Jumat 04 Desember 2020, 06:15 WIB

Kapasitas Testing 16 Provinsi Capai Target WHO

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Kapasitas Testing 16 Provinsi Capai Target WHO

ANTARA/Rivan Awal Lingga
Warga menjalani tes usap atau swab test secara drive thru di GSI Lab (Genomik Solidaritas Indonesia Laboratorium), Cilandak, Jakarta.

 

JUMLAH testing (pemeriksaan) covid-19 secara nasional, hingga akhir November 2020, sudah mendekati target yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kapasitas testing Indonesia, per akhir November, sudah mencapai 90,64%. Jika disesuaikan dengan populasi Indonesia yang berjumlah 267 juta jiwa, maka diperlukan pemeriksaan PCR covid-19 kepada 267 ribu orang per minggu.

"Capaian ini tidak lepas dari peran provinsi-provinsi yang terus menggiatkan testing mereka," jelas Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito, Kamis (3/12), dalam keterangan pers di Graha BNPB yang juga disiarkan langsung Kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Dari data dalam satu bulan terakhir, terdapat 16 provinsi yang pernah mencapai target WHO. Bahkan dari 16 provinsi tersebut, ada 3 provinsi yang konsisten mencapai standar WHO dalam 5 minggu terakhir yaitu DKI Jakarta, Kalimantan Timur, dan Papua.

Baca juga: Vaksin Merah Putih Diproduksi Awal 2021

Untuk provinsi lainnya yang dimaksud, ialah Riau, Papua Barat, Sumatra Barat, Sulawesi Utara, DI Yogyakarta, Bali, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Banten, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Sulawesi Barat.

Capaian 16 provinsi tersebut diharapkan dapat diikuti provinsi-provinsi lainnya. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan tracing (pelacakan). Jika salah satu kasus positif telah dideteksi, segeralah mendata kontak erat kasus tersebut dan lakukan testing lanjutan. Karena tracing yang berjalan dengan baik juga dapat berkontribusi terhadap peningkatan jumlah testing.

Wiku lantas merujuk pada penelitian dari Abbot et Al (2020), bahwa testing dan tracing yang efektif mampu mengendalikan situasi pandemi covid-19 dalam kurun waktu 3 bulan. Hal itu juga sesuai temuan Kretzscamer et Al (2020) bahwa mengoptimalkan cakupan testing dan tracing serta meminimalkan penundaan tracing dapat mencegah hampir 80% transmisi (penularan).

Pada prinsipnya, testing dan tracing adalah dua upaya yang tidak dapat dipisahkan, harus dilakukan secara linear dengan treatment (perawatan) lanjutan jika diperlukan.

"Oleh karena itu, masifkan 3T (testing, tracing, dan treatment) untuk dapat menekan angka kasus dan kematian serta meningkatkan kesembuhan nasional," pesan Wiku.

Tidak lupa, Wiku menyampaikan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat dan institusi yang telah kooperatif dalam mematuhi protokol kesehatan dari awal pandemi hingga saat ini secara konsisten. (OL-1)

Baca Juga

Dok MI

Metode Karantina Daring untuk Peserta CPNS

👤Abdillah M Marzuqi 🕔Minggu 24 Januari 2021, 02:04 WIB
Bimbingan belajar yang telah berdiri sejak 2018 itu telah memiliki 4.000 lebih peserta dan meluluskan 1.340 peserta PNS selama tiga tahun...
Antara

Indonesia Alami 197 Bencana Selama 23 Hari di 2021

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 24 Januari 2021, 02:00 WIB
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)  mencatat sebanyak 197 bencana terjadi di seluruh wilayah Indonesia sejak tanggal 1...
MI/Duta

Ditemukan Fosil Dinosaurus Berusia 98 Juta Tahun

👤Nur Aivanni 🕔Minggu 24 Januari 2021, 01:05 WIB
FOSIL dinosaurus berusia 98 juta tahun ditemukan di Argentina. Para ilmuwan percaya bahwa fosil raksasa itu mungkin milik dinosaurus...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya