Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
JADIKAN Hari Pendidikan Nasional momentum bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan generasi pembelajar. Karena, di era disrupsi yang sarat perubahan ini, kesadaran untuk cepat belajar menjadi kunci untuk memenangi persaingan di masa datang.
"Memasuki era disrupsi dan menghadapi dampak pandemi covid-19 membutuhkan generasi yang mampu beradaptasi lewat bekal pengetahuan yang dimilikinya," kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulis, Minggu (2/5), menyambut Hari Pendidikan Nasional.
Menurut Lestari, membentuk generasi pembelajar menjadi sangat penting, karena keberhasilan menghadapi tantangan di masa datang sangat dipengaruhi oleh kecepatan kita dalam beradaptasi terhadap kondisi yang berubah dengan cepat.
Baca juga: Nadiem: Hardiknas Momentum Hidupkan Pemikiran Ki Hajar Dewantara
Untuk mewujudkan generasi pembelajar, ujar Rerie, sapaan akrab Lestari, memerlukan upaya yang konsisten dan melibatkan semua pihak, baik para pemangku kepentingan dan masyarakat.
Program Merdeka Belajar yang bertujuan memberikan kemerdekaan bagi murid, guru, unit pendidikan dan ekosistem pendidikan untuk berpartisipasi dalam dunia pendidikan, ujar Rerie, diharapkan mampu mewujdkan hal itu.
Apalagi, jelas Rerie, yang juga anggota Komisi X DPR RI itu, pandemi covid-19 yang sudah berlangsung lebih dari satu tahun ini juga berdampak pada kenaikan angka putus sekolah di Tanah Air.
Pada Desember 2020, UNICEF menemukan bahwa 938 anak di Indonesia putus sekolah akibat pandemi covid-19. Bahkan, 75% di antara mereka tidak bisa melanjutkan sekolah.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat sejak awal pandemi covid-19 hingga Februari 2021 sudah lebih dari 150 anak putus sekolah karena menikah dan bekerja.
Dengan sejumlah program pendidikan yang telah dipersiapkan oleh pemerintah itu, tambah Rerie, diharapkan mampu mengatasi sejumlah kendala dalam proses belajar di lapangan.
Selain itu, ujarnya, upaya menanamkan nilai-nilai kebangsaan yang terkandung dalam empat konsensus kebangsaan seperti Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan UUD 1945, kepada generasi penerus merupakan langkah penting untuk membentuk bangsa yang berkarakter kuat.
Meski begitu, diakui Rerie, saat ini, sebagian masyarakat kita bukan pembelajar yang baik, bahkan terkesan enggan belajar untuk menjadi lebih baik.
Hal itu terlihat dalam kasus pengendalian covid-19 di Tanah Air, misalnya.
Menurut Rerie, seharusnya peristiwa gelombang tsunami kasus positif covid-19 di India bisa diambil sebagai pelajaran, sehingga masyarakat di Indonesia meningkatkan disiplin protokol kesehatan, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, untuk mencegah terjadinya hal serupa di Indonesia.
Namun, tambah anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, sebagian masyarakat kita mengabaikan pelajaran dari India itu.
Jelang Idul Fitri, ujarnya, sejumlah pasar padat pengunjung tanpa menjaga jarak mengabaikan protokol kesehatan.
Sejumlah klaster baru penyebaran covid-19 pun bermunculan, seperti klaster buka puasa bersama, klaster ziarah, dan klaster acara pernikahan.
Belum lagi, tambahnya, sejumlah pelanggaran kebijakan pengendalian covid-19 yang dilakukan dengan sengaja demi kepentingan pribadi, seperti kasus penggunaan alat swab bekas dan mafia karantina.
Sulit disiplinnya masyarakat yang terkonfirmasi dari sederet pelanggaran terhadap kebijakan pengendalian covid-19 itu, menurut Rerie, memperlihatkan sebagian masyarakat kita bukanlah pembelajar yang baik.
Akibatnya, jelas Rerie, kesalahan-kesalahan yang sama terus berulang. Dalam upaya pengendalian covid-19, tambahnya, kesalahan sama yang berulang akan menghambat upaya pengendalian yang dilakukan, bahkan berpotensi meningkatkan kembali kasus positif covid-19 seperti di India.
Sedangkan dalam menghadapi persaingan di era disrupsi, ujarnya, pengulangan kesalahan dalam menyikapi masalah, berpotensi membuat bangsa ini tertinggal dan kehilangan daya saing terhadap bangsa lain di dunia.
Berdasarkan kondisi tersebut, Rerie berharap, para pemangku kepentingan dan masyarakat berkolaborasi dengan baik menanamkan nilai-nilai kebangsaan yang kita miliki serta merealisasikan Program Merdeka Belajar dengan baik, sehingga dapat membentuk generasi yang tangguh serta berdaya saing di masa datang. (RO/OL-1)
Mahasiswa yang terlibat program MBKM tidak hanya memperoleh keterampilan praktis tetapi juga memperluas jaringan profesional.
Wamen KPPPA Veronica Tan menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam pendidikan anak usia dini (PAUD) melalui Kurikulum Merdeka.
Pemerintah jangan gonta-ganti kurikulum pendidikan. Hal itu menyusul adanya isu akan digantinya Kurikulum Merdeka usai pergantian rezim pemerintahan.
Anggota Komisi X DPR Sofyan Tan mengingatkan pemerintah untuk mengubah kurikulum pendidikan. Hal itu menyusul adanya isu akan digantinya Merdeka Belajar.
Pemerintahan baru nanti diharapkan gerak cepat untuk berkoordinasi melakukan evaluasi dan penetapan kurikulum yang tepat dan tetap ke depannya.
Gateways Study Visit merupakan studi banding untuk melihat praktik baik dari transformasi pendidikan khususnya dalam penggunaan teknologi.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan pentingnya membangun ekosistem hukum yang kuat serta edukasi yang memadai untuk melindungi anak-anak.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong penguatan peran keluarga sebagai ruang yang aman bagi perempuan, sebagai bagian penting dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, mengatakan peran generasi muda sangat dibutuhkan dalam upaya membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
Lestari Moerdijat mengatakan pemenuhan hak anak berkebutuhan khusus (ABK) dan disabilitas harus terus digencarkan di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal pendidikan.
WAKIL Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, mengatakan landasan kerja yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan harus menjadi acuan para pemangku kepentingan dalam pembangunan.
Berbagai pengalaman menghadapi bencana alam yang telah terjadi harus menjadi pembelajaran bagi kita agar mampu memitigasi sejumlah potensi bencana di tanah air.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved