Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merespon fenomena ratusan ikan dan biota laut termasuk yang terdampar di pantai Desa Lelingulan, Tanimbar Utara, Maluku, Minggu (13/10) kemarin. Fenomena yang terjadi tidak merujuk pada tanda-tanda akan muncul gempa besar.
Ahli tsunami BNPB Abdul Muhari menyampaikan belum ada penelitian yang menyimpulkan keterkaitan antara biota laut permukaan dengan aktivitas kegempaan dari laut yang biasanya bersumber pada lempeng dengan kedalaman lebih dari 1.000 m.
"Biota-biota yang selama ini seringkali mati dalam jumlah besar kemudian terdampar di pantai adalah biota permukaan atau biota laut dangkal-karang, bukan biota laut dalam," ujar Muhari dalam pesan singkat di Jakarta, Senin (14/10) .
Muhari menambahkan fenomena terdamparnya biota laut dangkal sering kali disebabkan oleh fenomena upwelling, yakni arus naik ke permukaan yang biasanya membawa plankton atau zat hara yang menjadi makanan biota laut dangkal, bukan merupakan efek aktivitas lempeng/sesar.
Baca juga: Ribuan Ikan Terdampar di Pantai Batu Bolong, Ini Penjelasannya
Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat 1.516 gempa susulan pascagempa Maluku berkekuatan 6,5 magnitude yang terjadi pada 26 September di Kepulauan Maluku. Dari jumlah tersebut, 175 gempa susulan dirasakan oleh warga.
Terkait dengan gempa tersebut, BNPB mencatat 148.619 warga masih mengungsi. Berdasarkan data yang dihimpun BNPB hingga 14 Oktober 2019, total rumah rusak di wilayah terdampak, yaitu Kabupaten Maluku Tengah, Seram Bagian Barat dan Kota Ambon mencapai 6.355 unit dengan rincian total rusak berat 1.273 unit, rusak sedang 1.837 dan rusak ringan 3.245.
Korban meninggal tercatat 41 jiwa dan mereka yang masih terluka sebanyak 1.602.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo mengatakan masih dilakukan penanganan darurat untuk Kabupaten Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat, sedangkan untuk Provinsi Maluku khususnya Kota Ambon, sudah dilakukan upaya-upaya transisi darurat ke pemulihan.(OL-5)
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,5 mengguncang wilayah Ambon dan sekitarnya di Provinsi Maluku pada Sabtu.
BMKG melaporkan gempa tektonik berkekuatan M5,8 mengguncang wilayah Laut Banda, Maluku Tengah, pada Kamis (20/11) pukul 13.59 WIB dan berpusat di ambon
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menetapkan Ambon sebagai daerah percontohan penyusunan matrix risiko bencana banjir dan tanah longsor.
Seorang warga Desa Lauran bernama Yoakim, 44 tahun, ditemukan rekan-rekannya meninggal dunia saat sedang melaut.
Warga Ambon dan sekitarnya kembali diguncang gempa bumi tektonik susulan bermagnitudo 3,2 pada Sabtu (28/12),sekitar pukul 10:56.08 WIT.
Warga diimbau tetap mewaspadai dampak hujan lebat dan angin kencang yang mulai melanda sejumlah daerah saat ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved