Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
MEDIA punya peran besar dalam membentuk cara masyarakat melihat dunia politik. Apa yang kita baca, tonton, dan dengar setiap hari ikut memengaruhi penilaian kita terhadap para kandidat yang maju dalam kontestasi politik.
Sayangnya, dalam banyak kasus, media arus utama masih memperlakukan kandidat perempuan secara berbeda jika dibandingkan dengan kandidat laki-laki. Perbedaan ini memang tidak selalu terlihat secara terang-terangan, tetapi hadir lewat pilihan kata, sudut pandang, dan fokus pemberitaan yang terus berulang.
Sebagai pembaca, kita sering menganggap berita sebagai cerminan realitas. Padahal, media bekerja melalui proses seleksi. Tidak semua hal ditampilkan, dan tidak semua aspek diberi porsi yang sama. Di sinilah framing bekerja.
Dalam pemberitaan politik, kandidat perempuan sering kali dikenalkan lewat identitas gendernya terlebih dahulu. Status sebagai 'perempuan' menjadi pintu masuk narasi, seolah itu adalah hal utama yang perlu diketahui publik. Akibatnya, kandidat perempuan kerap terlihat sebagai sesuatu yang berbeda, bahkan tidak biasa, di tengah arena politik.
Hal lain yang cukup sering muncul adalah penekanan pada sisi personal kandidat perempuan. Media gemar membahas peran keluarga, kehidupan rumah tangga, atau penampilan. Hal-hal ini jarang mendapat porsi yang sama ketika media memberitakan kandidat laki-laki.
Masalahnya bukan pada pembahasan sisi personal itu sendiri, melainkan pada ketidakseimbangannya. Ketika urusan personal lebih disorot ketimbang program dan gagasan, publik kehilangan kesempatan untuk menilai kandidat secara utuh dan rasional.
Dalam banyak pemberitaan, masih terlihat adanya standar ganda dalam menilai kepemimpinan. Ketika kandidat laki-laki bersikap tegas, media sering memaknainya sebagai sosok yang kuat. Namun, ketegasan yang sama pada kandidat perempuan justru kerap dilabeli negatif.
Sebaliknya, ketika kandidat perempuan menunjukkan sisi empati atau kelembutan, hal tersebut dianggap sebagai tanda kurangnya ketegasan. Situasi ini membuat kandidat perempuan berada di posisi serba salah. Apa pun sikap yang ditunjukkan, selalu ada risiko dipersepsikan keliru.
Framing semacam ini tidak berhenti di ruang redaksi. Ia memengaruhi cara publik berpikir dan menilai. Jika media terus mengulang narasi yang bias, masyarakat pun akan terbiasa melihat kepemimpinan perempuan sebagai sesuatu yang perlu dipertanyakan.
Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menghambat partisipasi politik perempuan dan membuat demokrasi berjalan tidak seimbang. Padahal, demokrasi yang sehat seharusnya memberi ruang yang sama bagi siapa pun, tanpa dibatasi oleh stereotipe gender.
Media arus utama punya tanggung jawab besar dalam menjaga kualitas ruang publik. Memberitakan kandidat perempuan secara adil bukan berarti mengistimewakan, tetapi menempatkan mereka pada posisi yang setara.
Sudah saatnya media lebih fokus pada gagasan, kapasitas, dan rekam jejak, bukan pada identitas personal yang tidak relevan. Dengan begitu, publik bisa menilai kandidat secara lebih jernih, dan demokrasi bisa tumbuh ke arah yang lebih dewasa
Selama representasi perempuan masih dibatasi pada citra personal dan domestik, ruang bagi kepemimpinan perempuan akan terus menyempit.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved