Sabtu 01 Agustus 2020, 13:50 WIB

Indeks Kematian Tenaga Medis Indonesia Terburuk di Dunia

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Indeks Kematian Tenaga Medis Indonesia Terburuk di Dunia

ANTARA FOTO/Fauzan
Seorang tenaga kesehatan menggunakan alat pelindung diri lengkap

 

SELAMA masa pandemi beberapa bulan terakhir, tidak sedikit tenaga kesehatan (nakes) yang meninggal dunia akibat terinfeksi covid-19 usai merawat para pasien. Sekjen Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dedi Supratman mengungkapkan, jumlah kematian nakes akibat covid-19 di Indonesia termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara dan dunia yakni mencapai 2,4 persen.

Sedangkan berdasarkan Indeks Pengaruh Kematian Nakes (IPKN) karena Covid-19 yang dibuat oleh tim Pandemic Talks, Indonesia mendapatkan nilai 223, yang berarti memiliki dampak kematian nakes terburuk di dunia.

“Ini (IPKN) salah satu rujukan saja. Memang yang total kematian nakes yang tertinggi adalah Rusia 4,7 persen, sedangkan Indonesia 2,4 persen, tapi dia membandingkan dengan jumlah dokter per seribu populasi. Jadi kalau di kita memang jumlah dokternya tidak sebanyak yang di Rusia dan masalah berikutnya lagi adalah distribusi, sehingga kalau di indeksnya kita paling tinggi yang artinya, cukup mengkhawatirkan angka kematian terhadap tenaga medis/kesehatan,” jelas Dedi dalam diskusi Meninjau Transisi Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Sabtu (1/8).

Melihat kondisi tersebut, Dedi pun mengimbau agar Satuan Tugas Penanganan Covid-19 memberikan perhatian khusus terkait dengan penyediaan alat pelindung diri (APD) maupun testing secara berkala di kalangan tenaga kesehatan. Dia mengaku telah mencoba mendorong manajemen rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan tersebut, namun mereka mengalami kesulitan biaya karena jumlah pasien yang turun drastis.

“Kami mendorong manajemen rumah sakit, tapi mereka juga protes, ‘kami duit dari mana?’ Saat ini pasien yang berkunjung ke rumah sakit turun sangat tajam sekali sehingga memang harapannya adalah satuan tugas bisa memberikan dukungan APD maupun testing secara berkala. Ini wajib buat tenaga kesehatan, jika tidak, risiko untuk terpapar dan juga meninggal dunia bahkan sangat tinggi sekali di kalangan tenaga kesehatan,” ungkapnya.

Selain itu, Dedi menilai penanganan covid-19 di Indonesia selama ini masih keliru karena menempatkan tenaga medis sebagai garda terdepan, padahal seharusnya masyarakat lah yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan covid-19.

“Kita melihat justru tenaga medis yang di rumah sakitlah yang ditempatkan di garda terdepan, tentu banyak sekali protokol-protokol yang sudah dilanggar. Kami sebenarnya sangat prihatin dalam konteks tenaga kesehatan sendiri banyak ketimpangan, artinya yang medis sangat diperhatikan tapi tenaga kesehatan masyarakat yang turun untuk melakukan promosi kesehatan, tracing, dan lain-lain itu tidak ada perhatian,” tandasnya.(OL-4)

Baca Juga

DOK KEMENSOS

Mensos Juliari Batubara, Menteri Terpopuler di Media Digital 2020

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 27 November 2020, 10:21 WIB
AHI 2020 juga menanugerahkan predikat sama untuk Menteri PUPR Basuki Hadimulyono, Menteri BUMN Erick Thohir, Mendikbud Nadiem Makarim,...
DOK PRODI Pendidikan Biologi UKI

Sambut HGN2020, Prodi Pend Biologi UKI Bahas Keanekaragaman Hayati

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 27 November 2020, 10:17 WIB
Keanekaragaman hayati memiliki manfaat yang besar terutama sebagai penopang hidup terutama dalam hal pangan, papan, dan...
AFP/STR- Saudi Ministry of Hajj and Umra

Cek Fatwa MUI tentang Haji Usia Dini

👤Indryani Astuti 🕔Jumat 27 November 2020, 10:15 WIB
MUI menyatakan pendaftaran haji pada usia dini untuk mendapatkan porsi haji hukumnya boleh (mubah) dengan mengikuti syarat yang...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya