Selasa 29 September 2020, 14:03 WIB

Geolog: Isu Tsunami di Selatan Jawa Masih Potensi, Bukan Prediksi

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Geolog: Isu Tsunami di Selatan Jawa Masih Potensi, Bukan Prediksi

Antara/Basri Marzuki
Kondisi Pantai Teluk Palu setahun pascaterjangan tsunami.

 

MASYARAKAT diminta tidak panik terhadap hasil penelitian yang menyebut ada potensi gempa besar yang menyebabkan tsunami di selatan wilayah Jawa. Sebab, hasil kajian masih berupa potensi, bukan prediksi.

“Untuk menjadi prediksi, informasi yang disampaikan harus meliputi waktu, besaran magnitudo dan lokasi kejadian. Potensi terjadinya tsunami memang ada di selatan Jawa, tapi kapan terjadinya kita belum tahu," tegas geolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Gayatri Indah Marliyani dalam keterangan resmi, Selasa (29/9).

Hingga saat ini, belum ada teknologi yang terbukti bisa membuat prediksi dengan akurasi tinggi. Kendati demikian, masyarakat perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi segala potensi bencana, termasuk gempa bumi dan tsunami.

Baca juga: Berita Potensi Tsunami, BMKG Imbau Masyarakat Tak Panik

Apabila terjadi tsunami, setidaknya masyarakat mengetahui langkah yang harus diambil. Jika berada di tepi pantai, lantas merasakan gempa besar dan melihat air laut surut, harus segera menjauhi pantai. Serta, menuju tempat yang tinggi, seperti bukit atau gedung bertingkat.

“Jika berada jauh dari pantai, atau berada pada daerah dengan ketinggian lebih dari 30 meter dari permukaan laut, tidak perlu khawatir. Tsunami tidak akan mencapai area tersebut," imbuh Gayatri.

Gayatri mengakui berbagai riset terkait prediksi gempa bumi mulai dikembangkan lebih serius dengan sejumlah pendekatan. Di antaranya, analisis seismisitas, gangguan pada gelombang eletromagnetik, adanya anomali emisi gas radon, serta perubahan muka air tanah.

Baca juga: Setiap Tahun, Aktivitas Gempa Bumi Meningkat 11 Ribu Kali

Berbagai parameter mulai dimonitor di lokasi yang dicurigai aktif secara tektonik. Tujuannya, mengetahui adanya keterkaitan antara pola anomali dan kejadian gempa bumi. Namun, ada beberapa keterbatasan dalam menerapkan metode ini, yakni sensor harus dekat dengan sumber gempa bumi dan melakukan validasi data secara global.

“Sampai saat ini, penelitian mengenai prediksi gempa bumi masih belum menghasilkan prediksi, yang secara konsisten memberikan korelasi positif. Untuk bisa dikatakan indikatif, hasil pantauan harus secara statistik menunjukkan ada korelasi yang signifikan antara kejadian dan anomali,” pungkasnya.(OL-11)

 

 

Baca Juga

ANTARA/PUSPA PERWITASARI

Nadiem: Bangkit di Tengah Pandemi Lewat Peringatan Sumpah Pemuda

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 13:45 WIB
Nadiem mengungkapkan, dalam setahun terakhir lebih dari 272 ribu kerja sama telah terjalin antara SMK dengan dunia usaha dan...
Antara

'Gilang' Mudahkan Peserta JKN-KIS Segmen PPU PN Perbarui Datanya

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 13:22 WIB
Per 1 November 2020 pemerintah berencana melakukan Program Registrasi Ulang (Gilang) bagi sebagian peserta JKN-KIS dari segmen Pekerja...
MI/ADI KRISTIADI

Dua Warga Menjadi Korban Banjir dan Longsor di Pangandaran

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 13:05 WIB
 Selain itu, sedikitnya 111 rumah yang berada di enam desa dan empat kecamatan di Kabupaten Pangandaran terendam...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya