Headline
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNAHKAH kamu membayangkan bagaiman sih sebenarnya pengiriman ikan hias hidup dari Indonesia ke Amerika Serikat? Bisakah ikannya tetap bertahan hidup selama perjalanannya?
Apalagi data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), komoditas ikan hias mencatatkan pertumbuhan ekspor sebesar 6,57% dengan nilai ekspor perikanan nasional mencapai US$2,98 miliar pada Semester I 2025.
Ternyata batas waktu hidup ikan (Survival window) dari breeder ke tempat tujuan itu menjadi penentu utama keberhasilan transaksi internasional. Dengan durasi ketahanan oksigen yang terbatas dalam kemasan, setiap detik di jalur logistik menjadi sangat krusial.
Survival window ikan hias dalam kantong plastik kedap udara sekitar 48 jam. Waktu itu termasuk perjalanan darat dadri Bandung ke Bandara Soekarno-Hatta, proses kepabeanan, penerbangan lintas benua, hingga distribusi akhir ke akuarium penerima di Florida.
"Untuk pengiriman cepat dan bersifat mendesak, tersedia layanan International Priority Express dengan estimasi waktu hingga 48 jam ke Amerika Serikat," ujar Ida Ayu Eka Restini, Senior Manager Operations Fed Ex. Tidak hanya kecepatan, keselamatan bagi komoditas bernilai tinggi tersebut membuatnya tidak tertahan lama di titik transit.
Tapi bagaimana memastikan ikan hias tetap hidup diperjalanan? Ternyata selama pengiriman, dipasang sensor aktif. Perangkat sensor aktif FedEx SenseAware disematkan pada kargo untuk memantau kondisi lingkungan secara real-time, sehingga suhu dan keamanan komoditas sensitif tetap stabil.
Data tersebut memungkinkan tim operasional mendeteksi gangguan secara dini. Jika terjadi perubahan suhu ekstrem saat pesawat berada di wilayah beriklim dingin atau terjadi hambatan di area bea cukai, intervensi dapat dilakukan segera.
Dalam setiap kargo ikan hias, juga disematkan sistem pelayanan berbasis kecerdasan buatan (AI). Sistem ini digunakan untuk memprediksi potensi hambatan operasional. Sehingga alur perjalanan kargo sensitif tetap berada dalam jalur yang diprioritaskan.
Dengan sejumlah sistem yang dipasang pada kargo ikan hias itu, bukan berarti semuanya lancar. Terkadang ekspor ikan hias hidup terhambat pemeriksaan dokumen di perbatasan. Kesalahan pada Health Certificate atau klasifikasi HS Code dapat menyebabkan kargo tertahan di karantina, yang berarti risiko kematian massal bagi ikan. Sertifikat ini menjadi syarat mutlak bagi kargo sensitif.
Proses konvensional yang mengandalkan dokumen fisik sering kali menjadi titik lemah yang memicu keterlambatan. Implementasi Electronic Trade Documents (ETD) menjadi solusi digital untuk mempercepat alur birokrasi tanpa harus menunggu dokumen fisik tiba bersama barang.
Penggunaan Electronic Trade Documents (ETD) memungkinkan sinkronisasi data dokumen antara pengirim di Indonesia dan otoritas di Amerika Serikat terjadi lebih cepat sebelum fisik barang tiba.
Kecepatan birokrasi digital ini memungkinkan UMKM mempertahankan kualitas komoditasnya. Dengan pengiriman yang lebih efisien, risiko kematian ikan selama masa karantina atau pemeriksaan dapat ditekan secara signifikan, sehingga menjaga nilai ekonomis barang saat sampai di tangan pembeli.
Konektivitas logistik ini memungkinkan breeder lokal di Bandung untuk menjangkau pasar hobiis premium di Florida yang menuntut kualitas ikan dalam kondisi prima. Dengan standarisasi pengemasan, di mana perbandingan air dan oksigen diatur secara presisi, serta dukungan infrastruktur digital, hambatan geografis antara Jawa Barat dan Amerika Serikat dapat teratasi melalui manajemen waktu yang ketat. (Z-2)
Ikan hias mas koki jenis ranchu, oranda, dan ryukin di tempat tersebut dijual seharga Rp100 ribu hingga Rp10 juta per ekor dan dipasarkan keberbagai daerah
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved