Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
KEHIDUPAN santri di pondok pesantren rentan dengan berbagai masalah Kesehatan seperti diare, tifus, hepatitis A, muntaber dan lain sebagainya. Salah satu faktor utama penyebab maraknya penyakit tersebut adalah higienitas makanan yang dikonsumsi para Santri oleh karenanya kebersihan dapur Ponpes menjadi hal yang krusial.
Baru-baru ini Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI) menyelenggarakan pendampingan penataan dapur bersih sehat di Pondok Modern Gontor Putri 1 yang berlokasi di Mantingan, Ngawi, Jawa Timur.
Pondok pesantren ini memiliki lebih dari 3.500 santri yang usianya berkisar dari 12 hingga 20 tahun dan menyediakan makanan 3 kali sehari untuk seluruh santri dan ustadz-ustadzah, sehingga dapat dibayangkan kesibukan yang terjadi di dapur setiap harinya.
Atik Nurwahyuni, ketua Tim Pengabdian Masyarakat menjelaskan bahwa gagasan penataan dapur sehat ini merupakan kelanjutan program pengabdian masyarakat tahun lalu dimana Tim UI mengembangkan buku Panduan Keamanan Pangan Pesantren.
"Tahun lalu Tim kami telah menyusun buku Panduan Keamanan Pangan Pesantren. Harapannya panduan tersebut dapat diaplikasikan di Ponpes. Berbekal dari buku panduan inilah pendampingan penataan Dapur Bersih Sehat dilakukan," ujar Atik Nurwahyuni dalam keterangan tertulisnya, Kamis (22/4).
Pengabdian masyarakat ini dilakukan melalui serangkaian kegiatan yaitu melalui diskusi dengan para Ustadzah, edukasi santri, pemberian bantuan sarana kebersihan dan perlegkapan dapur seperti sabun cuci piring, sapu, pel, cairan pembersih lantai, panci, wajan, rak bumbu, talenan, hingga cat dinding.Selain itu poster-poster edukasi juga dikembangkan dan dipasang di tempat strategis guna terus mengingatkan juru masak dan para santri untuk menjaga kebersihan diri, dapur dan ruang makan.
Dalam penataan dapur sehat ini terdapat beberapa aspek terkait dengan dapur dan penyiapan makanan yang harus terus dimonitor dan dievaluasi oleh Pengurus Pondok Pesantren. Aspek-aspek tersebut diantaranya adalah cara pengolahan makanan dari pembelian sampai penyajian, kebersihan perorangan penjamah makanan, kebersihan peralatan makan dan memasak, sarana prasarana meliputi penyediaan air bersih, pengelolaan sampah, dan pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit.
Kegiatan ini disambut antusias oleh pihak Pondok. Pengajar ponpes, ustadzah Fatimah menyampaikan bahwa saat ini sudah diberlakukan piket pembersihan dapur secara besar-besaran selain piket harian.
"Setiap hari ada petugas piket pembersihan dapur, tapi piket besar-besaran dilakukan setiap hari Senin. Semuanya dibersihkan. Sampah-sampah sekarang juga sudah tertata nggak lagi berserakan," ujar Fatimah.
Selain itu penyajian makanan saat ini juga lebih higienis. Bila dulu makanan di tempatkan di ember-ember besar yang tidak tertutup, sekarang makanan yang siap makan ditempatkan di panic-panci besar yang tertutup.
“Kami sudah tidak lagi pakai ember untuk menaruh makanan yang selesai dimasak tapi pakai panci-panci yang telah diberikan oleh Tim UI. Betul lebih higienis karena nggak khawatir terkena kotoran, juga aman dari kucing," imbuh Fatimah.
Perilaku santri juga semakin baik sekarang dalam menjaga higienitas makanannya. Perilaku selalu mencuci tangan sebelum makan, mencuci piring dengan sabun dan menghindari pinjam meminjam alat makan sudah mulai tumbuh pada diri para santri. Saat ini Ponpes menyediakan lebih banyak tempat untuk mencuci piring.
Proses pendampingan ini melibatkan secara aktif Pengurus Pondok khususnya ustadzah penanggung jawab Dapur dan Ustadzah Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat (BKSM) sehingga mereka mampu secara mandiri memonitor dan mengevaluasi higienitas dapur pondok secara berkala. Selain higienitas makanan, ketercukupan gizi santri juga menjadi factor yang sangat krusial. Pada tahun ini Tim UI juga berencana melakukan pendampingan dalam pengaturan menu makanan di pondok pesantren guna menjamin ketercukupan gizi para santri. (OL-13)
Baca Juga: Ternyata Kamus Sejarah Indonesia masih Beredar di Toko Daring
Santri tidak hanya dituntut untuk tafaqquh fiddin juga memahami dan menguasai ilmu ketatanegaraan serta kebangsaan agar mampu mengambil peran strategis di berbagai bidang.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menghadirkan Program Pesantren Jalan Cahaya pada Ramadan 1447 H di 20 titik se-Indonesia selama bulan suci.
PBNU meluncurkan 41 Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) NU yang berpusat di Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel, Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
PT AXA Mandiri Financial Services menyalurkan lebih dari Rp250 juta surplus underwriting asuransi syariah tahun buku 2024 kepada Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).
PRESIDEN Prabowo Subianto dijadwalkan menggelar pertemuan dengan puluhan pimpinan organisasi Islam dan tokoh pondok pesantren dari berbagai daerah pada hari ini.
Saat ini setiap tahunnya hanya sekitar 1 juta dari 9 juta lebih siswa SMA yang lulus berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN).
Konferensi ini menekankan pentingnya integrasi pendidikan karakter dan kemajuan sains dalam menghadapi dinamika global serta percepatan transformasi digitaL
Pertambangan berkontribusi sekitar 12% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) serta menghasilkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mineral dan batubara mencapai Rp140,5 triliun pada 2024.
Kombinasi kunjungan kampus dan industri ini bertujuan agar siswa memiliki bekal etika dasar saat nantinya aktif berorganisasi maupun memasuki dunia kerja.
UI menyerahkan beasiswa 1,4 miliar rupiah bagi 159 mahasiswa. Dana ini bersumber dari pengelolaan Dana Abado yang didukung oleh Dato' Low Tuck Kwong dan Purnomo Yusgiantoro Center (PYC)
Founder sekaligus Pemimpin Umum Suratkabar Kampus UI Salemba, Antony Z Abidin, menekankan pentingnya warisan nilai profesionalisme dan etika jurnalistik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved