Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
DI masa pandemi covid-19, rumah bukan menjadi tempat yang aman bagi anak. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Save the Children pada September 2020, tingkat kekerasan pada anak yang terjadi di rumah meningkat 45%. Adapun, 1 dari 8 orang tua mengatakan bahwa telah terjadi kekerasan di rumahnya.
Melihat hal tersebut, Program Manager Yayasan Lentera Anak Nahla Jovial Nisa mengungkapkan bahwa pemerintah harus melakukan upaya pencegahan untuk memberikan perlindungan pada anak di masa pandemi covid-19.
"Bagaimana seharusnya? pemerintah harus mengaktifkan perlindungan anak terpadu berbasis basyarakat. Ini adalah inisiatif masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan untuk memberikan perlindungan pada anak," kata Nahla dalam webinar bertajuk Perlindungan terhadap Anak yang Terdampak Covid-19, Kamis (2/9).
Selain itu, anak-anak juga berpotensi kehilangan haknya karena adanya pandemi covid-19. Ia menuturkan, masih dari data yang dihimpun Save the Children, 8 dari 10 anak mengatakan tidak dapat mengakses bahan belajar yang memadai saat melakukan pembelajaran jarak jauh.
Baca juga : Herbamuno+ Bantu Jaga Imun Tenaga Kesehatan RS TNI AD
Selain pada pendidikan, anak-anak juga mengalami penurunan pada akses kesehatan dan gizi. Adapun 52% rumah tangga mengakui kesulita memperoleh bahan pangan, 38% kesulitan mengakses kesehatan, dan 7% kesehatan mental orang tua menurun selama pandemi covid-19.
Belum lagi isu mengenai banyaknya anak yang menjadi yatim piatu akibat orang tuanya meninggal saat terinfeksi covid-19. Utuk itu, Nahla menekankan pentingnya pendataan pada anak-anak yang terdampak covid-19.
"Rekomendasi dari kami agar pemerintah meningkatkan tracing dan pendataan anak yang menjadi korban orang tuanya meninggal karena covid-19. Data pula janda-janda yang akhirnya harus mengurus anak sendirian karena covid-19," beber dia.
"Aktifkan juga PATBM, Puspaga, dan satgas covid-19 untuk mengutamakan penanganan pada anak," pungkas Nahla. (OL-2)
PEMERINTAH Provinsi Sumatra Utara mencatat lonjakan kasus kekerasan terhadap anak yang didominasi oleh kekerasan seksual sepanjang tahun 2025.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan pentingnya membangun ekosistem hukum yang kuat serta edukasi yang memadai untuk melindungi anak-anak.
kasus kekerasan terhadap siswa ini mencederai rasa kemanusiaan.
Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri.
MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi menyampaikan keprihatinan mendalam atas maraknya kasus penculikan anak yang terjadi belakangan ini.
Psikolog anak, Mira Damayanti Amir, menekankan bahwa darurat kekerasan tengah terjadi di Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved