan sembilan dari 10 orang menghirup udara yang menurut pedoman WHO tidak sehat. AQLI mencantumkan India sebagai negara paling tercemar dengan sepertiga penduduknya berisiko mengalami penurunan harapan hidup hingga sembilan tahun. Diperkirakan bahwa meningkatkan kualitas udara di seluruh dunia untuk memenuhi pedoman WHO akan memperpanjang rentang hidup rata-rata sebesar 2,2 tahun. (AFP/OL-14)

Baca Juga

AFP/Sergio

Guru Madrasah Dikenalkan Pembelajaran Berteknologi Metaverse

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Kamis 19 Mei 2022, 16:30 WIB
MENTERI Agama Yaqut Cholil Qoumas menilai pentingnya pemanfaatan teknologi, termasuk metaverse di dunia pendidikan karena membuat ruang...
DOK IPB.

Riset Aksi Holosentrik untuk Pembangunan Pertanian

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 19 Mei 2022, 16:16 WIB
Dalam penerapan riset aksi holosentrik, peneliti tidak lagi mengambil jarak dengan petani, melainkan bersama petani untuk melakukan...
Antara

Kasus Ayah Perkosa Anak Disabilitas di Sumsel Harus Terus Dikawal

👤Dinda Shabrina 🕔Kamis 19 Mei 2022, 16:05 WIB
KASUS pemerkosaan yang dilakukan oleh ayah kepada anak kandungnya yang merupakan penyandang disabilitas hingga mengalami kehamilan di...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya