Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
PERUBAHAN pola kerja global semakin nyata, didorong dengan ekspektasi karyawan yang terus berkembang lintas generasi. Senior Vice President, IWG Asia Pacific Lars Wittig mengungkapkan bahwa transformasi tenaga kerja (workforce transformation) saat ini tidak bisa dilepaskan dari perbedaan karakter tiap generasi, khususnya Generasi Z.
Menurutnya, Gen Z hadir dengan preferensi yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga fleksibilitas serta rasa komunitas dalam bekerja. “Generasi muda sangat menghargai fleksibilitas dan interaksi sosial. Mereka ingin bekerja di lingkungan yang memungkinkan kolaborasi, sekaligus tetap memberi ruang untuk keseimbangan hidup," ujarnya.
Di sinilah model bisnis IWG menjadi relevan. Dengan portofolio klien beragam dan jaringan global yang kuat, IWG menyediakan ruang kerja fleksibel yang tidak hanya menjadi tempat bekerja, namun juga wadah membangun komunitas profesional. Konsep ini memungkinkan individu dari berbagai latar belakang industri untuk saling berinteraksi, bertukar ide, hingga membuka peluang kolaborasi baru.
Namun, Lars juga menekankan bahwa transformasi ini tidak hanya mengenai generasi muda. Transfer pengetahuan antar generasi menjadi elemen krusial dalam menjaga keberlanjutan kompetensi tenaga kerja. Ia menilai, hubungan dua arah antara profesional senior dan Gen Z sangat penting.
“Bukan hanya generasi lebih muda yang belajar dari senior, tetapi kami juga banyak belajar dari mereka. Jika kedua pihak tidak saling belajar, dalam lima tahun mereka bisa menjadi obsolet atau tertinggal,” tegasnya.
Indonesia menjadi salah satu pasar strategis bagi IWG di kawasan Asia Pasifik. Hingga saat ini, IWG sendiri telah mengoperasikan 56 pusat kerja fleksibel yang tersebar di 9 kota di Indonesia. Menariknya, sekitar 83% klien IWG berasal dari perusahaan global, termasuk kategori Fortune 500. Hal ini memberikan nilai tambah bagi para pengguna di Indonesia karena mereka tidak hanya bekerja dalam ekosistem lokal, tetapi juga terhubung dengan jaringan global yang mencakup lebih dari 8 juta pengguna di seluruh dunia.
Lars menekankan pendekatan “act global, think local” sebagai kunci keberhasilan ekspansi mereka. Artinya, meskipun memiliki jaringan internasional yang kuat, IWG tetap menyesuaikan layanan dengan kebutuhan pasar lokal.
Konsep 15-minute city merupakan sebuah konsep yang mengedepankan integrasi berbagai fungsi dalam satu kawasan, mulai dari tempat kerja, hiburan, hingga kebutuhan sehari-hari, yang semuanya dapat dijangkau dalam waktu 15 menit.
Di Indonesia, implementasi konsep ini mulai terlihat, terutama melalui pengembangan kawasan mixed-use building yang menggabungkan fungsi harian, perkantoran, pusat perbelanjaan, hingga fasilitas hiburan seperti bioskop. Namun, salah satu hal yang menjadi tantangan terbesar adalah modal yang sangat besar. Pengembangan kawasan terpadu membutuhkan investasi yang tidak sedikit, terlebih dengan implementasi di kota besar seperti Jakarta.
Sebaliknya, peluang lebih besar justru berada di luar Jakarta, khususnya di kawasan township baru yang masih dalam tahap pengembangan. “Di luar Jakarta, kita melihat potensi besar untuk mengembangkan konsep ini. Dengan perencanaan yang tepat, kota-kota baru bisa langsung mengadopsi model yang lebih modern dan berkelanjutan,” ujarnya.
Selanjutnya, selain faktor generasi, para profesional juga memiliki peran besar dalam membentuk budaya kerja di era modern. Salah satu aspek yang paling signifikan adalah terkait mobilitas dan waktu tempuh (commute).
IWG melihat cara seseorang bekerja kini sangat dipengaruhi oleh bagaimana mereka bepergian ke tempat kerja. Perjalanan yang panjang dan tidak efisien dapat berdampak pada produktivitas, kesejahteraan, hingga kepuasan kerja. Selain itu, dari perspektif perusahaan, organisasi merasa retensi talenta turut menjadi hal yang penting karena berpotensi panjang pada
“Profesional saat ini semakin mempertimbangkan lokasi kerja yang dekat dengan tempat kerja tinggal atau mudah diakses. Ini menjadi faktor penting dalam membentuk budaya kerja yang lebih sehat dan produktif,” tambah Lars.
Dengan hadirnya ruang kerja fleksibel yang tersebar di berbagai lokasi, pekerja memiliki lebih banyak pilihan untuk bekerja lebih dekat dengan rumah, sehingga mengurangi beban perjalanan harian.
Ke depan, Lars optimistis bahwa fleksibilitas akan menjadi standar baru dalam dunia kerja, khususnya dalam kondisi ketidakpastian yang semakin meningkat secara global. Perusahaan yang mampu mengakomodasi kebutuhan ini akan memiliki keunggulan dalam menarik dan mempertahankan talenta.
Dengan perubahan yang terus berlangsung, baik dari sisi teknologi, demografi, maupun ekspektasi karyawan, dunia kerja akan terus berevolusi. Adaptasi menjadi kunci utama agar individu maupun organisasi tetap relevan.
“Perubahan ini tidak bisa dihindari. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa beradaptasi dan terus belajar,” tutupnya. (E-4)
PEMERINTAH Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, mulai menerapkan kebijakan penyesuaian pola kerja aparatur sipil negara (ASN) melalui mekanisme Work From Home (WFH).
Skema kerja WFH hanya diperuntukkan bagi ASN yang tugasnya tidak bersentuhan langsung dengan pelayanan masyarakat.
Kebijakan ini juga memberikan manfaat ekonomi langsung bagi pekerja karena berkurangnya biaya transportasi dan operasional harian.
Masyarakat tidak perlu khawatir terkait pengurusan dokumen kependudukan, seperti KTP, Kartu Keluarga, akta kelahiran, dan dokumen lainnya.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan bahwa perusahaan swasta memiliki fleksibilitas dalam menentukan hari pelaksanaan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved