Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
BAGI sutradara Sim F, kembali ke kursi sutradara setelah lima tahun sejak film Susi Susanti: Love All (2019) bukan sekadar urusan profesional. Pandemi covid-19 memaksanya mengambil jeda panjang, masa yang ia manfaatkan untuk fokus pada pengembangan cerita. Namun, proyek terbarunya, Surat untuk Masa Mudaku, membawa sebuah misi yang jauh lebih personal: sebuah pengakuan yang telah ia simpan rapat selama puluhan tahun.
Selama ini, Sim F tidak mudah terbuka mengenai latar belakangnya. Ia mengaku baru benar-benar berani menceritakan identitasnya sebagai anak panti asuhan sekitar sepuluh tahun terakhir. "Gimana, kayaknya takut gitu, untuk nyeritain siapa saya, siapa diri saya," ungkapnya mengenang masa-masa ia merasa enggan membeberkan masa lalunya.
Rasa takut akan stigma dan duka masa lalu sempat membuatnya tertutup, hingga akhirnya ia mulai bercerita melalui media sosial dan mendapatkan respons positif yang menjadi titik baliknya.
Film ini berakar dari sebuah tulisan nyata yang pernah ia buat untuk anak-anak panti asuhan. Melalui surat tersebut, ia ingin menyampaikan bahwa menjadi anak panti bukanlah sebuah pilihan, namun berjuang untuk masa depan adalah sebuah keharusan. Tema besar mengenai kehilangan keluarga dan rasa sendirian yang ia alami sejak kecil di panti asuhan Sukabumi menjadi ruh utama dalam karya ini.
Selama 28 hari proses syuting, Sim F merasakan kedekatan emosional yang luar biasa. Ia bahkan melihat bayangan dirinya sendiri pada aktor muda Milo Taslim.
"Dia kebetulan lihat foto lama, mirip banget," ujarnya mengenai kemiripan aktor utama dengan masa kecilnya.
Baginya, mengarahkan film ini terasa seperti kilas balik yang emosional karena hampir semua adegan terasa sangat personal.
Melalui karya yang universal ini, Sim F ingin menitipkan pesan bagi anak-anak yang memiliki latar belakang serupa dengannya.
"Latar belakang kalian nggak mempengaruhi masa depan kalian. Memang nggak bisa dipungkiri, cuma ya harus melawan," tegasnya.
Baginya, menceritakan masa lalu bukan lagi sebuah ketakutan, melainkan cara untuk membagikan berkat kepada orang banyak. (E-4)
Surat Untuk Masa Mudaku menyoroti perjalanan hidup karakter bernama Kefas, yang diperankan oleh Millo Taslim pada masa muda dan Fendy Chow saat beranjak dewasa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved