Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
GURU Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Prof Dr KH Ahmad Satori Ismail mengatakan hari lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni dapat dijadikan momentum bagi bangsa ini dan umat Islam khususnya untuk melakukan instropeksi di tengah pandemi covid-19.
"Hari lahir Pancasila harus kita jadikan sebagai momentum introspeksi diri terkait keadaan yang terjadi saat ini. Artinya, dalam suasana pandemi ini mudah-mudahan umat Islam banyak melakukan introspeksi diri dan muhasabah agar lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan tidak lupa peduli kepada saudara-saudara yang lain yang terdampak ekonominya karena pandemi covid-19 ini," kata Satori di Jakarta, Rabu (3/6).
Ia mengatakan, Pancasila merupakan ideologi dan falsafah bangsa yang harus selalu dipegang bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai cobaan, termasuk di tengah pandemi virus korona atau covid-19 untuk semangat kebangsaan berupa persatuan, gotong royong, dan keadilan sosial.
Dengan semangat Pancasila, masyarakat dan pemerintah harus saling membantu dan bergotong royong melawan pandemi ini. Diharapkan, masyarakat yang mampu ikut peduli kepada mereka yang terdampak ekonomi dan juga pemerintah juga wajib mengulurkan bantuan kepada masyarakat yang terdampak.
"Dengan saling membantu dan bergotong royong Insya Allah kita sebagai bangsa bisa melalui pandemi ini," jelas Satori.
Selain itu, Satori juga menyampaikan agar masyarakat mematuhi aturan yang telah dibuat pemerintah, karena tanpa peran aktif masyarakat, pemerintah pasti tidak akan mampu memberantas covid-19.
"Hal-hal yang masih harus diperhatikan masyarakat, seperti tidak melaksanakan salat jamaah atau salat Jumat di masjid untuk sementara waktu masih harus diikuti, apalagi yang wilayahnya masuk dalam zona merah covid-19," tutur Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) ini.
Satori juga mengingatkan agar masyarakat yang sudah terkena virus harus menjaga jarak dan yang belum terkena virus harus hati-hati menjaga dirinya sendiri. Untuk yang sudah terkena virus atau terindikasi terkena virus, maka juga harus menjaga jarak atau orang yang tidak kena dan melakukan karantina mandiri. Untuk yang tidak kena harus hati-hati dan selalu menjaga diri dengan menerapkan protokol kesehatan seperti physical distancing dan menggunakan masker ketika keluar rumah.
Baca juga: BMKG: Potensi Hujan Masih Guyur Indonesia Tiga Hari Kedepan
Lebih lanjut, ia mendukung kebijakan kenormalan baru (new normal) yang digagas pemerintah untuk mengatasi pandemi meski harus tetap memperhatikan aspek kesehatan.
"Saya kira kalau itu (kenormalan baru) diadakan, setiap orang harus tetap memperhatikan aspek kesehatan. Dan dalam kebijakan new normal setelah PSBB ini pemerintah wajib memberikan sosialisasi kepada masyarakat, agar meskipun sudah normal tetapi tetap tidak terkena virus korona. Dan agar bangsa ini secara ekonomi bisa segera pulih dan ibadah bisa dilaksanakan seperti sedia kala,” kata anggota Dewan Syariah Nasional MUI itu.
Menurut dia, kebijakan kenormalan baru ini, sosialisasi yang dilakukan harus dari pemerintah pusat sampai ke daerah agar masyarakat bisa paham dan menerapkan protokol kesehatan.
Dengan adanya sosialisasi dari pemerintah pusat hingga daerah, masyarakat diharapkan jangan terlalu takut sehingga tidak mau keluar rumah untuk menjalankan aktivitas ekonomi. Pun sebaliknya terlalu berani menghadapi virus ini dengan keluar rumah tidak memakai masker.
"Itu juga tidak benar kita waspada saja sehingga pemerintah perlu menyampaikan keadaan yang ada secara jujur apa adanya ke masyarakat," terangnya.
Selain itu, Satori juga berharap agar ormas Islam dan para tokoh agama bisa turut berperan membantu pemerintah untuk membantu menjelaskan tentang normal baru tersebut.
"Dengan peran para tokoh agama, masyarakat diharapkan bisa paham dan kembali menjalankan aktivitas ekonomi seperti sedia. Karena ketika tidak ada aktivitas ekonomi, negeri ini bisa hancur," katanya. (OL-15)
Vaksin penguat atau booster Covid-19 masih diperlukan karena virus dapat bertahan selama 50-100 tahun dalam tubuh hewan.
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini mencatatkan jumlah kasus covid-19 secara global mengalami peningkatan 52% dari periode 20 November hingga 17 Desember 2023.
PJ Bupati Majalengka Dedi Supandi meminta masyarakat untuk mewaspadai penyebaran Covid-19. Pengetatan protokol kesehatan (prokes) menjadi keharusan.
PEMERINTAH Palu, Sulawesi Tengah, mengimbau warga tetap waspada dan selalu disiplin menerapkan protokol kesehatan menyusul dua kasus positif covid-19 ditemukan di kota itu.
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan jenis virus covid-19 varian JN.1 sebagai VOI atau 'varian yang menarik'.
DINAS Kesehatan (Dinkes) Batam mengonfirmasi bahwa telah terdapat 9 kasus baru terpapar Covid-19 di kota tersebut,
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved