Headline
Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.
Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan mempercepat proses registrasi vaksin covid-19 untuk mendapatkan izin edar. Menurut Direktur Registrasi Obat BPOM Rizka Andalucia, proses registrasi normal untuk obat pengembangan baru biasanya 100 hari kerja.
"Tapi kita melakukan percepatan-percepatan untuk (vaksin) covid-19 dengan 20 hari kerja," katanya saat dihubungi Media Indonesia, Sabtu (18/7).
Selain itu, BPOM juga turut mendampingi proses pengembangan vaksin seperti uji klinik dan uji pengembangan produk. Rizka menyebut hal itu juga membantu mempercepat proses admistrasi.
"Badan POM sudah melakukan pendampingan terhadap Biofarma atau industri-industri vaksin yang lain. Semua mendapatkan pendampingan sehingga protokol uji klinik yang diapprove Badan POM sudah sesuai untuk kelayakan ketika ia didaftarkan menjadi obat," jelasnya.
Biasanya, lanjut Rizka, industri farmasi baru mensubmit semua data setelah selesai melakukan pengembangan obat. Supaya lebih cepat, BPOM melakukan evaluasi paralel sehingga untuk terlebih dahulu mendapatkan data-data tersebut.
Baca juga : KSAD Minta Hasil Uji Klinis Obat Antikorona Dipercepat
"Misalnya data pra-kliniknya sudah dikasih duluan ke Badan POM, kita evaluasi. Kemudian data mutunya dikasih dulu. Jadi sambil berjalan sambil menunggu uji klinik fase tiganya selesai. Supaya proses pendaftarannya cepat," jelasnya.
"Pendaftarannya setelah semua dokumen lengkap, itu timelinenya 20 hari kerja. Karena ini dalam kondisi darurat kita lakukan percepatan," tegasnya.
Rizka pun menjelaskan tahapan-tahapan yang harus dilalui agar suatu vaksin mendapatkan izin edar. Menurutnya, setiap vaksin harus melalui tahapan pengembangan.
Pertama adalah tahap pengembangan di labolatorium untuk mendapatkan vaksin sesuai dengan virusnya. Setelah itu adalah tahap pengujian pra-klinik pada hewan.
Pada tahap pra-klinik ini ia harus dinyatakan aman dan sudah dapat memberikan respon pembentukan antibodi.
"Vaksin itu kan membentuk antibodi untuk pertahanan tubuh. Jadi dia harus dibuktikan dulu di hewan dia sudah membentuk antibodi, baru masuk ke manusia atau uji klinik," terangnya.
Uji klinik terdiri dari tiga fase. Pada fase pertama, populasi atau jumlah subjeknya lebih sedikit dari fase selanjutnya, yakni sekitar 50-200. Di sini vaksin dilihat keamanan dan khasiatnya dalam membentuk antibodi.
"Kalau sudah terlihat baru dia masuk ke fase 2. Fase dua jumlah subjeknya lebih banyak, sekitar 500-an," jelas Rizka.
Dia menjelaskan bahwa vaksin ini akan dimasukkan ke dalam tubuh manusia untuk membentuk antibodi. Antibodi ini akan memproteksi terhadap virus yang masuk.
Baca juga : Menkes Bantah Ada Bisnis Covid-19 di Rumah Sakit
"Antibodi yang terbentuk harus cocok dengan antibodi yang untuk mempertahankan dari virus covid-19 ini. Itulah melalui uji klinik," ujarnya.
"Nanti kalau sudah terbukti bahwa dia dapat membentuk antibodi, baru dia dapat didaftarkan untuk mendapatkan izin edar," imbuhnya.
Selain uji klinik untuk mendapatkan khasiat keamanan, lanjutnya, dibutuhkan juga data mutu.
"Vaksin ini harus diproduksi secara GMT (geometric mean titer) sehingga mutunya dapat dijamin. Nanti ada pengujian mutunya. Misalnya kemurniannya, adanya cemaran, dan sebagainya," ungkap Rizka.\
"Jadi mutu, khasiat, keamanannya, diuji. Baru menjadi data untuk izin edar," pungkasnya. (OL-7)
Indonesia menyambut baik rencana investasi dan kerja sama jangka panjang SINOVAC, termasuk di bidang riset dan pengembangan vaksin.
Prinsip dasar PHBS sebenarnya bersifat universal dan sederhana, yakni memastikan kebersihan tubuh dari unsur luar.
Cacar api bisa muncul saat imun menurun, terutama usia 50+. Ketahui waktu tepat vaksin herpes zoster (Shingrix), dosis, manfaat, dan siapa yang perlu konsultasi.
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Vaksin yang sedang diuji adalah V181-005, sebuah formulasi baru yang berpotensi memberikan perlindungan yang lebih cepat dan efisien.
Lucia menjelaskan ketika terjadi bencana banyak orang yang terkena luka bisa karena seng, paku, dan sebagainya maka diberikan serum anti tetanus, untuk mencegah infeksi.
Memahami perbedaan mendasar antara Super Flu, Influenza, dan Covid-19 bukan hanya soal ketenangan pikiran, tetapi juga tentang ketepatan penanganan medis untuk mencegah komplikasi serius.
GURU Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Dominicus Husada, menilai penularan virus Nipah tidak sebesar kasus covid-19 yang menjadi pandemi.
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Bencana banjir di Sumatra memicu kritik terhadap respons pemerintah. Sosok almarhum Achmad Yurianto kembali dikenang atas perannya sebagai juru bicara pemerintah saat pandemi Covid-19.
Termometer perlu disterilisasi untuk membunuh kuman dan bakteri jika digunakan pada banyak orang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved