Sabtu 24 Oktober 2020, 01:30 WIB

Artificial Intelligence Sebuah Keniscayaan

Syarief Oebaidillah | Fokus
Artificial Intelligence Sebuah Keniscayaan

FOTO: 123RF
Artificial Intelligence Sebuah Keniscayaan

Pesatnya kemajuan teknologi era revolusi industri 4.0 yang mengelaborasikan teknologi siber dan teknologi otomatisasi berlandaskan pada lima pilar utama, yakni internet of things, big data, artificial intelligence, cloud computing, dan additive manufacturing.

Artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan menjadi salah satu pendorong utama dalam berbagai sektor industri dan menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari.

Konsultan McKinsey & Company menyatakan AI menghasilkan hampir 5,8 triliun dolar AS per tahun di beberapa sektor bisnis di seluruh dunia. Angka ini bahkan diprediksi mencapai 15,7 triliun dolar AS hingga 2030.

Mckinsey juga mengungkapkan, di Indonesia, ada 23 juta pekerjaan di Indonesia yang terancam hilang dan diganti mesin/otomatisasi. Meski demikian, AI justru dapat menciptakan lapangan kerja baru serta kompetensi baru sehingga membuka peluang bagi Indonesia yang sedang menyambut bonus demografis 2050.

Potensi yang demikian besar ditindaklanjuti dengan kebijakan yang komprehensif agar Indonesia dapat menjawab tantangan AI serta dapat menjaga daya saing dengan negara lain. Diperlukan juga kesiapan sumber daya manusia yang kompeten dalam bidang AI.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kemendikbud meluncurkan Konsorsium Riset Artificial Intelligence (KRAI) untuk mempersiapkan talenta AI sehingga berdaya saing di bidang teknologi, pangan, kesehatan, keamanan, manufaktur, transportasi, dan informasi.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemendikbud Nizam pada peluncuran KRAI secara virtual pekan lalu di Jakarta, mengutarakan dibutuhkan sekitar 250 ribu talenta di bidang AI dalam 5 tahun ke depan. Tantangan itu dapat dipenuhi dengan cara bergandengan tangan dan bergotong royong atau kolaborasi antara dunia pendidikan, dunia penelitian, dan dunia industri.

"Sebagai Dirjen Dikti yang mengelola sistem pendidikan tinggi di Indonesia, tugas saya menyinergikan, mendorong, dan memfasilitasi perguruan tinggi untuk melaju dalam bidang AI. Agar kemajuannya cepat, salah satu strateginya membangun konsorsium perguruan tinggi papan atas di dalam negeri dengan melibatkan perguruan tinggi kelas dunia serta industri global bidang AI,'' kata Nizam kepada Media Indonesia, kemarin.

KRAI, lanjut Nizam, akan menjadi tulang punggung menyiapkan 10 ribu talenta AI. Output yang dihasilkan tidak hanya mahasiswa atau lulusan yang kompeten di bidang AI, tetapi juga penelitian dan proyek yang mengakselerasi transformasi ekonomi Indonesia menghadapi revolusi industri 4.0

Nizam mengutarakan, saat ini pemerintah telah memiliki cetak biru pengembangan AI. Aspek yang dikembangkan meliputi pengembangan sumber daya manusia/talenta AI, etika dan kebijakan AI, pengembangan infrastruktur dan data, riset, serta inovasi industri.

"Belum ada target angka-angkanya. Kita semua memahami persaingan dalam pengembangan AI sangat ketat. Dunia melaju dengan cepat. Pemerintah di sejumlah negara mengucurkan dana besar-besaran untuk pengembangan AI," cetusnya. Pemerintah Tiongkok, misalnya, mengeluarkan dana hingga 70 miliar dolar AS pada 2020, naik dari 12 miliar dolar AS pada 2017, paling banyak jika dibandingkan dengan negara lain, termasuk Amerika Serikat, sedangkan pemerintah Singapura merogoh kocek sebesar 500 juta dolar AS untuk pengembangan AI.

Dalam global AI Index, Indonesia berada di peringkat 49, di bawah Tiongkok (2), Singapura (7), Korea Selatan (8), bahkan Malaysia (40).

Nantinya, kata Nizam, pengembangan artificial intelligence lebih baik dilakukan dengan pendekatan bottom up karena akan jauh lebih sustainable jika dibandingkan dengan pendekatan top down. Hal tersebut sesuai dengan agenda nasional yang besar sehingga dibutuhkan resource yang besar agar transformasi tersebut terjadi.

"Kolaborasi dengan berbagai mitra strategis yang berjalan dengan baik, seperti dengan Nvidia, Google, Amazon Web Service, dan Huawei. Jika semua pihak bergandengan tangan, talenta digital dapat terwujud," tukasnya.

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza menegaskan AI masuk ke strategi nasional yang menjadi mandat langsung dari Presiden Joko Widodo untuk mewujudkan Indonesia Maju 2020-2045. Peta jalan Making Indonesia 4.0 yang menjadi salah satu prioritas mencapai target Indonesia Maju 2045 menjadikan kompetensi dalam bidang AI ialah suatu keniscayaan.

"Kita persiapkan talenta AI yang berdaya saing dan berkarakter, mewujudkan ekosistem data dan infrastruktur yang mendukung kontribusi AI untuk kepentingan negara. Kita perlu menumbuhkembangkan ekosistem kolaborasi riset dan inovasi AI guna mengakselerasi reformasi birokrasi serta industri nasional yang unggul," kata Hammam.

"Indonesia akan menghadapi bonus demografi. Kesempatan ini kita manfaatkan dengan menyiapkan sumber daya manusia talenta AI yang berdaya saing dan berkarakter dalam menghasilkan inovasi yang unggul," tukas Hammam.

 

Peluang

Besarnya potensi dari aplikasi dan pengembangan AI membuat negara-negara berlomba-lomba dalam riset dan inovasi AI. Menurut kajian Kearney, AI dapat meningkatkan GDP Indonesia sebesar US$366 miliar dalam 10 tahun ke depan. Saat ini penggunaan AI dalam e-commerce di Indonesia terbukti bisa meningkatkan transaksi sampai 200%.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan penerapan ekonomi digital yang berbasis pada inovasi, dinilai juga mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional hingga 2% dari baseline sebesar 5,6%.

"Kemudian diproyeksikan bakal terciptanya lapangan kerja hingga lebih dari 10 juta orang dan kontribusi manufaktur bisa terdongkrak sebesar 25%," terangnya.

Kemajuan dalam bidang AI juga dimanfaatkan dalam penanganan pandemi covid-19. Layanan kesehatan melalui telemedicine menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat untuk berkonsultasi jarak jauh dengan tenaga kesehatan. Tentu hal ini akan meringankan beban rumah sakit, serta mempermudah masyarakat mendapatkan informasi kesehatan tanpa harus keluar dari rumah sehingga mengurangi potensi penularan covid-19.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M Faqih mengatakan penerapan telemedicine juga akan membuka akses masyarakat terhadap kesehatan menjadi lebih lebar.

Pada awal pandemi, warga yang saat ini sedang melakukan isolasi mandiri di rumah dapat memanfaatkan fasilitas telemedicine yang tersaji di platform dan aplikasi kesehatan yang bekerja sama dengan pemerintah untuk pencegahan penyebaran covid-19.

Hingga kini, pemerintah, akademisi, serta swasta pun memanfaatkan AI untuk penanganan pandemi covid-19. Universitas Gadjah Mada (UGM) menciptakan alat pendeteksi covid-19 berbasis AI yang mendeteksi dari hembusan napas orang yang terinfeksi yang disebut GeNose.

Institut Teknologi Bandung mengembangkan ventilator portabel, sedangkan Universitas Gunadarma mengembangkan ventilator Robovent. (H-3)

Baca Juga

 ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

Butuh Regulasi yang Jelas

👤 (Fer/H-1). 🕔Sabtu 28 November 2020, 00:40 WIB
FAKTOR kecepatan dan ketepatan sudah menjadi hal mutlak yang harus diadopsi terhadap pelayanan kesehatan...
Dok.MI/Seno

Layanan Kesehatan di Ujung Jari

👤ATALYA PUSPA 🕔Sabtu 28 November 2020, 00:35 WIB
PEMBATASAN sosial berskala besar akibat pandemi covid-19 memengaruhi aktivitas...
MI/Folmer

Mendekatkan RSUD Merauke dengan Warga Pedalaman

👤(Suryani Wandari Putri/H-1) 🕔Sabtu 28 November 2020, 00:30 WIB
HAMPIR di setiap rumah sakit atau pelayanan di fasilitas kesehatan lainnya di loket pendaftaran selalu ramai dengan antrean...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya