Headline
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Kumpulan Berita DPR RI
KREATOR komik asal Amerika Serikat, Sam Kieth, meninggal dunia pada Minggu (15/3) lalu di usia 63 tahun. Setelah wafat, ia meninggalkan sejumlah warisan penting dalam industri komik, di antaranya melalui dua karya yang paling dikenal, yakni The Sandman dan The Maxx. Keduanya tak hanya populer di halaman komik tetapi juga telah diadaptasi ke berbagai medium layar.
Kedua karya tersebut dikenal luas karena menghadirkan pendekatan cerita yang berbeda dari komik pada umumnya, mulai dari eksplorasi dunia mimpi hingga kisah yang dipenuhi konflik psikologis. Lantas, seperti apa cerita di balik The Sandman dan The Maxx, serta bagaimana perjalanan keduanya hingga diadaptasi ke layar?
Karier Sam Kieth mencapai puncaknya saat ia bekerja bersama Neil Gaiman dalam menciptakan komik The Sandman pada akhir 1980-an. Ia menggambar lima edisi awal yang kemudian dikenal sebagai fondasi visual dari seri tersebut.
Lewat goresannya, Kieth membantu menghadirkan nuansa gelap, surealis, dan penuh simbol yang menjadi ciri khas kisah Dream. Pendekatan visualnya yang tidak biasa turut membentuk identitas awal The Sandman, yang kemudian berkembang menjadi salah satu komik paling berpengaruh sepanjang masa.
Perjalanan adaptasi The Sandman pun tidak mudah. Sejak 1990-an, komik ini beberapa kali direncanakan untuk diangkat menjadi film layar lebar, namun selalu gagal karena kompleksitas ceritanya yang sulit dirangkum dalam durasi singkat.
Baru pada 2022, The Sandman berhasil diadaptasi menjadi serial live-action oleh Netflix. Format serial dinilai lebih mampu mengakomodasi alur cerita yang luas, dengan kisah yang mengikuti perjalanan Dream dalam memulihkan kekuatan dan memperbaiki dunia mimpi setelah lama terkurung.
Sementara itu, The Maxx menjadi karya orisinal Sam Kieth yang dirilis pada 1993. Komik ini bercerita tentang seorang pria misterius yang hidup dalam dua dunia, yaitu dunia realitas sebagai tunawisma dan dunia alternatif bernama Outback sebagai sosok pelindung.
Komik ini dikenal karena kemampuannya mengaburkan batas antara realitas dan ilusi, sehingga pembaca kerap dibuat mempertanyakan mana yang benar-benar nyata. Di saat yang sama, ceritanya mengangkat tema-tema mendalam seperti trauma hingga kesehatan mental yang disajikan melalui pendekatan yang unik.
Berbeda dengan The Sandman, perjalanan adaptasi The Maxx justru lebih singkat. Komik ini diadaptasi menjadi serial animasi yang tayang di program Liquid Television milik MTV pada pertengahan 1990-an.
Gaya visualnya memadukan animasi 2D, CGI, hingga elemen live-action, membuat film ini dinilai unik pada masanya. Hingga kini, The Maxx belum pernah diangkat menjadi film layar lebar.
Sepanjang kariernya, Sam Kieth dikenal sebagai seniman yang “melawan arus”. Ia tidak mengikuti gaya superhero pada umumnya, melainkan menghadirkan pendekatan visual yang ekspresif, gelap, dan penuh emosi.
Dari dunia mimpi dalam The Sandman hingga realitas retak dalam The Maxx, Kieth menunjukkan bahwa komik bukan sekadar hiburan visual, melainkan wadah untuk mengeksplorasi sisi terdalam manusia, baik secara psikologis maupun filosofis.
Meski dalam beberapa tahun terakhir ia mengurangi aktivitas karena masalah kesehatan, pengaruh Sam Kieth tetap terasa kuat di industri komik.
Sam Kieth meninggalkan seorang istri, Kathy Kieth, yang telah mendampinginya selama lebih dari empat dekade. (Variety/Netflix/The Economic Times/Z-2)
Kreator The Maxx, Sam Kieth meninggal dunia pada usia 63 tahun.
Kreator The Maxx, Sam Kieth meninggal dunia pada usia 63 tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved