Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
DINAMIKA inflasi pada awal 2026 perlu dilihat secara seimbang dari sisi permintaan (demand) dan penawaran (supply). Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CoRE) Indonesia Mohammad Faisal menilai, tekanan inflasi sepanjang 2025 hingga Desember lalu terutama dipicu oleh menguatnya permintaan dalam lima bulan terakhir tahun tersebut.
"Kalau kita lihat dari sisi demand, inflasi di 2025 yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya didorong oleh peningkatan permintaan, terutama pada paruh akhir tahun. Walaupun yang terlihat masih agregat, secara hipotesis peningkatan demand ini lebih banyak datang dari kelompok menengah atas," ujar Faisal saat dihubungi, Senin (2/2).
Penguatan permintaan tersebut berdampak langsung pada inflasi, terutama pada kelompok bahan makanan yang menjadi penyumbang terbesar. Secara historis, inflasi memang cenderung meningkat pada momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta Ramadan dan Lebaran. Di luar periode tersebut, tekanan inflasi biasanya mereda seiring melemahnya permintaan.
Pada Januari 2026, inflasi tercatat mengalami deflasi bulanan sebesar 0,15%. Menurut Faisal, kondisi ini merupakan pola musiman yang lazim terjadi setelah puncak konsumsi Nataru.
"Setelah tahun baru, permintaan memang cenderung melemah. Jadi deflasi di Januari ini masih bisa dipahami secara musiman," jelasnya.
Namun demikian, tekanan inflasi diperkirakan kembali meningkat mulai Februari hingga Maret 2026. Hal ini seiring dengan masuknya rangkaian momen konsumsi besar seperti Imlek, Ramadan, hingga Lebaran.
"Potensi inflasi kembali muncul cukup besar di Februari dan berlanjut di Maret yang bertepatan dengan puncak permintaan saat Lebaran. Setelah deflasi Januari, inflasi kemungkinan akan naik lagi," ucap Faisal.
Dari sisi penawaran, khususnya pangan, terdapat faktor penahan inflasi. Produksi beras diperkirakan meningkat seiring panen raya dan panen gadu yang diproyeksikan berlangsung pada Februari hingga April dengan puncak panen pada periode tersebut.
"Kenaikan demand pangan kemungkinan akan termoderasi oleh meningkatnya suplai, terutama beras, selama musim panen. Ini bisa menahan kenaikan harga beras dalam beberapa bulan ke depan," ujarnya.
Meski demikian, Faisal mengingatkan bahwa tekanan inflasi pangan tidak hanya berasal dari beras. Komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang merah yang secara historis kerap melonjak pada Ramadan dan Lebaran berpotensi kembali mendorong inflasi pada Februari dan Maret.
Selain pangan, beberapa komponen nonpangan juga diperkirakan tetap memberikan tekanan. Biaya perawatan pribadi masih menunjukkan tren inflasi yang cukup tinggi hingga Januari dan berpotensi berlanjut selama Ramadan.
Sementara itu, sektor transportasi diproyeksikan mengalami kenaikan harga pada Maret seiring meningkatnya mobilitas masyarakat saat Lebaran. Tambahan dorongan inflasi juga diperkirakan datang dari sisi permintaan akibat pencairan tunjangan hari raya (THR) yang umumnya dilakukan pada awal Maret.
"THR akan menambah daya beli dan belanja masyarakat, sehingga tekanan inflasi dari sisi demand akan semakin kuat pada bulan Maret," kata Faisal.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya langkah mitigasi dari pemerintah, terutama pada sektor pangan. Pengendalian inflasi tidak hanya berfokus pada beras, tetapi juga pada komoditas hortikultura yang kerap menjadi sumber lonjakan harga.
"Pemantauan jalur distribusi, operasi pasar, serta pengawasan harga perlu diperkuat. Peran Bulog juga semestinya ditingkatkan pada momen Ramadan dan Lebaran agar inflasi pangan bisa lebih terkendali," tandasnya. (I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved