Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
FENOMENA La Lina berpotensi menimbulkan anomali cuaca yang berujung pada bencana hidrometeorologi. Dampak tersebut sangat bergantung pada musim, wilayah, serta intensitasnya.
Berdasarkan analisis potret data suhu permukaan laut yang dilakukan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), saat ini La Lina teraktivasi di Pasifik Timur. Kondisi ini dapat memicu frekuensi dan curah hujan wilayah Indonesia pada beberapa bulan mendatang.
Dampak La Lina memicu curah hujan yang jauh lebih tinggi, dibandingkan kondisi normal. Sehingga, potensi banjir dan tanah longsor perlu diwaspadai. Dalam hal ini, kewaspadaan terhadap kondisi hujan di atas normal pada Oktober dasarian I dan II. Penggunaan satuan dasarian menunjuk pada kurun waktu sepuluh harian.
Baca juga: BMKG: Musim Kemarau bukan Berarti tidak Ada Hujan
“Beberapa provinsi diperkirakan akan memasuki musim hujan pada Oktober 2020,” ujar Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Supari dalam keterangan resmi, Kamis (1/10).
Terkait dengan La Lina, Supari menyebut dampaknya tidak seragam di seluruh wilayah Indonesia. Adapun prakiraan awal musim hujan berlangung pada Oktober. Wilayah yang teridentifikasi ialah Sumatra, Jawa, Kalimantan, sebagian kecil Sulawesi, Maluku Utara dan sebagian kecil Nusa Tenggara Barat.
Prakiraan untuk wilayah Sumatra, seperti di pesisir timur Aceh, sebagian Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka dan Lampung. Wilayah Jawa diperkirakan terjadi di Banten, sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah dan sebagian kecil Jawa Timur.
Sedangkan di wilayah Kalimantan, potensi hujan menyasar sebagian Kalimantan Barat, sebagian Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.
Baca juga: Geolog: Isu Tsunami di Selatan Jawa Masih Potensi, Bukan Prediksi
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) diharapkan sebagai focal point penanggulangan bencana di tingkat provinsi, kabupaten dan kota. Sehingga, BPBD harus waspada dan siap siaga menghadapi potensi bahaya hidrometeorologi.
Upaya dini pencegahan dan mitigasi penting dilakukan untuk mengurangi atau menghindari dampak bencana. Masyarakat juga diimbau lebih siaga, terutama di tengah keluarga. Setiap keluarga harus memonitor dan menganalisis secara sederhana potensi bahaya di sekitar.
Melalui aplikasi berbasis teknologi informasi, InaRISK personal, masyarakat dapat memantau ancaman bahaya. Adapun antisipasi ancaman bisa dengan mematikan aliran listrik, menyimpan dokumen penting, hingga menyiapkan tas siaga bencana.(OL-11)
Status tersebut menjadi langkah krusial guna menekan risiko banjir, tanah longsor, dan pergerakan tanah yang bisa saja terjadi saat intensitas hujan meningkat seperti saat ini.
Pemkot Pekanbaru resmi menetapkan status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi tahun 2025, terhitung mulai 3 Desember 2025 hingga 31 Januari 2026.
Operasi dilakukan untuk menurunkan hujan di wilayah tidak terdampak, atau mencegah hujan di zona rawan bencana, menggunakan penyemaian NACL atau Calcium Oxide.
SETIDAKNYA 31 ribu personel gabungan disiagakan untuk mengantisipasi berbagai potensi bencana hidrometeorologi di wilayah Riau.
Kecamatan Ile Ape merupakan salah satu kawasan ring satu atau kawasan terdekat dari Gunung Api Ile Ape (Lewotolok).
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) segera menetapkan status siaga bencana setelah Kabupaten Kolaka Timur dan Kota Kendari lebih dulu mengumumkan status siaga.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved