Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Sinergi Kebijakan untuk Pertumbuhan Ekonomi yang Lebih Tangguh dan Mandiri

Agnia Rahma Ananta, mahasiswa Institut Agama Islam SEBI, penerima Beasiswa Program Generasi Baru Indonesia (GenBI)
11/12/2025 13:34
Sinergi Kebijakan untuk Pertumbuhan Ekonomi yang Lebih Tangguh dan Mandiri
Agnia Rahma Ananta(DOK PRIBADI)

PERTEMUAN Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 menjadi ajang penting bagi arah kebijakan ekonomi Indonesia. Dengan tajuk Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan, forum ini menegaskan pentingnya kerja sama lintas lembaga dalam menjaga stabilitas sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Sepanjang 2025, perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat meskipun tekanan global masih tinggi. Presiden RI Prabowo Subianto, menekankan bahwa ketahanan tersebut lahir dari kolaborasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil. Presiden juga menegaskan perlunya kemandirian ekonomi, pengambilan keputusan yang tenang, serta eksekusi kebijakan yang percaya diri agar Indonesia tidak bergantung pada negara lain.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan optimisme, bahwa perekonomian Indonesia pada 2026–2027 akan tumbuh lebih tinggi, yakni berada pada kisaran 4,9–5,9%. Prospek tersebut didukung oleh konsumsi dan investasi yang menguat, inflasi yang tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1%, serta stabilitas eksternal yang terjaga. Di tengah prospek positif tersebut, lima tantangan global tetap perlu diwaspadai, yakni kebijakan tarif AS, perlambatan ekonomi dunia, tingginya utang negara maju, risiko sistem keuangan global, dan meningkatnya peredaran aset kripto privat.

Sinergi kebijakan dipandang sebagai prasyarat utama untuk menjaga ketahanan ekonomi. Upaya tersebut mencakup penguatan stabilitas makro, perluasan pembiayaan ekonomi, akselerasi digitalisasi, serta peningkatan kerja sama ekonomi internasional. 

Pada sektor riil, transformasi dilakukan melalui kebijakan industrial yang menekankan hilirisasi berbasis sumber daya alam, pengembangan industri teknologi, dan sektor padat karya. Di sisi lain, reformasi struktural diarahkan pada perbaikan iklim investasi, persaingan usaha yang sehat, peningkatan konektivitas, serta optimalisasi Kawasan Ekonomi Khusus sebagai pusat pertumbuhan.

Pada 2026, bauran kebijakan Bank Indonesia tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan tanpa mengorbankan stabilitas. Kebijakan moneter difokuskan pada pro-stability, sementara kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran berperan sebagai motor pro-growth

Perluasan instrumen sistem pembayaran seperti QRIS dan BI-FAST menjadi bagian dari strategi digitalisasi untuk mempercepat transaksi, memperkuat inklusi keuangan, dan meningkatkan efisiensi ekonomi. Penguatan edukasi dan distribusi uang Rupiah juga terus dilakukan sebagai bentuk penjagaan kedaulatan mata uang negara.

Pendalaman pasar uang dan valas (PUVA) sesuai BPPU 2030 menjadi langkah strategis dalam memperkuat transmisi kebijakan moneter. BI mendorong pengembangan pasar sekunder yang modern, peningkatan standar internasional, serta perluasan instrumen pembiayaan. Di saat yang sama, program inklusi ekonomi dan keuangan terutama bagi UMKM dan ekonomi syariah terus diperluas untuk meningkatkan pemerataan manfaat pertumbuhan.

Transformasi kelembagaan BI juga menjadi fondasi penting dalam menghadapi dinamika global. Melalui integrasi proses kerja, percepatan digitalisasi kebijakan berbasis Integrated Digital Central Bank (IDCB), dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, BI memperkuat kapasitas internalnya. Sepanjang 2025, BI meraih sepuluh penghargaan internasional yang menunjukkan pengakuan luas atas kinerja dan inovasinya.

PTBI 2025 juga dirangkaikan dengan penganugerahan TPID Award, TP2DD Championship, dan BI Award bagi mitra strategis yang berkontribusi dalam pengendalian inflasi, digitalisasi keuangan daerah, dan penguatan sistem pembayaran nasional. Kehadiran Presiden, pimpinan lembaga negara, perbankan, akademisi, hingga perwakilan internasional menunjukkan bahwa PTBI telah menjadi forum penting dalam merumuskan arah kebijakan nasional yang lebih komprehensif.

Dengan bauran kebijakan yang adaptif, kolaboratif, dan bertumpu pada digitalisasi serta kemandirian ekonomi, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan yang lebih cepat, lebih inklusif, dan lebih berdaya tahan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya