Rabu 10 Maret 2021, 12:05 WIB

Butet Manurung, Antropolog yang Mengidolakan Indiana Jones

Zubaedah Hanum | Humaniora
Butet Manurung, Antropolog yang Mengidolakan Indiana Jones

MI/Adam
Aktivis pendidikan, pendiri Sokola Rimba, Butet Manurung.

 

SIAPA tak kenal dengan Butet Manurung, sang penggagas Sokola Rimba? Sokola Rimba menjadi lembaga pertama di Indonesia yang memfokuskan diri pada pendidikan bagi masyarakat adat dan memberikan manfaat kepada lebih dari 15.000 masyarakat adat untuk bisa mengenyam pendidikan formal.

Berdiri sejak 2003, Sokola Rimba merupakan konsep pendidikan bagi masyarakat adat atau suku terpencil di Indonesia. Sokola Rimba yang telah berganti nama menjadi Sokola Institut sudah merintis hingga 17 program di seluruh Indonesia.

Di lembaga ini juga, para relawan guru dituntut menjunjung tinggi keahlian sebagai antropolog. Butet mengakui tadinya ia emoh dengan hal-hal berbau sejarah, apalagi menyelami dunia antropologi. Benar-benar tidak kepikiran.

Saat SMA, dikisahkan Butet, fisika dan matematika menjadi pelajaran yang disukainya. Sedangkan pelajaran yang paling tidak disukai adalah sejarah. Namun, saat kuliah ia justru mendaftar ke program studi Antropologi FISIP Universitas Padjajaran, Bandung, pada 1991 silam.

“Nilai sejarah saya merah di ijazah SMA. Lalu kemudian saya masuk Antropologi. Lucu, karena antropologi adalah cabang dari ilmu sejarah,” tulis perempuan bernama lengkap Saur Marlina Manurung itu seperti dilansir dari laman Universitas Padjajaran, Rabu (10/3).

Tiga tahun kuliah Antropologi, Butet ikut ujian masuk PTN (saat itu bernama UMPTN) dan lolos masuk program studi Sastra Indonesia Unpad. Sejak saat itu, Butet Manurung kuliah di dua program studi. Keduanya lulus, meskipun terseok.

Selain menyenangi matematika, Butet kecil juga menyenangi alam bebas. Idolanya adalah tokoh fiksi doktor Henry Walton Jones, Jr, atau dikenal dengan sebutan Indiana Jones, tokoh utama dalam film petualangan Hollywood yang dibintangi Harrison Ford.

Jones merupakan seorang profesor arkeolog yang gemar bertualang ke alam bebas dan membantu komunitas adat untuk mempertahankan diri. Tokoh inilah yang kemudian mengilhami Butet untuk memiliki cita-cita bekerja di tengah rimba.

“Sejak kecil saya bercita-cita ingin bekerja di tengah hutan, gunung atau apa saja yang penting di tengah alam. Saya sangat takut bekerja di dalam kantor dan duduk melulu,” kenang Butet.

Selama kuliah di Unpad, Butet Manurung aktif berkegiatan di UKM Pencinta Alam Palawa Unpad. Ia banyak melakukan ekspedisi. Mulai dari penelusuran dan pemetaan gua bersama tim putri di Sulawesi Selatan, mendaki Puncak Jayawijaya, hingga sederet aktivitas alam bebas lainnya.

Saking seringnya berkegiatan alam bebas menyebabkan kuliahnya tertunda. Butet merampungkan studi di Antropologi Unpad pada 1998. Di tahun itu, ia juga tengah menyusun skripsinya di Sastra Indonesia Unpad.

Ketiga aktivitasnya, baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler, selama berkuliah di Unpad dirasakan betul membentuk kepribadian dan kompetensi Butet Manurung.

 

Otot, otak, hati

Lulus menjadi Sarjana Antropologi, Butet bekerja sebagai asisten peneliti di Pusat Studi Wanita Unpad. Ia juga menjajal pekerjaan sebagai pemandu di taman nasional, utamanya mendampingi para biolog maupun ilmuwan yang datang ke hutan.

Dalam perjalanannya, ia merasa kurang sreg. Butet lalu mengundurkan diri sebagai pemandu. Suatu hari, ia melihat lowongan di surat kabar dari salah satu LSM yang bergerak di bidang konservasi di Jambi. Lembaga tersebut membutuhkan antropolog untuk menjadi fasilitator pendidikan pada komunitas Orang Rimba, atau komunitas peburu-peramu yang hidupnya nomaden (berpindah-pindah).

Melihat iklan lowongan tersebut, Butet langsung jatuh hati. Baginya, pekerjaan ini adalah pekerjaan yang sempurna. Gayung bersambut, ia pun diterima bekerja di sana pada 1999.

“Buat saya pekerjaan sempurna itu melibatkan otot, otak dan hati. Tidak boleh ada yang ketinggalan,” ungkapnya.

Butet Manurung langsung terjun ke hutan, menemui para Orang Rimba. Ia melakukan pendekatan dan penelitian untuk lebih memahami kebutuhan mereka. Dibutuhkan kurang lebih 7 bulan hingga Orang Rimba mau menerima dan akrab dengan kehadirannya.

Di lokasi kerjanya, ada 12 kelompok adat yang tersebar di area hutan seluas 60 ribu hektar tersebut. Perjalanan dari satu sisi ke sisi lain membutuhkan waktu 4 hari. Ia kunjungi satu persatu kelompok masyarakat adat tersebut.

“Saya kunjungi satu-satu. Dan satu persatu pun menolak saya," ujarnya.

Namun, pengalaman Butet di Palawa Unpad memberi kemampuan tinggi dalam hidup di tengah rimba. Pengalaman ini juga membuatnya kuat, tidak mudah menyerah.

Butet Manurung belajar keras bahasa mereka sebagai kunci untuk berkomunikasi. Tidak hanya itu, Butet pun menggunakan sandang dan hidup layaknya kebiasaan mereka. Memakai sarung berkemban, ikut berburu dan memakan apa saja yang mereka makan. Mulai dari kancil, landak, ular, hingga kelelawar.

Kegigihan Butet terbayar sudah. Ia berhasil mendekati Orang Rimba dan menjadi pengajar bagi masyarakat adat tersebut. Beruntung, pengalaman studi di Sastra Indonesia Unpad memberikan bekal baginya.

 

Metode silabel

Meski bukan berlatar belakang sebagai guru, pengalaman Butet akan ilmu linguistik dan menulis sangat berguna untuk menyusun bahan ajar di rimba. Ia bahkan menemukan metode baca-tulis yang disebut Silabel. Metode ini memungkinkan seorang anak bisa membaca dalam waktu dua minggu saja.

Seiring melanglangbuananya Sokola Institute, metode ini sudah diterapkan di seluruh wilayah di Indonesia dengan mengalami penyesuaian sesuai dengan fonologi setempat.

Ilmu antropologi benar-benar mengubah hidup Butet. Dari yang tadinya sebal menjadi cinta. Butet pun mengambil hikmah dari perjalanan hidupnya itu.

“Saya sangat mencintai Antropologi. Menurut saya upaya kita mengenal budaya orang lain, justru membantu kita lebih mengenal diri sendiri. Ibarat kita kalau ke luar negeri, malahan kita semakin cinta Tanah Air kita, begitu kira-kira,” pungkasnya.

Pada 2013, kisah Butet Manurung itu diangkat ke layar lebar berjudul Sokola Rimba. Aktris Prisia Nasution didapuk untuk merepresentasikan Butet Manurung dalam film tersebut di bawah arahan sutradara Riri Riza. (H-2)

Baca Juga

Dok. Kemenag

Wamenag: Santri Abad 21 Harus Melek Literasi Digital 

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 22 Oktober 2021, 01:04 WIB
“Santri abad ke-21 harus memiliki keterampilan literasi digital (digital literacy), di samping literasi baca tulis, literasi...
Dok. UNJ

UNJ Gelar Sarasehan Bahas Polemik tentang Statuta Baru Pemberian Gelar Kehormatan 

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 22 Oktober 2021, 01:02 WIB
Rektor UNJ Komarudin mengatakan, setelah sempat ramai di media massa, pada kesempatan sarasehan itu, ia mengajak semua duduk bersama dalam...
Antara

Pemprov DKI Klaim Kesiapan Hadapi Hidrometeorologi

👤Ant 🕔Kamis 21 Oktober 2021, 23:48 WIB
BMKG memberikan peringatan bahwa bencana hidrometeorologi akan datang lebih awal di akhir...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Sukses PON Papua 2021 Pemerataan Pembinaan di Seluruh Pelosok Negeri

Sukses prestasi ditandai dengan tercipta banyak rekor meski penyelenggaraan multiajang olahraga terakbar Tanah Air itu digelar di masa pandemi covid-19.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya