Selasa 20 Juli 2021, 05:09 WIB

Pakar Virus Sebut Menjauhi Kerumuman Harus Jadi yang Utama di Antara 3M

Basuki Eka Purnama | Humaniora
Pakar Virus Sebut Menjauhi Kerumuman Harus Jadi yang Utama di Antara 3M

ANTARA/Yulius Satria Wijaya
Kerumunan pedagang dan pembeli yang tidak menjalankan protokol kesehatan di Pasar Hewan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

 

AHLI virus Universitas Udayana Prof Dr drh I Gusti Ngurah Kade Mahardika menyarankan pemerintah mengubah kampanye dengan menempatkan imbauan menjauhi kerumunan di urutan pertama 3M guna mencegah penularan covid-19.

Mahardika, saat dihubungi dari Jakarta, Senin (19/7), mengatakan seharusnya yang menjadi urutan pertama dalam gerakan 3M yang sudah dikenal masyarakat dengan memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak itu justru menjauhi kerumunan.

Menurut dia, kerumunan adalah penyebab utama dari terjadinya lonjakan kasus covid-19 yang tinggi di Indonesia.

Baca juga: Kakorlantas Sebut Terjadi Penurunan Mobilitas 40 Persen Jelang Idul Adha

Mahardika mengatakan, di dalam suatu kerumunan, masih dapat dijumpai orang yang tidak menggunakan masker. Kalaupun memakai masker, masih ada masyarakat yang mencuri kesempatan untuk membukanya pada tiap kesempatan.

"Apalagi orang tidak disiplin semua, ada yang tidak memakai masker. Nah jadi ini yang membuat penanggulangannya sulit. Terlebih ada
orang yang anti-covid-19 dan percaya dengan teori konspirasi covid-19," kata dia menjelaskan alasan mengapa urutan nomor satu kampanye 3M seharusnya menghindari kerumunan.

Karenanya, walaupun gerakan 3M terbilang masih efektif untuk dilakukan, Mahardika mengatakan sebaiknya pemerintah mengganti urutan tersebut menjadi menjauhi kerumunan, memakai masker, dan mencuci tangan.

Ia juga mengatakan sebaiknya pemerintah satu suara untuk menyosialisasikan gerakan 3M tersebut tanpa ada penambahan lagi, seperti
aturan memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi (5M).

Mahardika menjelaskan bila melihat dari sisi psikologis, perbedaan gerakan 3M dan 5M inilah yang membuat masyarakat menjadi bingung.

"Pesan utama mesti di rumah yaitu kita menghindari kerumunan, mungkin tidak perlu menyebut 5M, 7M, itu menurut saya. Secara psikologi, hal itu
membuat masyarakat bingung," katanya.

Selain mengubah urutan gerakan 3M tersebut, menurut Mahardika, dalam menekan mobilitas sosial, pemerintah antara lain dapat mengadakan pembinaan masyarakat yang dilakukan setiap Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 di berbagai daerah, dan menonaktifkan akun-akun di
media sosial yang menyebarkan hoaks. (Ant/OL-1)

Baca Juga

ISTIMEWA

BMKG: Gempa Pacitan M5,0 Berdekatan dengan Sumber Gempa Besar 1937

👤 Ferdian Ananda Majni 🕔Rabu 28 Juli 2021, 13:05 WIB
Hingga pagi ini belum ada laporan terkait dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh kejadian gempa tersebut dan hasil pemodelan menunjukkan...
ANTARA/ ISTIMEWA

Pascagempa Pacitan, Risma Minta Pemda Perhatikan Prediksi Bencana BMKG

👤HUMANIORA 🕔Rabu 28 Juli 2021, 11:55 WIB
Menurut hasil penelitian, Kabupaten Pacitan salah satu kawasan di garis pantai selatan Pulau Jawa yang berpotensi gempa dan...
ANTARA/ Istimewa

Kemenkes Cegah Penularan Dini 18 Juta Kasus Hepatitis

👤HUMANIORA 🕔Rabu 28 Juli 2021, 11:20 WIB
Hingga 2021, layanan pengobatan DAA telah tersedia di 40 rumah sakit yang tersebar di 18 provinsi dan secara bertahap akan diperluas...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Membangun Konektivitas Segitiga Emas Jawa Bagian Tengah

 Untuk membangkitkan pertumbuhan perekonomian di Jawa bagian tengah, Tol Joglosemar menjadi salah satu solusi

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya