Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
RAKSASA industri musik, Sony Music, mengumumkan perang terhadap konten ilegal setelah meminta penghapusan lebih dari 135.000 lagu hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI). Lagu-lagu "deepfake" tersebut diketahui meniru suara artis-artis besar seperti Beyoncé, Queen, hingga Harry Styles di berbagai layanan streaming.
Fenomena ini disebut menggunakan teknologi AI generatif untuk menciptakan tiruan yang sangat mirip dengan aslinya. Sony menegaskan proliferasi karya palsu ini menyebabkan kerugian komersial langsung bagi musisi asli, terutama mereka yang sedang dalam masa promosi album baru.
Dennis Kooker, Presiden Bisnis Digital Global Sony, mengungkapkan dalam kasus terburuk, konten deepfake ini berpotensi merusak kampanye rilis lagu atau mencoreng reputasi seorang artis.
"Masalah dengan deepfake adalah mereka merupakan peristiwa yang digerakkan oleh permintaan. Mereka memanfaatkan fakta bahwa seorang artis sedang gencar mempromosikan musiknya," ujar Kooker. "Di situlah deepfake berada pada titik terburuknya, membangun dan mengambil keuntungan dari permintaan yang diciptakan artis, dan akhirnya mengurangi apa yang ingin dicapai oleh artis tersebut."
Data dari International Federation of the Phonographic Industry (IFPI) menunjukkan sejak Maret tahun lalu saja, telah teridentifikasi sekitar 60.000 lagu yang secara salah mengeklaim menampilkan artis dari katalog Sony, termasuk Bad Bunny, Miley Cyrus, dan Mark Ronson.
Meski diterpa isu penipuan, industri musik sebenarnya sedang menikmati masa pertumbuhan. Global Music Report mencatat pendapatan musik rekaman tumbuh 6,4% tahun lalu, mencapai angka US$31,7 miliar. Pertumbuhan selama 11 tahun berturut-turut ini didorong oleh langganan streaming yang menyelamatkan industri dari era pembajakan.
Industri musik kini mendesak adanya regulasi ketat dan transparansi dari platform streaming seperti Spotify, YouTube, dan Apple Music. IFPI memperkirakan sekitar 10% konten di platform streaming saat ini adalah ilegal atau hasil manipulasi.
CEO IFPI, Victoria Oakley, menekankan pentingnya alat identifikasi untuk melabeli musik buatan AI saat diunggah. Ia memuji langkah platform streaming asal Prancis, Deezer, yang sudah memiliki perangkat lunak pendeteksi AI.
"Tantangan untuk mengidentifikasi dan melabeli materi AI adalah tantangan kritis berikutnya," tegas Oakley.
Kooker menambahkan bahwa tanpa identifikasi yang jelas, penggemar tidak akan bisa membedakan kreativitas manusia yang tulus dengan konten buatan AI yang tidak sah. Hal ini berisiko menciptakan kebingungan, merusak kepercayaan, dan berdampak pada pengalaman pengguna. Menurutnya, transparansi bukan lagi sebuah pilihan, melainkan fondasi bagi ekosistem musik yang adil dan berkelanjutan. (BBC/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved