Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

KAI Targetkan Operasional Whoosh Dijalankan 100% Tenaga Lokal Tahun Ini

Ihfa Firdausya
25/2/2026 13:49
KAI Targetkan Operasional Whoosh Dijalankan 100% Tenaga Lokal Tahun Ini
ara penumpang bersiap menaiki kereta cepat Whoosh di Stasiun Halim, Jakarta, Rabu (05/11/2025).(MI/USMAN ISKANDAR)

PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyebut operasional Kereta Cepat Whoosh kini telah memasuki tahap pengelolaan mayoritas oleh SDM Indonesia. Sebanyak 574 personel, termasuk penguatan dari KAI Group, telah menuntaskan proses handover sebesar 80% dan menjalankan sebagian besar fungsi operasional serta perawatan secara mandiri.

“Keberhasilan ini menjadi penanda kesiapan nasional dalam mengelola transportasi berkecepatan tinggi sekaligus langkah lanjut dalam penguatan kapasitas operator dalam negeri. Ditargetkan pada tahun ini operasional Whoosh dapat dijalankan 100% oleh tenaga lokal,” kata Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba dalam keterangan yang dikutip, Rabu (25/2).

KAI memastikan transfer kompetensi berlangsung terarah. Disiplin keselamatan terjaga, serta standar operasional juga diklaim tetap konsisten.

“Penguasaan teknologi dan tata kelola modern terus berkembang seiring dengan peningkatan kualitas SDM nasional serta penyerapan tenaga kerja lokal,” ujar Anne.

Dari total 574 personel, 144 bertugas pada fungsi operasional, termasuk 66 masinis dan 31 petugas pusat kendali operasi yang mengatur perjalanan secara real time. Pada sisi perawatan sarana, 80 personel menjaga keandalan rangkaian kereta setiap hari.

Sementara 350 personel lainnya memastikan kesiapan jalur, jembatan, terowongan, sistem kelistrikan, persinyalan, dan komunikasi agar perjalanan berlangsung aman, stabil, dan tepat waktu.

Dalam fase transisi, KAI Group menugaskan 191 pegawai perbantuan yang terdiri atas 154 pegawai KAI Induk dan 37 pegawai KAI Commuter. Penempatan ini dirancang untuk memperkuat proses alih kompetensi sekaligus menjaga kesinambungan standar keselamatan dan kualitas layanan selama masa pengalihan tanggung jawab.

Proses transfer knowledge untuk masinis Whoosh juga berlangsung lebih cepat dari perencanaan awal. Jika di Tiongkok proses serupa dapat memerlukan waktu hingga tiga tahun, pada pengoperasian Whoosh tahapan tersebut diselesaikan dalam waktu sekitar 1,5 tahun. 

“Percepatan ini dimungkinkan karena para masinis merupakan masinis KAI yang telah berpengalaman mengemudikan kereta konvensional dengan jam terbang minimal 3.000 jam atau setara 100.000 kilometer perjalanan,” paparnya.

KAI menyebut tahapan ini menjadi bagian penting dalam sejarah perkeretaapian Indonesia sekaligus menegaskan kemandirian Indonesia dalam mengoperasikan kereta cepat pertama di Asia Tenggara.

Anne menyebut penyelesaian handover ini mencerminkan kematangan SDM nasional dalam mengelola layanan berteknologi tinggi.

Menurutnya, kemandirian operasional Whoosh yang telah mencapai 80% menegaskan bahwa SDM Indonesia mampu mengelola teknologi kereta cepat dengan standar yang selaras dengan operator global.

“Kompetensi dan pengalaman yang terbangun menjadi kekuatan utama dalam memastikan layanan terus berkembang secara profesional dan berdaya saing internasional, dengan target penuh 100% tenaga lokal pada tahun ini,” pungkasnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya