Kamis 23 April 2020, 09:06 WIB

Merasa Suhu Udara Gerah? Ini Penjelasan BMKG

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Merasa Suhu Udara Gerah? Ini Penjelasan BMKG

Antara/Indrayadi
Lahan pertanian di Kabupaten Keerom, Papua, yang rusak akibat cuaca panas.

 

BEBERAPA hari belakangan masyarakat mengeluhkan panasnya suhu siang hari dan suasana yang cenderung gerah. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan suasana terik umumnya disebabkan suhu udara yang tinggi dan disertai kelembapan udara yang rendah.

Khususnya, terjadi pada kondisi langit cerah dan kurangnya awan. Sehingga, pancaran sinar matahari langsung lebih banyak diteruskan ke permukaan bumi. Berkurangnya tutupan awan, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan belakangan ini disebabkan masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau, sebagaimana proyeksi BMKG.

"Seiring dengan pergerakan semu matahari dari posisi di atas khatulistiwa menuju Belahan Bumi Utara. Transisi musim itu ditandai oleh mulai berhembusnya angin timuran dari Benua Australia (monsun Australia). Terutama di wilayah bagian selatan Indonesia," jelas Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal, dalam keterangan resmi, Kamis (23/4).

Baca juga: BMKG Prediksi Pola Hujan 2020 Normal

Menurutnya, angin monsun Australia yang bersifat kering kurang membawa uap air. Sehingga, menghambat pertumbuhan awan. Kombinasi antara kurangnya tutupan awan serta suhu udara yang tinggi dan cenderung berkurang kelembapan, menyebabkan suasana terik yang dirasakan masyarakat.

Berdasarkan prediksi BMKG, periode Maret hingga April menunjukkan suhu yang terus menghangat, hampir di sebagian besar tempat di Indonesia. Pemantauan BMKG sepanjang April, teridentifikasi banyak daerah yang mengalami suhu maksimum 34-36 derajat celcius. Bahkan yang tertinggi tercatat mencapai 37,3 derajat celcius pada 10 April di Karangkates, Malang.

Sementara itu, kelembapan udara minimum di bawah 60%, terpantau di sebagian Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, sebagian Jawa Timur dan Riau. Secara klimatologis, periode April-Mei-Juni cenderung mengalami puncak suhu maksimum di Jakarta, selain Oktober-November.

Baca juga: Kenapa Cuaca Panas Pengaruhi Mood Seseorang?

"Pola tersebut mirp dengan pola suhu maksimum di Surabaya. Sementara di Semarang dan Yogyakarta, pola suhu maksimum akan terus naik secara gradual pada April dan mencapai puncaknya pada September-Oktober," urai Herizal.

Tingginya suhu maksimum belakangan ini tidak dapat dikatakan dipicu langsung oleh perubahan iklim. Namun, analisis perubahan iklim oleh Peneliti BMKG dengan menggunakan data yang sejak 1866, diketahui tren suhu maksimum di Jakarta meningkat signifikan sebesar 2.12 derajat celcius per 100 tahun. Demikian pula pada lebih dari 80 stasiun BMKG untuk pengamatan suhu udara di Indonesia dalam periode 30 tahun terakhir.

"Tren suhu udara yang terus meningkat itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Tetapi juga di banyak tempat di dunia, yang kemudian kita kenal sebagai fenomena pemanasan global," pungkasnya.(OL-11)

 

Baca Juga

Dok. Kemenko PMK

Mitigasi Bencana, Menko PMK Lakukan Penanaman 10 Juta Pohon Mangrove di 34 Provinsi

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 24 Mei 2022, 23:37 WIB
Adapun aksi penanaman mangrove pada GPDRR 2022 merupakan momentum dukungan PBB terhadap komitmen Indonesia dalam pengurangan risiko bencana...
Dok. Kemenparekraf

Perkuat Kampanye Sadar Wisata, Kemenparekraf Gelar Training of Trainer untuk Desa Wisata

👤Meediaindonesia.com 🕔Selasa 24 Mei 2022, 23:22 WIB
Perubahan tren di kenormalan baru pariwisata bergeser dari pariwisata berbasis kuantitas ke pariwisata berbasis...
Dok. UMJ

Fakultas Pertanian UMJ Gelar Panen Raya Perdana dari Program Kebun Hidroponik

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 24 Mei 2022, 23:08 WIB
FAKULTAS Pertanian Universitas Muhammadiyah Jakarta menggelar panen raya perdana dari program kebun hidroponik yang diawali pada Maret...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya