Selasa 26 Januari 2021, 02:58 WIB

Produk Lokal Ramah Lingkungan Dukung Pembangunan Berkelanjutan

Syarief Oebaidillah | Humaniora
Produk Lokal Ramah Lingkungan Dukung Pembangunan Berkelanjutan

Tatalogam
Baja lapis aluminium seng Nexalume.

 

LANGKAH strategis dalam upaya pemulihan ekonomi diambil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono. Mulai tahun ini, penggunaan barang impor akan dilarang dalam seluruh proyek propertI dan konstruksi yang ada di bawah Kementerian PUPR.

Dengan kebijakan ini, pemulihan ekonomi diharapkan bisa dipercepat. Tak hanya itu, dengan skema padat karya yang dirancang untuk program ini, penyerapan tenaga kerja juga bisa ditingkatkan.

Langkah pemerintah ini mendapat apresiasi dan dukungan dari banyak pihak termasuk dari pelaku usaha industri baja ringan Tanah Air. Stephanus Koeswandi, Vice President Tatalogam Group menilai kewajiban penggunakan produk lokal pada proyek properti dan konstruksi di bawah Kementerian PUPR dapat dijadikan peluang bagi para pelaku usaha, khususnya di sektor industri baja ringan nasional, agar dapat bangkit pada 2021. Dengan demikian, ancaman gelombang PHK terhadap para pekerja di sektor baja dapat ditekan.

"Bukan hal mudah untuk bertahan di masa sulit seperti sekarang ini. Karenanya, selain dukungan pemerintah, para pelaku usaha juga harus melakukan inovasi-inovasi baru agar dapat bersaing dengan produk impor sehingga utilitas produksi meningkat," jelasnya, Senin (25/1).  

Menurutnya, jaminan kualitas produk yang sudah mengantungi sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) serta peningkatan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) dalam setiap proyek infrastruktur diharapkan mampu menghalau penggunaan baja impor. Sebagai salah satu produsen nasional baja lapis aluminium seng dan rangka atap baja ringan, Tatalogam Group menyadari betul pentingnya hal itu.

Upaya perlindungan terhadap industri baja nasional dari serbuan baja impor yang dilakukan Kementerian PUPR juga mendapat dukungan dari serikat buruh. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal mengatakan, saat ini ada 100 ribu pekerja yang bernaung di industry baja. Mereka kini terancam PHK karena dampak masifnya serbuan baja impor yang masuk ke Indonesia.

"Kebijakan Menteri PUPR mengendalikan masuknya baja atau besi impor kebijakan yang kami dukung karena untuk menyelamatkan industri nasional," jelasnya.

Di sisi lain, untuk menciptakan produk lokal yang berkelanjutan menurut lingkungan kondisi Indonesia, produk baja lapis aluminium seng Nexalume yang diproduksi anak usaha Tatalogam Group yaitu PT Tata Metal Lestari, telah mengantungi sertifikat Green Label Indonesia dengan Level Gold dari Green Product Council Indonesia (GPCI).

"Green label pada dasarnya memang salah satu kebijakan negara untuk menumbuhkan industri yang berbasis ramah lingkungan, support dalam pembangunan infrastruktur yang sedang berjalan. Kami masih terus berupaya ikut bergerak mewujudkan tujuan Sustainable Development Goal (SDGs) yang ke-12 yaitu produksi dan konsumsi yang berkelanjutan. Karena itu kami juga terus berupaya untuk menghasilkan produk yang ramah lingkungan dan mengedukasi masyarakat untuk menggunakan produk ramah lingkungan,” terang Stephanus. (RO/OL-15)

Baca Juga

AFP

UGM Mundur Dari Penelitian Vaksin Nusantara

👤Agus Utantoro 🕔Senin 08 Maret 2021, 17:45 WIB
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) memilih mundur dari penelitian uji klinis...
Antara

Mensos Ajak Media Dukung Peran Perempuan dalam Pembangunan

👤Suryani Wandari Putri Pertiwi 🕔Senin 08 Maret 2021, 17:37 WIB
Bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, Mensos mengingatkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam keluarga dan pembangunan...
paho.org

Tiga Merek Vaksin Covid-19 Dijual Bebas di Darknet

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 08 Maret 2021, 17:35 WIB
Dijelaskan bahwa mayoritas penjual berasal dari Prancis, Jerman, Inggris, dan Amerika...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya