Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

UNTR Terkoreksi akibat Isu Tambang Martabe

 Gana Buana
21/1/2026 17:40
UNTR Terkoreksi akibat Isu Tambang Martabe
UNTR terkoreksi akibat isu izin perusahaan tambang di Sumatra.(Antara)

SAHAM PT United Tractors Tbk (UNTR) sempat mengalami tekanan dan gap down dalam beberapa sesi terakhir menyusul kabar pencabutan izin operasional terhadap sejumlah perusahaan tambang akibat banjir di Sumatera. Salah satu perusahaan yang disebut terdampak adalah PT Agincourt Resources, pengelola Tambang Emas Martabe.

Praktisi bursa Saham, Elen May mensinyalir, isu tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek kinerja UNTR, terutama karena secara teknikal saham ini sebelumnya baru mencatatkan breakout yang cukup kuat. Namun, data perdagangan terbaru menunjukkan tekanan mulai mereda.

Data Perdagangan UNTR Terakhir di Bursa

Berdasarkan data perdagangan terakhir saham PT United Tractors Tbk (UNTR) di Bursa Efek Indonesia, Rabu (21/1), Media Indonesia merangkum bahwa UNTR dibuka di level Rp27.200 per saham dengan harga tertinggi Rp28.425 dan harga terendah Rp27.200.

Saham UNTR tercatat sebelumnya ditutup di level Rp31.975, dengan rata-rata harga (average) Rp27.466. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp1,27 triliun, dengan total volume perdagangan sekitar 461,89 ribu lot.

Dari sisi teknikal, pergerakan harga UNTR masih berada di atas rata-rata pergerakan jangka menengah, tercermin dari posisi harga yang bertahan di atas MA30 (sekitar Rp30.113) dan jauh di atas MA100 (sekitar Rp27.803). Hal ini mengindikasikan bahwa koreksi yang terjadi masih berada dalam fase konsolidasi sehat, bukan pembalikan tren.

Lonjakan volume yang terlihat pada grafik juga menunjukkan aktivitas transaksi yang cukup tinggi, menandakan adanya minat beli yang tetap kuat di tengah sentimen negatif terkait isu izin Tambang Martabe.

Kontribusi Tambang Emas ke UNTR Relatif Terbatas

Ellen May melalui channel pribadinya juga menyebut, dari sisi fundamental, kekhawatiran pasar dinilai kurang proporsional. Kontribusi pendapatan dari segmen tambang emas, termasuk Martabe, diperkirakan tidak mencapai 10% dari total pendapatan UNTR. Dengan demikian, gangguan operasional di Martabe tidak berdampak signifikan terhadap kinerja konsolidasi perusahaan.

Hal ini memperkuat pandangan bahwa koreksi saham UNTR lebih didorong oleh sentimen berita, bukan perubahan mendasar pada bisnis utama perseroan. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya