Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Dampak Pandemi bagi Perempuan Lebih Kompleks

Ihfa Firdausya
21/4/2020 20:03
Dampak Pandemi bagi Perempuan Lebih Kompleks
Ilustrasi(MI/Heri Susetyo)

GURU Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Prof Meiwita Budiharsana menyebut perempuan mendapatkan dampak yang lebih kompleks akibat pandemi covid-19. Meiwita mencontohkan bertambahnya beban perempuan di rumah saat pandemi.

"(Sekarang) harus memikirkan bagaimana bisa mencukupi dengan income yang kosong, artinya tidak ada pemasukan, tapi tetap harus menyediakan makanan di atas meja," katanya dalam sebuah webinar yang diadakan Aliansi Satu Visi, Selasa (21/4).

Hal lain adalah menyoal kesehatan reproduksi perempuan. Dalam hal ini, Meiwita mencontohkan kesulitan mendapatkan alat kontrasepsi punya pengaruh cukup signifikan.

"Artinya pengguna kontrasepsi seperti pil dan suntikan. Kita tahu 2/3 atau lebih dari pengguna kontrasepsi di Indonesia adalah suntikan yang harus diberikan tiap bulan. Jadi ke mana dia harus pergi kalau penyedia pelayanannya tidak ada, artinya tutup karena tidak punya APD?" ungkapnya.

"Sedangkan dia membutuhkan itu. Jadi pikirannya bercabang-cabang, ketakutan kalau saya tidak mendapat alat KB, kemungkinan saya telat menstruasi, makin lama makin besar terjadilah unintended pregnancy," imbuhnya.

Lebih jauh, Meiwita mengatakan bahwa kerangka pikir masyarakat Indonesia tentang kesehatan reproduksi masih terbatas pada komponen-komponen kesehatan.

"Tapi tidak banyak merambah komponen non kesehatan yang mengikutsertakan prinsip-prinsip keadilan. Artinya hal-hal yang melanggar hak asasi manusia perempuan, anak, ataupun kelompok yang terpinggirkan itu, tidak masuk ke dalam kerangka pikir kita," pungkasnya.

Direktur Rifka Anissa--sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan--Defirentia One menyatakan bahwa penanganan trauma healing problem kekerasan seksual di masa pandemi memilki tantangan tersendiri.

"Saya melihat beban lembaga layanan kekerasan ini jadi lebih besar seiring situasi pandemi, dan kasus-kasus ternyata tidak berkurang," katanya dalam kesempatan yang sama.

"Saya sih harapanya bagaimana kita mengoptimalkan faktor pencegahan itu sendiri. Jadi sebisa mungkin dalam situasi harus stay at home dan sebagainya, bisa meminimalisir konflik-konflik yang berujung kekerasan," jelasnya.

Defirentia mengatakan semua layanan konseling di Rifka Anissa diprioritaskan secara online selama masa pandemi covid-19.

"Jadi kalau dalam situasi normal kita hanya menyediakan hotline terbatas, untuk kasus kekerasan terhadap perempuan, konseling perempuan, dan untuk konseling laki-laki. Dalam situasi ini kita menyediakan ekstensi dari hotline itu. Karena sejauh ini layanan tatap muka sebisa mungkin diminimalisasi," jelasnya.

"Jadi kita menyediakan 5 hotline untuk ekstensi sehingga yang dulunya hanya satu dua konselor yang pegang hotline sekarang hampir semua konselor di tempat kami melayani konseling lewat hotline," pungkasnya. (OL-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Baharman
Berita Lainnya