Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Umum Yayasan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Siti Musdah Mulia mengajak seluruh pihak untuk tidak terjebak provokasi dalam konflik sektarian.
Siti Musdah Mulia di Jakarta, Kamis (5/3), mengatakan bahwa India kini sedang diuji dengan tantangan keragaman. Konflik sektarian agama menjadi penyebab munculnya konflik horizontal yang meluas.
"Tidak seharusnya konflik sektarian di mana pun asalnya ini disikapi dengan dalih solidaritas komunal. Hendaknya kita tidak ikut terprovokasi dalam konflik sektarian dan tetap merawat persaudaraan berbangsa dan bernegara," kata Siti Musdah.
Menghadapi kondisi-kondisi seperti itu, Siti juga menyarankan agar pemerintah bisa selalu bersikap tegas dalam upaya pencegahan konflik di tengah masyarakat.
"Jadi, ketika ada masalah pemerintah itu harus cepat mengantisipasi. Misalnya, sekarang ada berita di India sedang bergolak. Akan tetapi, itu kan kejadiannya di sana. Artinya kita di sini harus tetap menjaga agar jangan sampai hal yang sama terjadi di sini," katanya.
Menurutnya, pemerintah bersama tokoh mayarakat dan tokoh agama harus sigap menanggapi setiap informasi yang beredar, sehingga informasi yang keliru atau dipelintir-pelintir itu tidak sampai terjadi.
Baca Juga: ASN Kemenag Diminta Ikut Tenangkan Masyarakat Soal Korona
"Pemerintah bisa mengimbau masyarakat untuk tetap bersikap secara rasional dan tidak reaktif berlebihan. Tokoh-tokoh masyarakat, pemuka agama juga harus ikut serta untuk memberikan pengertian kepada masyarakat bahwa kita tidak boleh ikut-ikutan seperti di India," ucapnya.
Indonesia, menurut dia, merupakan negara dengan ideologi Pancasila, kemudian ideologi ini menunjukkan sikap menghormati semua agama dan kepercayaan yang berkembang di Tanah Air.
"Tidak mayoritas maupun minoritas semua diperlakukan sama dan setara di sini,” katanya.
Guru Besar Pemikiran Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah itu berpendapat pendidikan agama di Indonesia ini juga belum mampu membuat masyarakat bisa beragama secara rasional sehingga sering kali muncul tindakan-tindakan irasional, tindakan-tindakan intoleran atas nama agama.
“Karena sekarang kita berada pada era post-truth, pada masa orang-orang tidak percaya pada data-data yang valid, tetapi terhadap yang ingin dia percayai meskipun itu tidak benar. Padahal seharusnya apa pun kamu harus tetap rasional, tidak ikut-ikutan rusuh, atau bahkan fanatik dan militan," ujarnya. (OL-15)
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
INDONESIA bukan bangsa kecil. Ia lahir dari semangat, darah, dan cita-cita luhur: memerdekakan manusia dari ketakutan, kebodohan, dan ketidakadilan.
FORUM Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) merekomendasikan perlunya langkah tegas negara melalui revisi regulasi hingga pembentukan UU Anti-Intoleransi.
Menag Nasaruddin Umar menegaskan upaya mencegah intoleransi memerlukan sesuatu yang lebih kuat daripada peraturan pemerintah atau undang-undang. Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia
MENTERI Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Kementerian Agama akan bergerak cepat dalam menangani berbagai kasus intoleransi yang masih terjadi di sejumlah daerah.
MENTERI Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyatakan menyiapkan dua pendekatan agar insiden perusakan rumah doa di Padang, Sumatra Barat tak terulang
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved