Jumat 04 September 2020, 15:55 WIB

100 Dokter Meninggal Akibat Covid-19, SDM Jadi Masalah Baru

Suryani Wandari Putri Pertiwi | Humaniora
100 Dokter Meninggal Akibat Covid-19, SDM Jadi Masalah Baru

ANTARA/AMPELSA
Ratusan tenaga medis melepas jenazah dokter anestesi Imai Indra, yang meninggal akibat covid-19 di RS Zainal Abidin, Banda Aceh, Rabu (2/9).

 

Angka morbiditas dan kematian pada tenaga medis dan tenaga kesehatan terutama di 8 wilayah provinsi yang menjadi episentrum menyumbang 74 persen kasus terkonfirmasi positif terus meningkat.

Ikatan Dokter Indonesia bahkan mencatat terdapat jumlah kematian pada 102 dokter umum & spesialis, 9 dokter gigi, dan 70 perawat.

Melihat hal itu, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MM mengatakan bertambahnya korban meninggal karena virus korona ini menjadi masalah baru untuk Indonesia.

Baca juga: Lagi, Dokter Meninggal Akibat Korona

"Ini merisaukan kami semua, pemerintah mesti aware karena kami ini adalahpenjagaan terakhirnya. Dengan korban yang terus bertambah tentu sumber daya manusia (SDM) menjadi masalah buat kita," kata Ari dalam Konferensi Pers Virtual - Burnout Syndrome, Jumat (4/9).

Ia memaparkan, menciptakan dokter berbeda dengan gubernur. Jika gubernur meninggal maka bisa digantikan dengan yang lainnya, tapi jika dokter yang meninggal maka harus bertahun-tahun lagi untuk menciptaan satu dokter.

"Untuk jadi dokter, lulus kuliah bisa lima setengah tahun, menjadi spesialis 4 tahun, apalagi menjadi konsultan dan tahapan lainnya. Berarti belasan tahun kita menginvestasikan untuk buat 1 dokter," katanya. Ari pun mengatakan untuk tidak menganggap remeh persoalan ini.

Sementara itu, menurut dr Adib Khumaidi, SpOT - Ketua Tim Mitigasi PB IDI, rasio kematian tenaga medis dan tenaga kesehatan di Indonesia termasuk tertinggi di dunia dibandingkan di negara lain yakni dan tertinggi nomor 1 di Asia dan nomor 3 di dunia setelah Rusia dan Mesir.

"Dari 7417 total kematian terkonfirmasi covid 19 (data per 31 Agustus 2020), sebanyak 1,36 persen diantaranya (102 orang) merupakan tenaga kesehatan Indonesia," kata Adib.

Menurutnya, saat ini semua tenaga medis dan tenaga kesehatan memiliki potensi risiko yg sama untuk terpapar covid, apalagi dengan situasi saat ini dimana paparan transmisi lokal di masyarakat serta pasien OTG juga meningkat, sehingga protection dan safety harus ditekankan di seluruh aspek pelayanan dengan meningkatkan upaya penerapan protokol dan panduan pelayanan kesehatan di era Pandemi covid ini. Salah satu upayanya antara lain dengan Meningkatkan culture safety dan behaviour safety di tenaga medis dan tenaga kesehatan. (H-3)

Baca Juga

DOK Inti Prima Rasa

Kualitas Terbaik Jadi Hal Utama Bagi Inti Prima Rasa

👤Syariel Oebaidillah 🕔Selasa 11 Mei 2021, 00:49 WIB
KELEZATAN dan kualitas hidangan menjadi salah satu fakor penting dalam bisnis kuliner, termasuk bisnis coffee...
DOKI Zenius

Zenius Raih Penghargaan Dari Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan

👤Syarief Oebaidillah 🕔Selasa 11 Mei 2021, 00:28 WIB
PERUSAHAAN edukasi berbasis teknologi, Zenius mendapatkan penghargaan dari Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan (Disdik...
DOK MI

PP 57 Tidak Ubah Fundamental Standar Pendidikan Nasional

👤Syarief Oebaidillah 🕔Senin 10 Mei 2021, 23:20 WIB
PERATURAN Pemerintah (PP) 57 tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dinilai tidak banyak...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Transformasi Kota Tua

PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta bergandengan tangan bersama Kementerian BUMN dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya