Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) menyatakann kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia mencapai 17.820 per 11 Maret. Provinsi Lampung menempati urutan pertama dalam peningkatan laju kasus DBD.
"Di Lampung jumlah kasusnya sampai 3.431 kasus lalu di susul dengan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sampai 2.732 kasus," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, di Jakarta, Rabu (11/3).
Posisi teratas selanjutnya ialah Jawa Timur dengan total kasus 1.761 kasus dan Jawa Barat dengan 1.420 kasus. Kemudian, Jambi sebanyak 703 kasus, Jawa Tengah sebanyak 638 kasus, Riau sebanyak 603 kasus, Sumatera Selatan sebanyak 593 kasus dan DKI Jakarta sebanyak 583 kasus.
Sedangkan di NTB terdapat 558 kasus. Adapun Sumatera Barat memiliki total 490 kasus, Kalimantan Selatan sebanyak 425 kasus, Sulawesi Utara dengan 424 kasus, Kalimantan Barat sebanyak 412 kasus, Sumatera Utara sebanyak kasus 399 kasus, Bangka Belitung dengan 379 kasus, Kalimantan Timur sebanyak 285 kasus, Kepulauan Riau dengan 283 kasus, Yogyakarta sebanyak 272 kasus dan Kalimantan Tengah dengan 246 kasus.
Lebih lanjut, Siti memaparkan di Bengkulu terdapat 205 kasus, kemudian Sulawesi Utara dengan 188 kasus. Sementara itu, Aceh sebanyak 179 kasus, Sulawesi Barat dengan 177 kasus dan Banten 128 kasus. Adapun tiga daerah dengan kasus DBD paling kecil, yaitu Sulawesi Tengah sebanyak 108 kasus, Sulawesi Selatan sebanyak 98 kasus dan Maluku Utara sebanyak 91 kasus.
"Sementara, beberapa provinsi di tersebut sampai sekarang belum melaporkan adanya kasus demam berdarah. Tapi, bukan berarti tidak ada kasus demam berdarah di daerah tersebut. Karena yang dilaporkan ke kami adalah kasus demam berdarah saja. Kalau demam dengue itu ada di sistem kewaspadaan dini," jelas Siti.
Dia menegaskan perbedaan jumlah kasus disebabkan perbedaan iklim di setiap daerah. Pasalnya, iklim memengaruhi populasi nyamuk aedes aegypti, yang dapat membawa virus dengue penyebab penyakit demam berdarah.(OL-11)
asus campak kembali menjadi perhatian setelah Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengingatkan bahwa bayi berusia di bawah 9 bulan sangat berisiko terinfeksi.
KEPALA Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Aji Muhawarman mengatakan tren mingguan kasus campak pada Maret 2026 mengalami penurunan.
WAKIL Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengimbau masyarakat untuk tetap mengatur makanan di masa lebaran agar tetap sehat.
Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa sampai dengan minggu kesembilan 2026, kasus campak di Indonesia telah turun menjadi 511 kasus dari sebelumnya 531 kasus.
Pemerintah mempercepat pelaksanaan imunisasi campak-rubella (MR) di berbagai daerah menjelang periode mudik dan libur Lebaran.
Antisipasi lonjakan kasus, Kemenkes siapkan layanan vaksinĀ campak (vaksin MR) di posko mudik Lebaran 2026, terutama di bandara dan pelabuhan. Cek detailnya!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved