Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Pipa Gas dan Lelang WK Jadi Strategi Pemerintah Genjot Produksi Migas

Insi Nantika Jelita
05/3/2026 20:45
Pipa Gas dan Lelang WK Jadi Strategi Pemerintah Genjot Produksi Migas
Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas Kementerian ESDM Agung Kuswandono(MI/Insi Nantika Jelita)

PEMERINTAH terus mendorong peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas) melalui sejumlah langkah strategis, salah satunya dengan melelang wilayah kerja (WK) migas baru serta mempercepat pembangunan infrastruktur pipa gas

Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas Kementerian ESDM Agung Kuswandono menjelaskan, baru-baru ini pemerintah telah melelang 10 WK migas guna menarik minat investor sekaligus memastikan ketersediaan pasokan energi di masa depan. 

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan produksi migas, mengingat sumur yang telah ditemukan dan diproduksikan secara alami akan mengalami penurunan kapasitas dari waktu ke waktu.

"Tahun ini pemerintah bahkan menargetkan lebih dari 100 wilayah kerja migas akan dilelang secara bertahap," ujar Agung dalam Bincang Santai EITS Jelang Buka Puasa 2026: Potensi Besar Bisnis Asuransi Dibalik Peningkatan Produksi Migas, Jakarta, Kamis (5/3).

Upaya tersebut sejalan dengan target peningkatan lifting migas yang dicanangkan pemerintah yakni mencapai 900 ribu barel per hari pada 2029. Meski diakui bukan target yang mudah, perhitungan sementara menunjukkan capaian sekitar 800 ribu barel per hari masih cukup realistis, meskipun untuk mencapai 900 ribu barel per hari dibutuhkan upaya ekstra.

"Untuk mencapai 900 ribu barel itu masih butuh extra effort," ucapnya.

Selain membuka wilayah kerja baru, pemerintah juga menaruh perhatian besar pada aspek aksesibilitas dan infrastruktur energi. Salah satu contohnya pembangunan pipa gas sepanjang sekitar 300 kilometer dari Cirebon hingga Semarang melalui proyek Cisem. Infrastruktur ini dibangun untuk menghubungkan sumber pasokan gas dengan pusat permintaan energi, khususnya di Jawa.

Sebelum adanya pipa gas tersebut, Agung mengatakan produksi gas di Jawa Timur sebenarnya cukup tinggi. Namun karena keterbatasan permintaan dan infrastruktur penyaluran, pengembangan lapangan gas tidak berjalan optimal. Bahkan pada 2022 sempat terjadi kelebihan pasokan sekitar 100 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) di Jawa Timur yang tidak dapat disalurkan ke wilayah lain.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah akhirnya mendorong percepatan pembangunan infrastruktur dengan dukungan anggaran negara agar gas yang tersedia dapat disalurkan ke wilayah yang membutuhkan. 

"Kehadiran pipa gas ini diharapkan dapat meningkatkan penyerapan gas dari Jawa Timur sekaligus mendukung peningkatan lifting migas nasional," katanya.

Ketersediaan infrastruktur juga memberikan kepastian bagi investor. Permintaan gas di Jawa Barat, misalnya, saat ini sangat tinggi namun pasokannya terbatas. Kondisi tersebut memaksa sebagian kebutuhan industri dipenuhi melalui impor LNG yang harganya relatif lebih mahal.

Dengan adanya jaringan pipa gas, harga energi dapat menjadi lebih kompetitif sehingga mendorong pertumbuhan industri dan pada akhirnya meningkatkan penerimaan negara.

Pembangunan infrastruktur juga penting untuk mendukung pengembangan proyek migas baru, seperti di wilayah Andaman. Lapangan gas di wilayah tersebut diperkirakan memiliki kapasitas produksi hingga sekitar 300 juta standar kaki kubik per hari. 

Namun tanpa dukungan infrastruktur penyaluran, hanya sekitar 160 juta standar kaki kubik per hari yang dapat diserap oleh pasar di Aceh dan Sumatera. 

"Karena itu pemerintah mendorong percepatan pembangunan jaringan pipa agar seluruh potensi produksi dapat dimanfaatkan secara maksimal," tuturnya.

Kepastian pembangunan infrastruktur juga menjadi pertimbangan penting bagi investor sebelum mengambil keputusan investasi akhir (final investment decision/FID). Beberapa proyek bahkan telah memperoleh persetujuan rencana pengembangan (Plan of Development/POD), namun masih menunggu kepastian terkait jaringan pipa yang akan menyalurkan gas ke pasar.

Tanpa kepastian infrastruktur, investor berpotensi mengalihkan investasinya ke wilayah lain yang lebih siap. Namun ketika rencana pembangunan pipa mulai berjalan, minat investor terhadap proyek migas di Indonesia kembali meningkat.

Kondisi ini menjadi kabar positif bagi upaya peningkatan produksi migas nasional. Saat ini produksi migas nasional diperkirakan berada di kisaran 550 ribu barel per hari dari target sekitar 603 ribu barel per hari. (Ins)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya