Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SAMUDRA luas kini digerus badai bergema. Ketidakpastian global semakin memuncak. Hal ini bukan hanya akibat ketegangan geopolitik, melainkan karena lahirnya proteksionisme baru. Penerapan kebijakan tarif impor sepihak Amerika Serikat yang dijuluki Liberation Day telah memicu perang dagang dan perpecahan ekonomi yang semakin melebar.
Dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025, Gubernur Bank Indonesia (BI) dengan lugas memetakan lima karakteristik muram perekonomian global: pertama, proteksionisme AS yang berlarut dan tarif dagang tinggi. Kedua, pertumbuhan melambat dan terfragmentasi. Ketiga, utang publik dan suku bunga yang tinggi. Keempat, pasar keuangan global yang rentan. Kelima, fenomena bubble mata uang kripto.
Dampaknya, pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksikan melambat dari 3,3% pada 2024 menjadi hanya 3,1% pada 2025 dan 3,0% pada 2026. Bagi Indonesia, ini merupakan momen penentu untuk bersikap, seperti filosofi masyarakat Batak : marbisuk songon ulok, marrroha songon darapati (bijak dan berhati-hati dalam mengambil keputusan).
Di tengah lonjakan global, perekonomian nasional Indonesia tetap kuat bertahan dalam menjalankan peran sebagai 'jangkar' stabilitas. Kuncinya hanya satu kata: sinergi. Hasil kinerja terlihat nyata : stabilitas harga tetap terjaga dengan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) yang rendah, yaitu 2,86% (yoy) pada Oktober 2025, berada dalam kisaran sasaran 2,5% ± 1%. Nilai tukar rupiah pun diperkirakan tetap stabil berkat komitmen besar Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas dan didukung prospek ekonomi yang baik.
Melalui tema Tangguh dan Mandiri, Bank Indonesia memperkuat bauran kebijakan (policy mix) yang kini berfungsi sebagai 'mesin ganda' yang serentak dan selaras mendorong pertumbuhan sekaligus menjaga stabilitas
1.Kebijakan Moneter : Bank Indonesia mengambil langkah forward-looking dan pre-emptive. Sejalan dengan rendahnya inflasi, BI-Rate telah diturunkan sebanyak 6 kali sepanjang 2025, mencapai 4,75% pada September 2025, level terendah sejak 2022. Kebijakan ini memberikan ruang bagi penurunan suku bunga perbankan, meskipun perlambatan dalam transmisi suku bunga kredit masih menjadi pekerjaan rumah.
2.Kebijakan Makroprudensial : dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia mengoptimalkan Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM). Hingga minggu pertama November 2025, insentif likuiditas sebesar Rp404,6 triliun telah disalurkan kepada perbankan.
Dana segar ini secara strategis diarahkan ke sektor-sektor prioritas utama, seperti hilirisasi minerba dan pangan, UMKM, dan sektor padat karya lainnya, sejalan dengan program Asta Cita pemerintah.
Selain mesin ganda moneter dan makroprudensial, pada kegiatan PTBI 2025 juga menyoroti dua pilar strategis yang vital untuk masa depan, yakni, pertama, akselerasi digitalisasi ekonomi-keuangan Nasional. Sesuai Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030, digitalisasi terus dimaksimalkan, termasuk pengembangan infrastruktur New BI-FAST yang akan terkoneksi dengan fast payments industri, demi mewujudkan visi Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa dalam transaksi digital.
Kedua, penguatan gerbang internasional. Bank Indonesia memperkuat kerja sama internasional, termasuk pembaharuan perjanjian Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) dengan People’s Bank of China (PBoC) senilai 400 miliar yuan. Selain itu, inisiatif Local Currency Transaction (LCT) terus diperluas untuk memperkuat ketahanan eksternal ekonomi dari dampak gejolak global. Di bidang ekonomi syariah, Indonesia berhasil mempertahankan peringkat Top 3 global dalam State of Global Islamic Economy (SGIE) Report 2024/2025, menunjukkan leadership yang kuat.
Perekonomian Indonesia tahun 2025 membuktikan, bahwa ketahanan dan pertumbuhan yang tinggi bukanlah sebuah fiksi semata, melainkan buah nyata dari sinergi yang kuat antara Bank Indonesia, Pemerintah, dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). "Sinergi merupakan kunci ekonomi Indonesia untuk tangguh dan mandiri dalam menghadapi gejolak global, serta mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya tahan," tegas Gubernur Bank Indonesia.
Dengan fondasi kebijakan yang solid, akselerasi digital, dan kerja sama internasional yang erat, langkah Indonesia menjadi semakin optimistis. Tugas kita bersama, sebagai warga negara dan bagian dari ekosistem ekonomi adalah terus mempererat sinergi ini. Inilah yang menjadi arah menunjukkan jalan, komitmen, inilah semangat kolektif untuk melangkah ke depan menuju Indonesia Emas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved