Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
DEMI menghindari risiko penularan covid-19, masyarakat diwajibkan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah.
Namun, pemakaian masker menimbulkan masalah mask acne (maskne) atau jerawat pada sebagian pengguna masker. Ini akibat pemakaian masker terlalu lama.
Dermatolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fajar Wakito mengamini bahwa penggunaan masker dalam waktu lama bisa memicu jerawat. Sebab, masker mengakibatkan trauma fisik pada permukaan kulit. Misalnya, gesekan dan tekanan pada kulit wajah.
Baca juga: Efektivitas Perlindungan Masker Scuba Hanya Sampai 5%
Sementara itu, trauma fisik di permukaan kulit wajah akibat pemakaian masker, juga memicu peradangan pada kelenjar penyebab jerawat. Pada akhirnya, kondisi tersebut membentuk lesi jerawat yang meradang di wajah.
“Jadi, gesekan, gosokan, tekanan dan panas, ditambah kondisi yang lembab, menyebabkan jerawat di area kulit wajah yang tertutup atau sekitar masker,” jelas Fajar dalam keterangan resmi, Selasa (3/11).
Lebih lanjut, dia menilai jenis masker juga berpengaruh terhadap munculnya maskne. Seperti masker kesehatan, dengan tekstur kasar dan tidak mudah menyerap keringat, bisa mengakibatkan jerawat meradang. Akan tetapi, kasus maskne pada pengguna masker medis tidak terlalu banyak.
Baca juga: Ada Vaksin Covid-19, Protokol Kesehatan Harus Tetap Jalan
“Kalau masker dari kain lebih nyaman untuk bernapas dan tidak pengap. Sehingga orang cenderung memakainya lebih lama. Kemungkinan jadi jerawat lebih besar dari masker medis. Selain itu, tali pada masker kain kurang terukur, sehingga mengakibatkan gesekan berlebih di wajah,” urai Fajar.
Untuk mencegah timbulnya jerawat akibat sering memakai masker, masyarakat harus mengganti masker. Apabila sudah terasa lembab, panas dan nyeri pada kulit wajah. Lalu, mencuci masker kain hingga benar-benar bersih. Upayakan tidak menggunakan pewangi pakaian, agar terhindar dari iritasi.
“Penggunaan pewangi pakaian bisa menyebabkan iritasi. Tetapi ini jauh lebih aman dibandingkan pewangi yang disemprot atau dioles langsung ke masker,” imbuhnya.
Baca juga: Waspada Dampak Psikologis Pandemi, Dari Cemas hingga Bunuh Diri
Selanjutnya, rajin membersihkan wajah dengan sabun, yang disesuaikan dengan jenis kulit. Apabila memiliki kulit cenderung kering, sebaiknya pakai produk yang mengandung pelembab dan hipoalergenik.
Tidak kalah penting, gunakan pelembab agar kulit wajah tetap terhidrasi. Pilih pelembab yang sesuai dengan jenis kulit. Bagi pemilik kulit sensitif atau bermasalah, dianjurkan memakai pelembab yang bersifat hipoalergenik. Sehingga, mencegah munculnya reaksi alergi pada kulit wajah.
Jangan lupa pakai tabir surya untuk melindungi kulit wajah dari sinar UV. Pilih jenis tabir surya sesuai aktivitas sehari-hari. Fajar menyarankan penggunaan tabir surya yang memiliki kandungan SPF minimal 30 % , PPA ++, ringan dan bebas minyak.(OL-11)
Thomas Djiwandono mengusulkan agar pemerintah dan bank sentral meninggalkan skema burden sharing yang diterapkan pada masa pandemi covid-19.
Melihat ancaman besar terhadap keberlanjutan layanan kesehatan dasar, dr. Harmeni mendirikan Symptomedic, platform telemedisin dan layanan pengantaran obat.
ANCAMAN kesehatan global kembali muncul dari Tiongkok. Setelah virus corona yang menyebabkan pandemi covid-19, kali ini virus baru influenza D (IDV) ditemukan.
Sengketa gaji Cristiano Ronaldo dengan Juventus terkait penundaan pembayaran saat pandemi covid-19 masih berlanjut. Putusan arbitrase dijadwalkan 12 Januari 2026.
Teknologi vaksin mRNA, yang pernah menyelamatkan dunia dari pandemi covid-19, kini menghadapi ancaman.
Menteri Kesahatan AS Robert F. Kennedy Jr. membuat gebrakan besar dengan mencabut kontrak dan membatalkan pendanaan proyek vaksin berbasis teknologi mRNA, termasuk untuk covid-19.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved