Headline
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Kumpulan Berita DPR RI
KETIDAKPASTIAN ekonomi global yang meningkat tajam dalam dua dekade terakhir dinilai mulai menggerus kepercayaan konsumen dan menekan kelas menengah Indonesia.
ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwijaya, mengatakan indeks ketidakpastian global saat ini berada pada level tiga kali lipat dibandingkan kondisi normal dalam 20 tahun terakhir.
“Ketidakpastian mengerosi kepercayaan untuk mengeluarkan uang. Di sisi lain, kelas menengah terjepit karena terlalu banyak insentif tapi diharapkan berdiri sendiri,” ujar Enrico dalam UOB Media Editors Circle bertajuk How the Middle Class Thrives in Economic Volatility di Jakarta, Senin (2/3).
Menurutnya, pelemahan konsumsi terutama berasal dari kelompok menengah atas (mid-high), yang selama ini menjadi penggerak utama permintaan domestik.
“Yang jadi penggerus demand adalah mid-high. Penjualan mobil turun, artinya confidence turun. Padat karya sedang tergerus,” katanya.
Enrico menilai sektor manufaktur tetap menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia, terutama dalam menyerap tenaga kerja dan mendorong konsumsi. Pada periode boom komoditas sekitar 2012, industri tekstil, sepatu, dan garmen tumbuh pesat. Namun dalam satu dekade terakhir, kontribusi sektor padat karya tersebut terus menurun.
Sebaliknya, industri makanan dan minuman (F&B) meningkat kontribusinya terhadap manufaktur dari sekitar 18% menjadi 26,5%. Namun sektor ini relatif minim penyerapan tenaga kerja karena lebih banyak menggunakan mesin.
“Kalau kita balikkan demand di manufaktur, itu kuncinya. Masalahnya sekarang ada di sisi permintaan,” ujarnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap PDB Indonesia sekitar 18%-19%, tetapi pertumbuhannya cenderung moderat dalam beberapa tahun terakhir.
Di sisi lain, ia tetap optimistis Indonesia dapat menjadi ekonomi maju dan berkelanjutan pada 2035 jika mampu memperkuat manufaktur, UMKM, serta daya beli domestik.
“Kita masih punya runway panjang sekitar 10 tahun. Resilience harus dibangun dari sekarang,” kata Enrico.
Dengan kombinasi kebijakan fiskal, perlindungan industri, serta literasi keuangan masyarakat, Indonesia diharapkan mampu menghadapi ketidakpastian global sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% atau lebih.
Pemerintah mengakui adanyq tekanan terhadap kelas menengah. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menyebut jumlah kelas menengah menurun sejak pandemi.
“Jumlah kelas menengah trennya turun sejak covid-19, sekarang sekitar 17%,” ujarnya.
Namun kelompok aspiring middle class meningkat, sehingga jika digabungkan masih menjadi penopang utama konsumsi domestik. Menurutnya, sekitar 54% konsumsi rumah tangga berasal dari kelompok ini. Konsumsi rumah tangga sendiri menyumbang lebih dari separuh PDB Indonesia. BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5% pada 2024-2025, dengan konsumsi rumah tangga sebagai motor utama.
“Dengan posisi 54% konsumsi rumah tangga dan sekitar 80% berasal dari kelas menengah, kelompok ini sangat penting,” kata Susiwijono.
Sementara itu, Susiwijono menyebut pemerintah telah menyalurkan berbagai program bantuan untuk menjaga daya beli, termasuk subsidi energi, bantuan upah, serta Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Sisi demand digelontorkan semua bantuan, program magang juga dilanjutkan,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah membentuk satuan tugas untuk mengatasi serbuan impor ilegal dan mendorong substitusi impor guna melindungi industri domestik, khususnya tekstil dan produk padat karya.
Di sisi perdagangan global, pemerintah menargetkan penurunan tarif ekspor ke Uni Eropa menjadi nol persen mulai 1 Januari 2027 melalui perjanjian dagang dengan 27 negara Eropa (IEU-CEPA). Implementasi perjanjian dagang tersebut, kata Susiwijono, diharapkan mampu menggenjot industri dalam negeri yang saat ini sedang terpuruk.
"Kenapa industri tekstil, apparels pindah ke Vietnam? Karena mereka punya tarif nol. Diharapkan dengan kita sudah masuk keanggotaan, implementasi paling lambat 1 Januari 2027, tarif kita nol itu bisa mendorong," ujarnya.
Daalam kesempatan yang sama, Deposit, Wealth Management, and Training Head UOB Indonesia, Emilya Soesanto, menilai kondisi kelas menengah di Indonesia kian rawan. Survei UOB ASEAN Consumer Sentiment Study (ACSS) 2025 menunjukkan 37% kelas menengah berpenghasilan Rp6-10 juta per bulan yang mengurangi porsi pendapatannya untuk berinvestasi. Persentase ini lebih besar daripada yang menambah porsi pendapatannya untuk berinvestasi yakni hanya 24%.
Selain itu, pada kategori yang sama terdapat 22% kelas menengah yang mengurangi porsi untuk asuransi. Angka ini juga jauh lebih besar daripada yang menambah dana asuransinya yakni 11%.
"Ini bisa disebabkan oleh tekanan kebutuhan pokok. Kalau kebutuhan pokok meningkat, ruang untuk investasi dan asuransi makin kecil,” katanya.
Namun, hal sebaliknya terjadi pada kelompok mass affluent dengan pendapatan Rp10-60 juta per bulan. Persentase yang meningkatkan alokasi dana investasi mencapai 38% dibandingkan dengan yang mengurangi sana investasi sebesar 19. Ia juha menekankan pentingnya dana darurat di tengah volatilitas ekonomi. Dalam kondisi sekarang ini, kelas menengah yang berusia 17-40 tahun cenderung sudah menyadari pentingnya dana darurat.
“Dana darurat adalah dana yang disisihkan, bukan menyisakan. Ini penting dalam kondisi uncertainty tinggi.”
Menurutnya, strategi investasi yang disiplin lebih penting daripada sekadar mengikuti tren.
“Orang Indonesia sering jadi follower. Jangan hanya ikut-ikutan, harus paham risiko dan potensi return,” ujarnya.
Ia juga menilai metode investasi rutin seperti dollar cost averaging lebih efektif dibanding mencoba menebak waktu pasar. (E-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved