Kamis 10 Juni 2021, 06:15 WIB

Asah Nalar di Kancah Debat

Nike Amelia Sari | Humaniora
Asah Nalar di Kancah Debat

Dok. Pribadi
Nurul Husna.

 

BERANGKAT dari gerakan hati untuk menjadi siswa berprestasi demi membanggakan orangtua, Nurul Husna rajin berkompetisi. Penulisan esai dan debat ialah sejumlah kancah yang ia masuki.

Seiring berjalannya waktu, ia mendapati, tidak hanya prestasi, tapi juga gairah dalam berdebat. Bagi calon mahasiswa baru Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung (FTI ITB), ini, kegiatan debat telah membawa beberapa perubahan positif pada dirinya. Nah, apa saja seluk-beluk dan manfaat keterampilan berdebat bisa disimak dari obrolan Muda dengan Nurul pada Jumat (28/5) via telepon. Berikut petikannya.

 

Saat SMA, kamu termasuk pelajar yang aktif dalam berbagai kompetisi, terutama debat. Apa motivasi kamu? 

Datang dari motivasi diri sendiri. Sekolah aku jauh dari rumah sehingga aku harus menyewa tempat tinggal di sekitaran sekolah. Lewat kondisi ini, aku berpikir bahwa aku tidak bisa hanya menjadi siswa ‘biasa-biasa’ saja. Aku harus berprestasi karena orangtua sudah menyekolahkan aku jauh-jauh dari mereka, tentunya ada alasan dan keinginan baik yang mereka inginkan. Jadi, aku tidak mau mengecewakan mereka. Lalu, aku tingkatkan kemampuan di beberapa bidang, termasuk bidang debat. Seiring waktu berjalan, aku menemukan passion aku di bidang ini.

 

Apa yang membuat kamu tertarik dengan debat? 

Awalnya aku tidak tertarik. Aku lebih tertarik untuk melanjutkan matematika karena di SMP aku ikut OSN (Olimpiade Sains Nasional) matematika. Tapi, dulu ketika ada promosi (kegiatan) ekstrakurikuler dari kakak-kakak kelas, mereka memberi informasi, di ekskul debat, nantinya kita akan have fun bersama.

Kata-kata itu membuat aku tertarik karena dulu aku berpikir di sekolah kita sudah belajar, mungkin lebih baik di ekskul lebih santai. Setelah beberapa lama aku di ekskul debat, ternyata ekskul ini meski santai, tidak ‘main-main’ seperti kebanyakannya. Kami bincang-bincang berbagai topik yang tentunya juga menambah wawasan.

 

Bagaimana perasaan kamu saat ikut lomba debat pertama kali?

Pada lomba aku yang pertama, waktu maksimal untuk setiap orang berbicara sekitar 7 menit. Ketika itu aku hanya menghabiskan waktu 2 menit karena aku tidak tahu lagi apa yang harus dibicarakan. Hal ini membuat aku sangat down kala itu.

 

Mungkin masih demam panggung ya. Biasanya berapa lama persiapan untuk lomba?

Selama H minus tiga bulan atau empat bulan sebelum lomba, ekskul debat sekolahku sudah intensif persiapannya, seperti karantina dan juga mendatangkan pelatih dari luar sekolah. Kemudian, H minus dua minggu sebelum lomba akan diadakan pemilihan siswa yang akan diutus untuk lomba tersebut.

 

Apa lewat ekskul saja kamu mendalami keterampilan berdebat?

Aku bergabung juga di forum debat Sumbar (Sumatra Barat). Forum debat Sumbar bekerja sama dengan sekolah sehingga pelatih aku di forum tersebut merupakan pelatih debat aku yang ada di sekolah juga.

 

Biasanya, seperti apa pembagian peran setiap anggota kalau dalam lomba debat berkelompok?

Satu tim terdiri dari tiga anggota. Sebelum lomba kami diberikan waktu persiapan sekitar 15 menit. lima menit pertama kami gunakan untuk membaca arah lomba tersebut. Lima menit selanjutnya, setiap anggota akan berpikir masing-masing. Pada 5 menit terakhir, di sini kami membagi kapan masing-masing anggota mengeluarkan opininya.

 

Apa saja manfaat yang kamu dapat selama berkecimpung di bidang debat?

Banyak sekali. Salah satunya yang paling aku rasakan, yaitu lebih terbuka dalam pemikiran, berusaha melihat dua sisi, pro dan kontra. Selain itu, debat juga membangun diri aku untuk lebih percaya diri.

 

Selain debat, kamu juga suka ikut lomba penulisan esai?

Pada awalnya, aku lomba esai hanya coba-coba dan aku mikir nanti ke depan aku akan dihadapkan dengan esai juga. Maka dari itu, aku coba ikut lomba juga untuk belajar. Kebetulan tema lomba saat itu tentang pendidikan dan teknologi yang jadi passion aku juga. Selama mengikuti lomba, juga ada pembimbing yang membantu aku.

 

Apa perbedaan tantangan yang kamu rasakan antara lomba debat dan esai?

Tantangan di debat terletak pada tema mosi debat. Temanya kita tidak diberi tahu dari awal. Jadi, aku harus banyak membaca. Apalagi kadang ada mosi di luar nalar. Contohnya, aku dapat mosi kalau dewan ini percaya seluruh manusia harus pindah ke Mars. Aku harus pikirkan bagaimana cara memindahkan, alokasinya gimana, berapa lama waktunya, uangnya berapa. Di esai, tantangannya pada penataan bahasa. Kita harus tahu cara membuat orang tertarik dari awal paragraf hingga lainnya.

 

Apa kamu pasang target setiap berkompetisi? 

Target aku, untuk satu semester, setidaknya aku punya dua prestasi. Pelatih aku juga pernah bilang bahwa tidak peduli seberapa banyak pun lawan kamu, tidak penting seberapa hebatnya lawan kamu, yang penting satu kursi itu punya kamu. Inilah yang aku terapkan setiap ikut perlombaan.

 

Bagaimana cara kamu membagi waktu dengan berbagai kompetisi yang kamu ikuti saat SMA?

Biasanya, lomba debat diadakan pada semester dua. Saat itu, aku akan jarang masuk kelas dan fokus latihan debat. Dalam mengejar ketertinggalan di pelajaran sekolah, aku ikut bimbingan belajar sepulang sekolah sekitar pukul lima sore hingga pukul sembilan malam.

 

Orangtua kamu tidak keberatan dengan kesibukan kamu?

Awalnya, orangtua setuju, tetapi seiring waktu, mereka sempat tidak setuju. Aku pernah pulang larut malam dan hujan-hujanan, dan orangtua aku marah. Tetapi, itu justru memacu aku untuk bisa menang lomba debat karena aku tidak ingin mengecewakan mereka. Saat aku mendapat juara, orangtua aku mulai menerima kesibukan aku di bidang ini.

 

Apakah ada target jangka pendek dan jangka panjang yang kamu rencanakan?

Target terdekat, aku sedang mempersiapkan untuk wawancara beasiswa. Jangka panjang, aku masih fokus untuk perkuliahan dan beradaptasi, lalu mungkin akan aku rencanakan lagi.

 

Oh ya, kamu sudah diterima di FTI ITB, ya. Selamat! Ada alasan khusus memilih jurusan itu?

Tadinya aku enggak minat sama sekali masuk teknik industri. Minatku malah masuk FK (Fakultas Kedokteran). Aku udah perjuangin sertifikat aku buat itu, tetapi H minus sebelum finalisasi, aku berpikir, peluang startup lagi gencar-gencarnya di seluruh dunia termasuk Indonesia. Ekonomi Indonesia akan terus meningkat dengan adanya industri, jadi aku mikirnya prospek aku bekerja akan jauh lebih besar jika dibandingkan dengan aku memilih FK.

Untuk spesifiknya, aku masih belum tahu akan jadi apa, tetapi aku sudah mengarahkan beberapa pilihan seperti aku akan internship di sejumlah perusahaan. (M-2)

Baca Juga

DOK Kenari Daja

Kenari Djaja Award 2021 Bentuk Dukungan Terhadap Karya Anak Bangsa

👤Widhoroso 🕔Jumat 15 Oktober 2021, 23:40 WIB
KOMPETISI desain handle atau gagang pintu yang digelar Kenari Djaja sukses memunculkan desain-desain inovatif dari...
Antara

Menteri PPPA Puji Protes Guru dan Murid Tolak Pernikahan Anak

👤Ant 🕔Jumat 15 Oktober 2021, 23:30 WIB
Menurutnya, aksi penolakan ini menunjukkan kesadaran bahwa pernikahan anak di bawah umur tidak sepatutnya...
DOK Pribadi.

KLHK dan Le Minerale Inisiasi Standardisasi Bank Sampah

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 15 Oktober 2021, 23:17 WIB
Bank Sampah Bersinar mendapatkan penghargaan sebagai Bank Sampah Terbaik se-Indonesia pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bank Sampah...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Risma Marah dan Gaya Kepemimpinan Lokal

ika melihat cara Risma marah di Gorontalo, hal itu tidak terlalu pas dengan norma, etika, dan kebiasaan di masyarakat.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya