Headline
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNAHKAH Anda merasa dorongan kuat untuk berbelanja setelah melewati hari yang melelahkan di kantor? Atau mungkin Anda merasa "lega" sesaat setelah menekan tombol check out di aplikasi belanja online favorit Anda? Fenomena ini bukan sekadar masalah kurangnya disiplin, melainkan bukti nyata adanya hubungan mendalam antara kesehatan mental dan kondisi keuangan Anda.
Di tahun 2026, para ahli ekonomi perilaku dan psikolog mulai menekankan konsep Mental Wealth. Konsep ini menyatakan bahwa kesehatan finansial seseorang sangat bergantung pada stabilitas emosionalnya. Saldo rekening kita sering kali menjadi cerminan dari kemampuan kita dalam mengelola stres dan kecemasan sehari-hari.
Secara biologis, hubungan ini bermuara pada cara kerja otak kita. Saat kita mengalami stres kronis, otak bagian depan (prefrontal cortex) yang berfungsi untuk logika dan pengambilan keputusan cenderung melambat. Sebaliknya, sistem limbik yang mengatur emosi menjadi lebih dominan.
Dalam kondisi ini, otak mencari cara instan untuk mendapatkan Dopamin—hormon yang memberikan rasa senang dan penghargaan. Berbelanja, terutama dengan kemudahan teknologi digital saat ini, memberikan "hadiah" instan tersebut. Inilah yang menyebabkan kita merasa tenang sesaat setelah membeli barang baru, meskipun barang tersebut tidak benar-benar dibutuhkan.
Istilah Doom Spending menjadi semakin relevan di tahun 2026. Ini merujuk pada perilaku belanja impulsif yang dilakukan seseorang sebagai mekanisme pertahanan terhadap kecemasan masa depan, ketidakpastian ekonomi, atau tekanan sosial di media sosial.
Masalah utama dari doom spending adalah siklusnya yang merusak. Kesenangan belanja hanya bertahan singkat, sementara penyesalan akibat saldo yang berkurang atau tagihan kartu kredit yang membengkak justru akan memicu tingkat stres yang lebih tinggi. Ini adalah "lingkaran setan" finansial yang harus segera diputus.
Memperbaiki keuangan dimulai dengan memperbaiki pola pikir. Berikut adalah langkah konkret yang bisa Anda terapkan:
Mulailah mencatat emosi apa yang Anda rasakan sebelum memutuskan untuk belanja. Apakah Anda merasa bosan, kesepian, marah, atau merasa rendah diri setelah melihat unggahan orang lain di media sosial? Mengenali pemicu adalah 50% dari solusi.
Saat Anda menginginkan sesuatu yang bukan kebutuhan pokok, masukkan barang tersebut ke keranjang belanja tetapi jangan langsung dibayar. Berikan jeda 48 jam. Jika setelah dua hari keinginan tersebut hilang, itu membuktikan bahwa dorongan tersebut hanyalah reaksi emosional sesaat.
Dopamin tidak harus dibeli. Olahraga ringan selama 15 menit, meditasi, atau melakukan hobi kreatif seperti menggambar atau menulis dapat memberikan rasa senang yang lebih bertahan lama tanpa harus menguras kantong.
Tidak selalu. Namun, jika kebiasaan belanja mulai mengganggu fungsi hidup sehari-hari, menyebabkan utang yang tidak terkendali, atau merusak hubungan dengan orang terdekat, itu bisa menjadi sinyal adanya masalah regulasi emosi yang perlu dikonsultasikan dengan profesional atau psikolog keuangan.
Langkah pertama adalah memaafkan diri sendiri. Rasa bersalah yang berlebihan justru akan memicu stres baru yang kembali mendorong Anda untuk belanja. Alihkan energi Anda untuk membuat rencana perbaikan, seperti melakukan no-spend week atau menabung dua kali lipat dari sisa anggaran minggu depan.
Kesehatan mental dan keuangan adalah dua sisi dari koin yang sama. Dengan menjaga pikiran tetap tenang dan sadar (mindful), Anda secara otomatis sedang membangun fondasi keuangan yang lebih kokoh untuk masa depan.
(Cah/P-3)
Banyak anak muda memilih menggunakan uang untuk hal-hal yang dirasa dapat membuat mereka melupakan tekanan hidup, misalnya dengan belanja online.
Doom spending jika tidak disadari maka akan sangat berbahaya. Orang yang melakukan doom spending biasanya sedang mengalami stres, kecemasan, kebosanan, atau bahkan kesepian.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved