Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Pandemi Percepat Transformasi Pendidikan Tinggi

Suryani Wandari Putri Pertiwi
05/11/2020 23:05
Pandemi Percepat Transformasi Pendidikan Tinggi
Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Nizam(Dok. dikti.kemdikbud.go.id)

PANDEMI covid-19 memberikan tantangan tersendiri dan peluang transformasi bagi lembaga pendidikan, khususnya perguruan tinggi saat pembelajaran dilakukan secara daring. 

Hal itu diakui Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam diskusi daring Media Indonesia bertajuk Indonesia Bicara Indonesia Belajar dari Rumah: Daring Hingga Luring, kemarin. Seperti diberitakan sebelumnya, untuk memutus penyebaran covid-19, Kemendikbud memerintahkan pembelajaran di semua jenjang pendidikan diselenggarakan secara daring.

Setelah selama tujuh bulan menghadapi pandemi, ujar Nizam, Ditjen Dikti melakukan evaluasi dan memonitorpembelajaran daring. Hasilnya, sungguh tak terduga, transformasi perguruan tinggi dalam melakukan pembelajaran daring terjadi sangat cepat.

“Kurang dari sebulan, 4.000 lebih perguruan tinggi kita terlihat langsung bertansformasi ke pembelajaran daring dengan memanfaatkan teknologi. Ini cukup cepat,” kata Nizam.

Hasil survei yang dilakukan kepada 200 ribu responden mahasiswa dari Sabang sampai Merauke juga mengakui pembelajaran daring berjalan cukup baik terlepas dari kendala yang dihadapi, terutama koneksi dan blankspot internet. Lebih dari 70% mahasiswa mengatakan
pengajaran berjalan dengan baik dan sangat baik. Materi belajar yang diberikan dosen ini juga dinilai oleh mahasiswa sebagai baik dan sangat baik.

“Ini sungguh melegakan bagi kami, ternyata dosen dan mahasiswa cepat beradaptasi. Namun, kami ingin menggaris bawahi pendidikan tidak hanya pembelajaran, ada juga nilai, skill, interaksi sosial, dan kemampuan komunikasi berbagai bentuk kompetenisi yang lainnya,” katanya.

Tidak itu saja, di masa pandemi ini justru banyak inovasi yang dihasilkan oleh pendidikan tinggi. “Kami kompilasi lebih dari 1.600 invensi inovasi lahir, mulai masker, ventilator hingga pendeteksi covid-19,” ujar Nizam.

Nizam menyebut perguruan tinggi juga mampu menciptakan purwarupa lainnya yang dimanfaatkan oleh banyak rumah sakit.


Kolaborasi dengan UT

Dalam pengembangan sistem PJJ, Nizam mengakui keberhasilan tersebut tak lepas dari sinergi Kemendikbud bersama UT. “Kami berkoordinasi erat dengan UT membantu bersama memperkuat spada dan LSM (sistem pembelajaran daring dan learning management system),” kata Nizam.

Di kesempatan yang sama, Rektor UT Ojat Darojat mengatakan pihaknya terus melakukan inovasi bahan ajar termasuk perubahan desain menjadi bahan ajar interaktif dan kemasan bahan ajar cetak dari ukuran A5 menjadi A4 custom template indesign, lalu modul pembelajaran berbasis web, menerapkan intervensi belajar dari tugas mata kuliah (TMK) yang dilengkapi berbagai fasilitas online. Inovasi lainnya ialah sistem ujian berbasis web yang dilengkapi dengan aplikasi berbasis pengawasan online dan semionline. “Kami juga mengedukasi publik melalu seminar virtual, yaitu Knowledge Sharing Forum (KSF) yang melibatkan narasumber dari dalam dan luar negeri,” katanya.

Bahkan Ojat menargetkan UT menjadi perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH) dalam waktu dekat. Rencananya, pengajuan berkas untuk menjadi PTN-BH akan disampaikan ke Kemendikbud November tahun ini. (H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya