Kamis 15 Juli 2021, 13:47 WIB

Imunoterapi Harapan Baru Pasien Kanker Kepala dan Leher

Mediaindonesia.com | Humaniora
Imunoterapi Harapan Baru Pasien Kanker Kepala dan Leher

DOK MI.
Ilustrasi.

 

TIDAK banyak orang yang familiar dan mengenal dengan kanker kepala dan leher. Tumor ganas ini berkembang di dalam atau sekitar tenggorokan, laring (kotak suara), serta hidung, amandel, sinus, dan mulut. Pada penyakit ini, sel kanker akan bermula pada sinus paranasal dan rongga hidung dan mulut. Begitu juga kelenjar ludah, pangkal tenggorokan, serta rongga di belakang hidung dan mulut yang menghubungkan keduanya ke kerongkongan.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dengan subspesialis dalam Hematologi, dr Andhika Rachman SpPD KHOM, mengingatkan pentingnya mewaspadai kanker kepala dan leher. Soalnya, banyak pasien yang tidak menyadari ketika dirinya menderita penyakit tersebut. "Tidak ada asap kalau tidak ada api. Kalau ada perubahan biologis pasti ada gejala yang muncul. Misal keluhan penurunan berat badan drastis tidak disadari, kurang nafsu makan, hingga ada mimisan, itu salah satu gejala," papar dr Andhika dalam keterangan resmi, Kamis (15/7).

Beberapa gejala harus diwaspadai, seperti muncul mimisan. Nasofaring dan orofaring mimisan atau hidung terasa penuh, keluhan sulit bernafas, hingga tidur mengorok. Ciri kanker leher bisa muncul di lidah, semisal rongga mulut ada luka yang sukar sembuh atau sariawan di lidah. Gejala lain, misalnya ditemukan benjolan atau karena merasakan telinga dan hidung seperti penuh. Ternyata setelah ditelusuri dari keluhan pasien tersebut ditemukan semacam benjolan. "Tercium bau busuk dari mulut dan hidung harus dikaitkan gejala lain. Sakit kepala terus, hidung terasa penuh, ada bengkak di pipi di daerah sinus, hingga wajah asimetrik," papar dr Andhika.

Ia menuturkan bahwa kebanyakan pasien kanker leher dan kepala diketahui ketika sudah dalam kondisi stadium lanjut, yakni IIIB dan IV. "Kebanyakan orang  datang ketika dengan keluhan baru kontrol. Karenanya diketahui setelah stadium lanjut," ungkapnya. Perlu diwaspadai bahwa kanker kepala dan leher banyak terdiagnosa pada usia di atas 50 tahun. Ini punya risiko hingga dua kali lipat terjadi kepada pria. "Masih ada hubungan dengan merokok. Laki-laki karena faktor mayoritas risiko rokok tembakau bisa 4-10 kali lipat risiko muncul. Lainnya risiko alkohol serta infeksi karena penyakit menular dan virus HPV," jelas dr. Andhika.

Di dunia, pada 2020 diagnosa baru kasus kanker yang menyerang bibir dan rongga mulut, orofaring, laring, hipofaring, nasofaring, dan kanker kelenjar ludah mencapai 932.000 orang. Berdasarkan data Globocan 2020 menyebut bahwa lima tahun terakhir kasus kejadian kanker nasofaring mencapai 54.670 kasus, dari 100.000 orang ada 20 orang yang terkena. Untuk kasus baru mencapai 19.943 dengan kematian 13.399 orang.

Dr. Andhika memaparkan, semakin cepat terdeteksi akan semakin besar pula angka kesembuhan dan survival rate. Misal untuk penderita stadium awal memiliki tingkat kesembuhan 85,5%. Sedangkan penderita kanker yang sudah ada di daerah regional kelenjarnya, angka survival 66,8%. Sedangkan yang sudah metastasis akan turun menjadi 40%. Untuk diketahui, metastasis merupakan penyebaran sel kanker ke bagian organ atau jaringan tubuh lain melalui aliran darah atau pembuluh getah bening. Dalam kondisi tertentu, ketika lokasi sel kanker jauh dan tidak mungkin dilakukan operasi pengangkatan, dapat dilakukan dengan imunoterapi.  

Sebagai informasi, imunoterapi adalah pengobatan melawan kanker dengan memanfaatkan sistem kekebalan tubuh seseorang untuk membunuh sel kanker. Imunoterapi memiliki tujuan sama dengan terapi target yang dikembangkan sebelumnya. Hanya perbedaannya selain langsung menyasar sel kanker, imunoterapi juga membuat sel kekebalan tubuh penderita lebih aktif melawan kanker. "Imunoterapi mampu menghambat waktu kekambuhan penderita kanker menjadi lebih lama. Memiliki efektifitas cukup baik dan bagus. Efek samping tidak berat kemoterapi. Efek samping juga ringan dan pasien bisa beraktivitas dengan baik," ungkap dr Andhika.

Imunoterapi bekerja melalui pasukan sel-T yang memberikan perlawanan terhadap sel kanker. "Ada mekanisme sel kanker tidak dikenali sel imunitas dan bikin kanker bertambah. Tapi dengan menambah obat imunitas akan memperbaiki sistem imun dan membuat efektif sel T," ungkapnya. Dr. Andhika menyebut imunoterapi merupakan jawaban bagi pengobatan kanker dengan keampuhan maksimal tetapi memiliki efek samping minimal. Imunoterapi diberikan sebagai kombinasi akhir untuk perawatan kanker dan menjadi harapan hidup pasien kanker untuk hidup lebih panjang. Saat ini ia sudah menggunakannya selain untuk pasien kanker kepala dan leher juga kanker payudara, kanker pankreas, dan kanker empedu. (O-14)

Baca Juga

ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

BMKG Catat Terdapat Peningkatan Aktivitas Gempa pada November

👤Atalya Puspa 🕔Sabtu 04 Desember 2021, 12:00 WIB
Gempa signifikan dengan magnitudo di atas 5,0 (M>5,0) terjadi sebanyak 11 kali atau mengalami penurunan jika dibandingkan dengan bulan...
ANTARA/ARIF FIRMANSYAH

Pemerintah Komitmen Pertajam Isu Strategis Disabilitas dan Lansia

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Sabtu 04 Desember 2021, 11:35 WIB
Individu penyandang disabilitas di Indonesia menghadapi risiko finansial yang cukup signifikan dan selain itu menjadi tua di Indonesia juga...
Dok. Instagram Sanggar Senja Cibinong

Sanggar Senja Perjuangkan Pendidikan dan Identitas Anak-Anak Jalanan

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Sabtu 04 Desember 2021, 11:16 WIB
Yayasan Sanggar Senja Cibinong adalah tempat berkumpulnya anak-anak jalanan yang terbuang dan kaum marjinal yang dibantu dalam bentuk...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya