Headline

Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.

Pemanfaatan HPAL oleh GEM Group Perkuat Posisi RI di Rantai Pasok Baterai Kendaraan Listrik

Irvan Sihombing
30/3/2026 18:49
Pemanfaatan HPAL oleh GEM Group Perkuat Posisi RI di Rantai Pasok Baterai Kendaraan Listrik
Penggunaan teknologi hidrometalurgi terbaru memungkinkan pemulihan logam seperti nikel dan kobalt secara maksimal dan ekonomis.(Dok. Istimewa)

GEM Group (GEM Co., Ltd.) melalui anak perusahaan PT QMB New Energy Materials terus melakukan terobosan efisiensi dalam hilirisasi nikel di Indonesia dengan menekan biaya produksi hingga di bawah USD10.000 per ton. 

Langkah strategis ini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) global, tetapi juga membuktikan keberhasilan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) dalam mengolah bijih nikel kadar rendah yang sebelumnya tidak terpakai menjadi material bernilai tinggi.

Chairman and Founder GEM Group, Prof. Xu Kai Hua, menegaskan penggunaan teknologi hidrometalurgi terbaru memungkinkan pemulihan logam seperti nikel dan kobalt secara maksimal dan ekonomis.

“Dulu bijih laterit kadar rendah di Indonesia banyak yang tidak dimanfaatkan. Sekarang kami bisa mengolahnya, sekaligus memulihkan nikel dan kobalt dengan tingkat recovery lebih dari 90%,” ujarnya dalam keterangan, Senin (30/3/2026).

Pengembangan teknologi ini diiringi pembangunan fasilitas terintegrasi, mulai dari pengolahan bijih hingga produksi nikel sulfat dan prekursor baterai, komponen penting dalam rantai pasok kendaraan listrik global. Langkah ini memperkuat posisi Indonesia dalam industri hilir nikel dan menandai pergeseran dari pemasok bahan mentah menjadi bagian strategis dalam rantai pasok energi baru global.

Ketajaman operasional ini tercermin dari nilai ekspor kawasan yang menembus angka USD 2,5 miliar pada periode 2024–2025. 

Dari sisi kinerja industri, pada periode 2024–2025 kawasan tersebut mencatat nilai ekspor sekitar USD 2,5 miliar, kontribusi pajak sebesar USD 400 juta, serta menciptakan lebih dari 10.000 lapangan kerja. Angka ini menunjukkan bahwa hilirisasi tidak hanya berdampak pada struktur industri, tetapi juga pada kontribusi ekonomi secara langsung.

Selain itu, pengembangan ekosistem inovasi turut menjadi bagian dari strategi industri. GEM membangun fasilitas riset bersama di Institut Teknologi Bandung dengan nilai investasi sekitar USD 30 juta. Laboratorium ini dilengkapi lebih dari 300 perangkat dan mencakup berbagai tahapan riset, mulai dari proses metalurgi hingga evaluasi material baterai.

Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan memperkuat keterkaitan antara riset dan industri, sekaligus mempercepat pengembangan teknologi pengolahan nikel di dalam negeri. Dalam jangka panjang, sinergi ini menjadi penting untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi eksternal dan memperkuat basis inovasi nasional. (I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya